Misa 1 Sura di Gereja Paroki St. Petrus Pekalongan

misa sura paroki pekalongan 2JUMAT  petang , tanggal 24 Oktober 2014, pukul 18.00 WIB, umat Gereja St. Petrus Pekalongan mengadakan perayaaan Ekaristi 1 Sura 1948 yang dihadiri oleh umat dari paroki maupun stasi. Perayaan Ekaristi 1 Sura 1948 merenungkan tema “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti”. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Romo MB Sheko Swandi Marlindo didampingi oleh Romo M. […]

misa sura paroki pekalongan 2

JUMAT  petang , tanggal 24 Oktober 2014, pukul 18.00 WIB, umat Gereja St. Petrus Pekalongan mengadakan perayaaan Ekaristi 1 Sura 1948 yang dihadiri oleh umat dari paroki maupun stasi. Perayaan Ekaristi 1 Sura 1948 merenungkan tema “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti”.

Perayaan ekaristi dipimpin oleh Romo MB Sheko Swandi Marlindo didampingi oleh Romo M. Maryoto dan saya – Romo A. Tri Kusuma. Kesederhanaan dan kekhasan ekaristi 1 Sura ditunjukkan melalui busana imam dan petugas liturgi bahkan umat yakni berbusana Jawa. Selain busana, umat merayakannya dengan memakai bahasa Jawa dan iringan gamelan serta koor dari Lingkungan Agustinus.

Perarakan pembuka diawali dengan seorang tokoh pewayangan “Anoman” yang membuka jalan bagi para petugas liturgi saat memasuki ruangan. Tokoh Anoman diperankan oleh Pak Murwat. Di belakangnya para misdinar dan petugas liturgi berjalan pelan diiringi lagu pembuka.

Ke-mistik-an ekaristi 1 Sura sungguh bisa dirasakan sore hari ini. Asap pendupaan dari tungku sesaji mengepul tebal menyisakan keharuman yang memenuhi seisi gereja. Sesajian hasil bumi yang tertata rapi di depan altar kaya akan simbol yang hendak mengungkapkan aneka makna yang berguna bagi kehidupan manusia.

Tahun suci

Romo MB Sheko Swandi Marlindo mengantar ekaristi dengan mengajak umat untuk turut serta merayakan Tahun Baru Jawa dalam ekaristi. Umat diingatkan bahwa saat ini kita memasuki 1 Sura 1948 Tahun Ehe. Tahun Sura merupakan tahun yang suci yang menjadi sarana bagi kita untuk menghormati Allah dengan bersyukur dan senantiasa berharap kepada-Nya. (Baca juga:  Renungan Pagi: Tanggal 1 Suro)

Dalam homili, Romo MB Sheko Swandi Marlindo mengajak umat untuk merenungkan tema “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti”. Di tengah homili, Rama mengajak salah satu umat, Pak Murwat untuk menyanyikan tembang Jawa Sekar Kinanthi. (Baca juga: Renungan 1 Sura 1948 Ehe : “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti”)

Perayaan ekaristi 1 Sura 1948 dihadiri oleh banyak umat. Mereka antusias mengikuti perayaan ekaristi ini sebagai salah satu cara nguri-nguri kebudayaan Jawa yang tumbuh dan berkembang di Paroki St. Petrus Pekalongan ini.

Sesudah perayaan ekaristi, panitia 1 Sura 1948 melanjutkan acara bersama umat. Acara ini diberi judul “Togog Monolog dan Sarasehan”. Acara ini berlangsung di parkiran gereja.

misa sura paroki pekalongan 1

Misa 1 Sura di Paroki St. Petrus Pekalongan: Misa khusus merayakan Tahun Baru jawa tanggal 1 Sura digelar di Gereja Santo Petrus Pekalongan, Keuskupan Purwokerto, hari Jumat (24/10) petang menjelang malam tirakatan 1 Sura. Misa tripria dilaksanakan oleh Romo MB Sweko (belakang), Romo Maryoto (kanan) dan Romo Trikusuma (kiri) dengan busana Jawa. (Dok. Paroki Santo Petrus Pekalongan)

Umat yang hadir kurang lebih ada 125 orang. Acara dibuka dengan monolog oleh Pak Subiyanto dengan menampilkan pagelaran wayang ringkes. Acara ini melibatkan beberapa anak SMA Bernardus untuk mengiringi monolog dengan iringan musik Jawa.

Togog Ngudarasa ditampilkan oleh Pak Murwat dengan gayanya yang apik dan kocak membuat penonton terkadang tergelak tawa mendengar apa yang diceritakannya. Seusai monolog, umat diajak menggali lebih jauh makna Sura dalam tradisi Jawa yang dibawakan oleh seorang ibu dari Ambarawa, Ibu Widyastuti atau Ibu Widi, demikian kebanyakan orang memanggilnya.

Beliau adalah seorangKatolik yang aktif menggeluti tradisi Jawa sebagai bagian hidupnya. Dalam sarasehan tersebut, Ibu Widi menyampaikan tema “Sesantining Suran: Ngugemi Jatining Dhiri”.

Ia mengajak umat melihat sura sebagai tradisi sekaligus mengandung makna dalam sebagai suatu kearifan lokal yang mengarahkan umat kepada Sang Pencipta. Tidak hanya itu, Ibu Widi pun menjelaskan aneka sesaji yang digunakan dalam sura dengan makna-maknyanya yang mendalam.

Suasana sarasehan yang santai dengan nyamikan gedang, kacang (godog) dan wedang rondhe menambah gayeng suasana sarasehan. Acara selesai pukul 23.00 wib. –

Tautan:Situs resmi Paroki Santo Petrus Pekalongan, Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah:  www.stpetruspekalongan.org

Kredit foto: Dok. Situs Paroki St. Petrus Pekalongan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply