“Molly’s Game”, Ketika Matahati Silau Duit dan Ternyata tak Menjamin Bahagia

Permainan poker gelap yang menjadikan Molly Bloom kaya raya sebagaimana tersaji dalam film “Molly Bloom”. (Ist)

DUIT memanglah tak kenal ‘agama’. Siapa pun bisa terlena dan terbuai oleh duit, ketika uang bergelimang jatuh ke tangannya dengan amat mudah.


Tak terkecuali, hal itu juga telah ‘menimpa’ Molly Bloom (Jessica Chastain), gadis berumur 26 tahun yang memilih tak mau meneruskan kuliahnya, melainkan lebih suka ‘ngendon’ di belakang meja mengawasi para penjudi kakap bermain poker.


Dari hasil menerima persenan dari pemain judi  kelas kakap inilah, Molly bisa menangguk duit banyak dan hal itu kemudian malah membutakannya.


“Korban” ambisi ayah


Sejatinya, sejak awal Molly adalah pribadi yang ‘baik’. Namun sejak kecil itu pula, ia sudah dijadikan ‘korban’ ambisi ayahnya yang bernama Larry Bloom, seorang profesor psikologi klinis.


Molly Bloom menjadi kaya rasa karena permainan poker yang dia gelar.

Di tangan ayahnya, Molly ‘diperas’ habis agar di kemudian hari menjadi bintang ski kelas dunia, bisa mengikuti jejak saudara kandungnya yang juga berjaya di panggung ski bebas.


Baru di akhir cerita menjadi jelas, bahwa ambisi Larry Bloom selalu  ‘memeras’ keras anak kandungnya sendiri itu tak lebih dari sebuah ‘kamuflase batin’ untuk menekan anaknya menghilangkan memori ‘buruk’ atas dirinya. Sewaktu masih kecil, tanpa sengaja Molly memergoki ayahnya menggamit perempuan lain sebagai WIL dalam hidupnya, selain ibu kandung Molly.


Mencari solusi batin


Jengah karena terus ‘diperkosa’ secara batin oleh ayahnya agar mampu mengejar prestasi setinggi mungkin, Molly membiarkan dirinya ‘lepas bebas’. Saat ia pergi meninggalkan kota kelahirannya dan memulai hidup baru di Los Angeles, ‘jalan layang’ menuju kebebasan itu terbuka lebar baginya.


Ia memilih cabut dulu dari urusan kuliah dan bekerja kecil-kecilan untuk sekedar hidup. Poker akhirnya mengantarkannya pada peluang bisa  meraup keuntungan dengan cepat.


Dari Dean itulah Molly mulai  belajar banyak bagaimana bisa menggamit para penjudi kelas kakap menjadi kliennya di meja poker.


Klien pokernya datang dari para penjudi kelas kakap. (Ist)

Singkat cerita, Molly pun jadi kaya raya meski akhirnya hubungan kerja dengan Dean putus di tengah jalan. Tapi itu tak apalah, karena kepiawaian Molly mendesain ‘acara’ berjudi poker  sudah makin teruji sukses ketika ia mampu ‘menyulap’ ruangan suite sebuah hotel mewah menjadi ruang judi gelap.


Dari semua klien-nya yang kelas kakap itulah, Molly tampil diri sebagai ‘pedagang  jasa’ sukses yang membuat para penjudi kakap merasa aman bermain poker. Namun, besaran uang di tangan itu ternyata tak pernah sukses membawa Molly di ujung kebahagiaan batin. Terlebih ketika salah satu klien-nya mulai menuduhnya telah bermain  curang dan kemudian meninggalkannya. Pun pula, kelompok mafia yang kemudian memerasnya lantaran ‘penawaran’ bekerjasama dia tolak mentah-mentah.


Di ujung kegelisahan dan ketika telah memindahkan bisnisnya di New York, Molly dipertemukan dengan  Charlie Jaffrey (Idris Elba), pengacara kelas kakap dengan ongkos jasa konsultasi tak kurang 250 ribu dolar sekali datang.


Uang bukan jaminan bahagia


Pada titik persinggungan inilah, jatidiri Molly mulai terkuak lebar.


Uang tak menjamin hidupnya bahagia. Sebaliknya, hatinya selalu dirundung oleh kegelisahan. Perasaan tak menentu ini semakin membuat hidup Molly ‘kelimpungan’ oleh ketidakpastian, apalagi setelah ia diburu FBI dan kemudian berurusan hukum dengan pemerintah.


Di sela-sela percakapan pribadi dengan Charlie dan kemudian dengan Larry, ayah kandungnya, menjadi jelas bagi Molly bahwa memilik banyak  uang itu bukan jaminan bisa hidup bahagia. Ia mengaku bahagia, ketika ia berhasil lolos dari jeratan hukum dan kemudian menjadi ‘perempuan biasa’ sembari menjalani sanksi probasi wajib dan membayar denda kepada pemerintah dengan jumlah yang jauh lebih sedikit daripada yang sebelumnya dia perkirakan.


Film Molly’s Game ini hasil besutan pertama sutradara Aaron Sorkin dan muncul di pasaran tahun 2017.  Sebagai tontonan, film ini tidak menarik karena memakai model cerita “pelaku berkisah’ tentang dirinya sendiri dari awal hingga akhir. Sangat membosankan dan penonton bisa dibuat jenuh dengan ragam bahasa slang yang amat jamak di dunia permainan poker.


Film “Molly’s Game dengan bintang utama Jessica Chastain.

Hal menarik di film ini baru terjadi setelah durasi melewati 60 persen, ketika Molly bersaksi diri bahwa uang itu tidak membuatnya bahagia. “Banyak hal di dalam hati tak bisa diungkapkan dan itulah yang membuat hidupnya ‘kosong’,” begitu kurang lebih ungkapan hatinya.


Sudah pasti, film Molly’s Game ini susah dicerna. Namun, film ini menjadi menarik, ketika penonotn mampu melihat garis merah perjuangan batin Molly dalam merengkuh kebahagiaan.  Dan itu terjadi ketika ia mulai  ‘menjadi orang biasa’ saja.


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: