Miskin di Hadapan Tuhan

Ayat Bacaan: Matius 5:3
===================

Sudah terlalu sering kita mendengar kalimat “money can’t buy happiness“. Dalam perjalanan hidup saya, saya banyak menjumpai kehancuran dan keretakan rumah tangga, justru ketika kemakmuran mencapai puncaknya. Selidik punya selidik, ketika uang tidak lagi menjadi problem, manusia cenderung mempergunakan uang tersebut untuk hal2 yang mendatangkan dosa. Mungkin, kalau kita jujur, banyak dari kita yang meluangkan waktu untuk berdoa lebih banyak ketika kita ditimpa masalah, daripada saat kita mendapat berkat dan menikmati kelimpahan. Ada banyak orang kaya dan pintar, rasa2nya mereka tidak mungkin kekurangan apapun, tetapi batinnya menderita dan tidak bahagia. Disisi lain, ada banyak orang miskin dan hidup pas2an, tetapi jiwa mereka dipenuhi suka cita. Tapi apakah semua orang kaya pasti menderita, dan orang miskin pasti bahagia? ngga juga kan? Saya lalu sampai pada satu asumsi, bahwa apapun yg kita usahakan itu tidak akan bisa mendatangkan kebahagiaan yang sebenarnya, karena kebahagiaan sejati itu hanya ada didalam mereka yg hidup didalam Tuhan. Artinya, kaya atau miskin, selama ada Roh Allah menyala didalam hidup kita, kita akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dan kedamaian yang abadi.

Injil Mat 5 ini bercerita tentang pengajaran Yesus kepada murid2nya, diatas bukit mengenai kendaraan menuju bahagia. Orang yang miskin ini disebutkan paling awal bukan tanpa sebab. Kemiskinan disini, bukan diartikan kepada hal materil, tetapi lebih kepada rohani. Dalam artian, apabila kita tetap merasa “miskin” dan ingin memperoleh lebih banyak lagi kekayaan rohani, kita akan senantiasa mencari Tuhan. Miskin, yang diartikan sebagai rasa rendah hati, tidak berlebihan dan selalu haus akan Tuhan.

Di dalam injil disebutkan bahwa Yesus mengajarkan kepada murid2Nya di ATAS bukit.. ini berbicara mengenai suatu level tertentu, dimana kita bisa menikmati berbagai berkat yang dicurahkan dari atas, tentunya dengan 9 syarat yang selanjutnya disebutkan Yesus Kristus satu persatu.

Pertanyaannya sekarang, apabila Anda diberkati secara berlimpah, sanggupkah Anda untuk tetap hidup “miskin” dan mencari lebih lagi kekayaan rohani dari Tuhan? dan pertanyaan lain, apabila Anda belum mampu hidup layak, sanggupkah Anda untuk tetap bersyukur dan mencari Tuhan? Ingat, Tuhan selalu mencukupi tepat pada waktunya, asal kita melakukan kewajiban kita.Jadi poin nya disini adalah, kaya atau miskin, selama kita hidup dalam Tuhan, dan berusaha terus naik hingga suatu level tertentu seperti diatas bukit, berbagai mukjizat, berkat, dan malah kunci kerajaan surga, semua itu bukan hal mustahil bagi kita.

Kemiskinan membuat kita semakin giat berusaha, lakukan itu buat Tuhan, dan biarkan Dia bekerja dalam hidup kita.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment