Minggu Prapaska II

Mg Prapaska II: Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18; Rm 8:31b-34; Mrk 9:2-10
“Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."

Masa Prapaska/Tobat/Retret Agung Umat antara lain untuk mempersiapkan diri menyambut puncak iman kita,  yaitu wafat dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, dengan harapan agar kita sungguh setia pada iman kita kepada Yesus yang telah wafat dan bangkit dari mati. Beriman kepada wafat dan kebangkitanNya memang antara lain berarti kita harus setia menghayati kata-kata ketika menerima abu di hari Rabu Abu, yaitu suatu seruan “Bertobatlah dan percayalah pada Injil”. Bertobat berarti meninggalkan cara hidup dan cara bertindak yang tidak baik, tak bermoral atau tidak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, sedangkan percaya kepada Injil berarti senantiasa melaksanakan atau menghayati kehendak atau sabda-sabda Tuhan, antara lain tertulis di dalam Kitab Suci. Bukankah kita sampai kini masih mempersoalkan hal itu, entah itu berarti menanyakan apakah saya sudah sungguh bertobat dan percaya pada Tuhan atau saya senantiasa berusaha untuk bertobat dan percaya pada Tuhan. Marilah kita hayati masa Prapaska/ Tobat/Retret Agung Umat mawas diri dengan sungguh-sungguh seruan “Bertobatlah dan percayalah pada Injil”
"Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7)
Kutipan di atas ini adalah sabda Tuhan Allah kepada para rasul, ketika mereka menyaksikan kemuliaan Yesus di bukit Tabor. Pengalaman yang mempesona bagi para rasul, sehingga mereka berniat membuat sesuatu yang indah, yaitu kemah bagi Yesus dan para nabi. Pengalaman yang demikian itu kiranya juga terjadi dalam diri kita masing-masing ketika dalam keadaan damai, gembira dan ceria, misalnya selesai retret atau rekoleksi, baru saja mengikrarkan kaul, saling berjanji menjadi suami-isteri, diterima sebagai pegawai atau siswa/mahasiswa baru, dst.., dan dalam pengalaman yang demikian itu kita juga menjanjikan sesuatu yang luhur, mulia, indah dan baik. Maka marilah kita mawas diri apakah kita setia melaksanakan apa yang kita janjikan tersebut atau setia ‘mendengarkan sabda Tuhan dan menghayatinya di dalam cara hidup dan cara bertindak’ setiap hari dimana pun dan kapan pun.

“Dengarkanlah Dia”, demikian sabda Tuhan Allah. Mendengarkan merupakan salah satu keutamaan penting di dalam kehidupan kita, apa yang kita dengarkan sangat dominan membentuk dan membina kepribadian kita. Selama masa Tobat atau Retret Agung Umat ini marilah kita berusaha, entah secara pribadi atau bersama-sama, untuk membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau dengan sungguh-sungguh merenungkan teks-teks kitab suci yang setiap hari saya angkat. Sebagaimana telah saya angkat, alangkah indahnya jika selama masa Tobat atau Retret Agung Umat kita juga membaca dan meresapkan kembali apa-apa yang tertulis di dalam Konstitusi, Pedoman Hidup, Anggaran Dasar, Undang-Undang, Peraturan dst.. seraya melihat diri sendiri apakah cara hidup dan cara bertindak kita telah sesuai dengan apa yang digariskan dalam dokumen-dokumen tersebut.

Setia menghayati atau melaksanakan aneka aturan atau tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, memang tak akan terlepas dari aneka penderitaan, tantangan, hambatan atau masalah. Penderitaan, tantangan, hambatan atau masalah yang lahir dari kesetiaan kita merupakan jalan ke arah atau menuju ke keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka hendaknya jangan dihindari melainkan  hadapi dengan rendah hati dan kerja keras bersama dengan bantuan rahmat Tuhan. Kita dapat bercermin atau belajar dari dunia pewayangan, misalnya kelima bersaudara dari Pandowo: Puntodewa, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa, yang dikenal jujur, baik, berbudi pekerti luhur, ketika menghadapi cobaan-cobaan berat mereka tetap setia sebagai orang-orang yang jujur, baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga enaka cobaan dan penderitaan yang mereka alami merupakan penggemblengan pribadi mereka untuk tumbuh berkembang menjadi ksatria-kesatria yang unggul dan handal serta berbudi pekerti luhur.
“Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” = Semua hambatan atau masalah dapat diatasi atau diselesaikan, untuk mencapai pemenuhan suatu cita-cita, demikian kata sebuah peribahasa Jawa. Kita semua memiliki cita-cita luhur dan mulia, yaitu keselamatan dan kebahagiaan jiwa kini dan selamanya, maka marilah dengan penuh keteguhan hati dan kepercayaan kita selesaikan aneka masalah dan hambatan yang ada di depan kita. “Selama kita memiliki kemauan, keuletan dan keteguhan hati, besi batangan pun bila digosok terus-menerus pasti akan menjadi sebatang jarum….Milikilah keteguhan hati”, demikian salah satu motto bapak Andrie Wongso, promotor terkenal di Indonesia.

“Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita” (Rm 8:33-34).
Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Roma di atas ini kiranya baik kita renungkan dan hayati. Masing-masing dari kita adalah orang-orang pilihan Allah (ingat, sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah salah satu dari jutaan sperma yang telah terpilih oleh Allah untuk bersatu dengan sel telor, sehingga menjadi manusia sebagaimana adanya saat ini). Maka hendaknya sebagai yang telah terpilih oleh Allah sungguh-sungguh menghayati diri sebagai milik Allah dan mau tak mau harus hidup dan bertindak bersama dan bersatu dengan Allah dimana pun dan kapan pun. Jika kita sungguh bersama dan bersatu dengan Allah maka tak akan ada seorangpun yang mampu menggugat diri kita alias menjatuhkan dan merusak jati diri kita sebagai pilihan Allah, orang yang senantiasa hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur.
Allah akan menjadi Pembela kita jika kita harus menghadapi aneka ancaman, tantangan, masalah maupun hambatan. Jika Allah menjadi Pembela kita maka tak akan ada seorang sepandai atau secerdik apapun mampu mengalahkan kita. Bersama dan bersatu dengan Allah kita senantiasa akan menemukan jawaban atau tanggapan yang jitu, benar dan handal dalam rangka menghadapi aneka serangan, pertanyaan maupun tekanan yang akan memojokkan dan menyingkirkan kita, sehingga kita tetap berada dalam kebersamaan dan persatuan dengan Allah alias tetap tegar, segar dan sehat wal’afiat secara lahir maupun batin, jasmani maupun rohani.
"Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri — demikianlah firman TUHAN –: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” (Kej 22:16-18), demikian sabda Tuhan Allah kepada Abraham yang taat dan setia kepadaNya. Barangsiapa setia pada panggilan atau tugas pengutusan akan menerima berkat Allah berlimpah-limpah, itulah keyakinan iman kita yang benar. Jika sebagai pelajar atau mahasiswa kita setia belajar setiap hari, kata berkat Tuhan Allah berlimpah-limpah pada diri anda, karena kesuksesan atau keberhasilan dalam belajar, hal yang sama juga akan terjadi pada diri pekerja yang setia melaksanakan tugas pekerjaannya, bagi suami-isteri yang setia saling mengasihi baik dalam untung maupun malang sampai mati, bagi para anggota lembaha hidup bakti yang sungguh membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, bagi para imam yang sungguh menjadi penyalur rahmat Tuhan dan doa umat, dst.. Marilah kita tingkatkan dan perdalam kesetiaan kita. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1994, hal 24).
“Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku! Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya” (Mzm 116:15-18)
Ign 4 Maret 2012
 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: