Minum Air Kendi

minum air kendi by ist

“Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, ‘Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia.’” ( Mrk 14, 13)

BEBERAPA waktu yang lalu, Presiden beserta Ibu Iriana berkunjung ke perkampungan warga Samin. Mereka disuguhi makanan umbi-umbian dan kacang rebus. Dalam kesempatan itu, Ibu Iriana mengambil sebuah kendi dan langsung menenggaknya. Peristiwa itu mengundang tepuk tangan warga Samin. Cara minum seperti itu kemudian diikuti oleh Presiden, Pak Ganjar dan beberapa warga lain. Cara minum seperti itu rupanya masih khas dilakukan oleh warga Samin.

Kendi sebetulnya bukan merupakan barang asing bagi masyarakat. Bahkan banyak negara dan suku bangsa telah mengenal dan mempergunakan kendi, dengan sebutan atau nama yang berbeda-beda. Bentuk kendi ada bermacam-macam. Kendi juga bisa dipergunakan untuk berbagai macam keperluan. Salah satu fungsi kendi adalah untuk menyimpan air minum.

Zaman dulu banyak orang menyimpan air minum dalam kendi dan bukan dalam termos atau botol plastik. Banyak orang mengatakan bahwa air minum dalam kendi terasa lebih segar, dibandingkan dengan air minum yang dikemas dalam botol plastik. Kesegaran air kendi tidak kalah dengan segarnya air yang ditaruh dalam kulkas. Kendi tidak hanya menjadi tempat air minum bagi anggota keluarga, tetapi juga disediakan bagi para pengembara atau pejalan kaki.

Maka kendi pun sering ditaruh dalam sebuah tempat di depan atau halaman rumah. Setiap orang bisa mampir dan minum air dari kendi tersebut secara langsung, tanpa menggunakan gelas. Kebiasaan seperti ini mengungkapkan sikap keterbukaan dan keramahan di dalam kehidupan bersama. Juga ungkapan sikap persaudaraan sejati terhadap setiap orang.

Hal seperti ini rupanya sudah tidak nampak lagi dalam rumah-rumah pada zaman ini. Banyak rumah yang tertutup dan berpagar tinggi. Orang yang masuk ke halaman sebuah rumah pun sering dicurigai dan diawasi.

Keterbukaan telah berubah menjadi ketertutupan; keramahan telah berubah menjadi kecurigaan; persaudaraan sejati telah dikaburkan oleh kenyamanan diri sendiri. Yesus tidak hanya menunjukkan seseorang yang membawa kendi berisi air yang bisa dinikmati banyak orang. Diri-Nya sendiri juga diserahkan kepada para murid, agar mereka mengalami kesatuan dengan-Nya. “Ambilah, inilah tubuh-Ku! Minumlah, inilah darah-Ku!” Diri-Nya diambil, dipecah-pecah dan dibagi agar banyak orang bisa masuk ke dalam kehidupan kekal.

Teman-teman selamat petang dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ist

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply