Momen

Ayat bacaan: Matius 10:16
====================
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

momen

Ada banyak yang akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan kita dalam pekerjaan atau dalam menghasilkan sesuatu. Banyaknya ilmu yang kita miliki, kepintaran, penguasaan terhadap bidang kita dan kemampuan tentu memegang peranan penting. Tetapi ada yang tidak kalah penting untuk kita miliki, yaitu kepekaan kita dalam membaca situasi. Saya menyebutnya dengan sebuah kata saja, momen. Tanyakan kepada fotografer bagaimana pentingnya momen dalam menangkap sebuah kejadian. Sekali momen itu dilewatkan, maka sulit bagi mereka untuk memperoleh lagi gambar yang luar biasa. Dalam hidup pun demikian. Ada banyak orang yang pintar, punya modal dan sebagainya tapi sulit untuk maju karena mereka tidak bisa menangkap momen. Mereka membuang kesempatan yang terbuka secara sia-sia, mereka terlalu lama memutuskan sesuatu sehingga momen yang tadinya hadir di depan mata pun kemudian berlalu begitu saja. Terkadang momen bisa jadi lebih penting dari segala kepintaran yang kita miliki. Saya mengenal banyak orang yang kemampuan dan ilmunya biasa-biasa saja, namun mereka sukses luar biasa karena pintar membaca situasi.

Kita seringkali gagal dalam bekerja, dalam kehidupan maupun dalam menjalankan tugas kita sesuai Amanat Agung yang telah disampaikan Yesus sesaat sebelum Dia naik ke Surga karena kita tidak peka menangkap momen. Ada banyak anak-anak Tuhan yang tahu tanggungjawabnya untuk mewartakan kabar keselamatan, tetapi sayang sekali ada banyak pula dari mereka yang tidak tahu bagaimana melakukan itu secara halus atau baik. Akibatnya mereka terjebak untuk mengikuti cara-cara dunia. Mereka memaksakan kehendak, baik dengan menjelek-jelekkan orang lain terlebih dahulu agar apa yang mereka sampaikan bisa diterima, dengan pemaksaan dan sebagainya. Dunia memang berpikir seperti itu, bahkan seringkali kita melihat mereka merasa berhak untuk menghabisi orang lain karena tidak mau mengikuti aturan mereka. Mereka merasa layak menjadi Tuhan sehingga berhak untuk menghilangkan nyawa orang lain atau menganiaya. Sadar atau tidak, banyak pula di antara anak-anak Tuhan yang berlaku kasar dan buruk meski mungkin bentuknya tidak seekstrim itu. Ada beberapa teman yang pernah bercerita bahwa mereka pernah bertemu dengan orang-orang yang bersikap seperti itu. Mereka memaksakan kehendak dan mudah marah ketika orang tidak mengikuti kemauan mereka. Begitu mudahnya menjelek-jelekkan gereja dan jemaat selain mereka dan bersikap sangat tidak simpatik. Jika itu yang dipertontonkan, bukannya menjadi garam dan terang tetapi mereka malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Jangankan membawa jiwa, dekat saja mungkin tidak ada yang mau, jengah, jengkel, risih atau malah kesal dan jijik.

Mengapa harus seperti itu? Itu sama sekali bukanlah gambaran sikap yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. Yesus mengatakan seperti ini: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16). Medan yang kita hadapi itu tidaklah mudah. Terkadang malah sangat berat. Kita harus berhadapan dengan situasi-situasi yang beresiko, dimana mungkin penolakan adalah bagian terlunak dari apa yang harus kita hadapi. Dalam posisi seperti itu bisa jadi kita bagaikan domba ditengah serigala buas. Oleh karena itulah kita diingatkan agar pintar memilih momen dan bersikap. Tetap tulus seperti merpati, bukan karena adanya agenda-agenda pribadi tetapi semata-mata agar bisa membawa keselamatan. Disamping tulus, hendak pula kita cerdik dalam melakukannya. Bukan dengan paksaan, kasar, dengan menjelek-jelekkan, atau melakukan bentuk-bentuk “hard-selling” yang membuat risih orang lain. Melakukan dengan tulus atas dasar kasih dan mengambil jalan-jalan yang baik, elegan dengan rasa hormat dan lemah lembut, itulah yang seharusnya kita pilih dalam mewartakan Injil keselamatan kepada orang lain. Kapan kita harus melakukannya, dengan cara seperti apa, itu semua merupakan hal penting. Momen, timing, itu adalah bagian dari kecerdikan dimana kita seharusnya peka. Dan ketulusan pun memegang peran penting di atasnya.

Tidak satupun firman Tuhan yang menghendaki kita untuk bersikap kasar atau memaksakan kehendak. Kasar saja tidak, apalagi sampai merugikan, melukai atau membunuh. Tidak dalam hal pekerjaan atau kehidupan, apalagi dalam menyebarkan berita Kerajaan. Kita justru diingatkan untuk memiliki hati yang lemah lembut. Lihatlah ayat berikut ini. “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:12-14). Ini sikap yang seharusnya ada pada kita dalam menjalani kehidupan kita termasuk didalamnya untuk menjalankan tugas sesuai dengan Amanat Agung. Biar bagaimanapun, ingatlah dua hukum yang terutama seperti yang dikatakan Yesus dimana didalamnya tercakup seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu…Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37,39). Ingatlah bahwa kasih yang sesungguhnya yang sesuai dengan Kerajaan Allah adalah seperti ini: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain..” (1 Korintus 13:4-5). Tidak ada tempat untuk kasar, tidak sopan, bersikap negatif, menjelek-jelekkan atau memaksa dan sebagainya dalam kasih. Dan di saat kita berjalan dengan dasar kasih, maka kita pun seharusnya melakukan semuanya dengan sikap-sikap seperti yang dijelaskan dalam ayat tersebut.

Bersikap tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular, itu yang seharusnya kita lakukan, dan keduanya harus pula berjalan beriringan. Cerdik tapi tidak tulus itu tidak baik, sebaliknya tulus tapi tidak cerdik pun tidaklah baik pula. Petrus mengatakan “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1 Petrus 3:15-16). Lemah lembut, hormat dan dengan hati nurani yang murni, itulah yang harus menjadi dasar dalam hati kita dalam mewartakan berita keselamatan ini. Dalam kesempatan lain Paulus menyampaikan hal yang sama. “sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran.” (2 Timotius 2:24-25). Oleh karena itu kita harus pintar menangkap momen, membaca situasi atau memilih waktu. Pilihlah jalan-jalan yang bijaksana dengan dasar kasih sehingga kita bisa menjamah hati orang lain untuk mengenal Yesus dengan cara-cara yang elegan.

Mewartakan kabar keselamatan itu penting, tapi lebih penting lagi untuk melakukannya dengan baik dan tepat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: