Mirip Selebriti

John Voight dan Angelina Jolie by ist“Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.” (Ibr 2, 17) DAHULU sekali, beberapa orang mengatakan bahwa saya mirip dengan aktor film Cok Simbara. Saya sendiri tidak tahu, apanya yang mirip atau sama. Orang lain lain pernah mengira bahwa saya adalah tukang kredit, karena memakai kaos oblong, celana jeans dan nyangklong tas. Ketika berhenti di daerah Dieng, seorang petani menawarkan sayuran dan kentang yang baru saja dipanennya. Ia mengira bahwa saya juragan sayuran, karena memakai topi, kacamata hitam, jaketan kulit dan sepatu. Akhir-akhir ini beberapa orang bilang bahwa saya mirip dengan Pak Ganjar Pranowo; paling tidak rambutnya sama putihnya. Kalau mengingat peristiwa-peristiwa itu, saya sering tersenyum dan bertanya-tanya, “Betulkah ada kesamaan antara saya dengan orang-orang itu?” Apa yang saya alami pasti juga dialami oleh orang lain, yakni bahwa mereka pernah disamakan atau dikatakan mirip dengan orang lain. Ada orang yang menolak atau menyangkal kesamaan atau kemiripan itu, dengan alasan bahwa setiap pribadi adalah unik dan khas. Tidak ada orang yang sama persis dengan orang lain. Namun ada pula orang yang mengamini dan mengangguk-angguk kalau dikatakan bahwa dirinya mirip atau sama dengan orang lain. Sekalipun kesamaan tersebut tidak menyeluruh, tetapi hanya sebagian kecil dari dirinya. Wajar dan biasa kiranya kalau ada seseorang yang sama dengan orang lain. Dan menjadi luar biasa, kalau ada Seorang Putera Allah sama dengan manusia; bahkan Dia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Putera Allah telah menjelma menjadi manusia secara utuh. Manusia yang bisa sedih, marah, menangis, iba, dsb. Dia bisa mengalami, merasakan, mengerti dan memahami apa yang dirasakan, dialami, diharapkan oleh manusia. Kesediaan untuk menjadi sama dengan manusia tidak hanya mengungkapkan rasa solidaritas-Nya, tetapi juga merupakan jalan bagi-Nya untuk menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa. Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

John Voight dan Angelina Jolie by ist

“Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.” (Ibr 2, 17)

DAHULU sekali, beberapa orang mengatakan bahwa saya mirip dengan aktor film Cok Simbara. Saya sendiri tidak tahu, apanya yang mirip atau sama. Orang lain lain pernah mengira bahwa saya adalah tukang kredit, karena memakai kaos oblong, celana jeans dan nyangklong tas.

Ketika berhenti di daerah Dieng, seorang petani menawarkan sayuran dan kentang yang baru saja dipanennya. Ia mengira bahwa saya juragan sayuran, karena memakai topi, kacamata hitam, jaketan kulit dan sepatu.

Akhir-akhir ini beberapa orang bilang bahwa saya mirip dengan Pak Ganjar Pranowo; paling tidak rambutnya sama putihnya. Kalau mengingat peristiwa-peristiwa itu, saya sering tersenyum dan bertanya-tanya, “Betulkah ada kesamaan antara saya dengan orang-orang itu?”

Apa yang saya alami pasti juga dialami oleh orang lain, yakni bahwa mereka pernah disamakan atau dikatakan mirip dengan orang lain. Ada orang yang menolak atau menyangkal kesamaan atau kemiripan itu, dengan alasan bahwa setiap pribadi adalah unik dan khas.

Tidak ada orang yang sama persis dengan orang lain. Namun ada pula orang yang mengamini dan mengangguk-angguk kalau dikatakan bahwa dirinya mirip atau sama dengan orang lain.

Sekalipun kesamaan tersebut tidak menyeluruh, tetapi hanya sebagian kecil dari dirinya. Wajar dan biasa kiranya kalau ada seseorang yang sama dengan orang lain.

Dan menjadi luar biasa, kalau ada Seorang Putera Allah sama dengan manusia; bahkan Dia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Putera Allah telah menjelma menjadi manusia secara utuh. Manusia yang bisa sedih, marah, menangis, iba, dsb.

Dia bisa mengalami, merasakan, mengerti dan memahami apa yang dirasakan, dialami, diharapkan oleh manusia. Kesediaan untuk menjadi sama dengan manusia tidak hanya mengungkapkan rasa solidaritas-Nya, tetapi juga merupakan jalan bagi-Nya untuk menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa.

Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply