Minggu Prapaska I

Mg Prapaskah I : Kej 9:8-25; 1Petr 3:18-22; Mrk 1:12-15 “Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun” Padang gurun di daerah Timur Tengah membentang sangat luas, dan ketika berada di tengah padang gurun apa yang dapat dilihat adalah pasir da…

Mg Prapaskah I : Kej 9:8-25; 1Petr 3:18-22; Mrk 1:12-15

“Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun”

Padang gurun di daerah Timur Tengah membentang sangat luas, dan ketika berada di tengah padang gurun apa yang dapat dilihat adalah pasir dan debu, serta sejauh mata dapat memandang: ke atas kelihatan langit luas dan di dataran tiada tanaman atau pohon serta tidak kelihatan lalu lalang orang maupun kendaraan. Dengan kata lain pergi ke padang gurun berarti pergi ke tempat sunyi sepi, dan di dalam kesepian yang memuncak tersebut orang dapat melakukan apapun menurut kemauan atau keinginan sendiri. Di dalam kesepian pada umumnya muncul dorongan dan godaan yang berasal dari Roh atau setan alias untuk melakukan apa yang baik atau yang jahat. Namun siapapun yang memasuki padang guru didorong dan dipimpin oleh Roh tentu memiliki tujuan atau cita-cita yang baik, mulia dan luhur. Memasuki masa Prapaskah atau Puasa hemat saya juga bagaikan memasuki padang gurun, maka kami berharap anda semua memasuki masa Prapaskah ini juga didorong dan dipimpin oleh Roh, sehingga apa yang kita lakukan selama masa Prapaskah adalah apa-apa yang menuntun dan mengarahkan kita menuju keselamatan jiwa kita. Marilah meneladan Yesus yang memasuki padang gurun dalam pimpinan Roh agar kita juga mampu mengatasi aneka godaan dan rayuan setan atau roh jahat dalam hidup dan kerja kita sehari-hari.

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia” (Mrk 1:12-13)

Situasi masyarakat atau Negara kita masa kini kiranya bagaikan padang gurung, dimana aneka cobaan atau godaan dari Iblis atau setan merajalela di sana-sini di dalam hidup sehari-hari, lebih-lebih di kota-kota besar atau mereka yang berada, hidup dan bekerja dalam peredaran uang. Godaan Iblis yang paling kentara dan mudah memang melalui uang, karena dengan uang orang lalu dapat melakukan apapun sesuai dengan kemauan atau keinginan diri sendiri, entah itu yang terkait dengan kenikmatan phisik, psikologis, social atau emosional: makanan dan minuman, seks, aneka jenis narkoba, aneka jenis barang mewah, dst..yang mendorong orang untuk egois atau puas diri maupun sombong atau melecehkan orang lain. Orang yang sudah dikuasai oleh Iblis kehilangan jati dirinya sebagai yang ber-Tuhan atau tidak menghayati kasih Allah lagi. Jati dirinya terletak kepada tindakan mampu membeli dan menguasai, bukan melayani, memberi dan bermurah hati sebagaimana Allah telah bermurah hati kepada kita.

Memasuki atau hidup di tengah masyarakat dijiwai oleh Roh berarti hidup dan bertindak menghayati keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Kemurahan atau bermurah hati kiranya merupakan salah satu keutamaan yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini mengingat dan memperhatikan semangat egois alias kekurang pekaan terhadap orang lain semakin merajalela dan menjangkiti banyak orang. Murah hati secara harafiah berarti hatinya dijual murah sehingga siapapun dapat membeli hatiku, dengan kata lain bermurah hati berarti berusaha memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu. Salah satu bentuk perhatian yang sungguh dibutuhkan masa kini adalah kehadiran, dimana orang memboroskan waktu dan tenaga bagi orang lain, yang dihadiri.

Di samping murah hati adalah kelemah-lembutan, mengingat dan memperhatikan aneka bentuk kekerasan yang mengarah ke tawuran, saling merusak dan membunuh dst..semakin marak di sana-sini, lebih-lebih atau terutama di kota-kota besar. Untuk mendukung kebutuhan hidup layak orang bekerja keras, namun sungguh sayang kekerasan tidak berhenti pada kerja, tetapi melebar dan meluas dalam kehidupan bersama, bahkan dalam hidup bersama yang paling mendasar, yaitu hidup berkeluarga. Orang mau jalan sendiri-sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, dan ketika ada orang lain yang mengahanginya kemudian dihadapi dengan kekerasan atau kekuatan phisik. Kekerasan sebagaimana sering dilakukan FPI ternyata juga menarik dan memikat cukup banyak orang muda untuk bergabung, artinya menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan phisik. Kekerasan dilawan kekerasan akan terjadi saling menghancurkan dan membunuh, maka hendaknya hadapi dan sikapi kekerasan dengan kelemah-lembutan. Sikap lemah lembut kiranya merupakan pengahayatan iman akan Allah yang senantiasa lemah lembut tcrhadap manusia ciptaanNya. Sikap lemah lembut juga merupakan perwujudan sikap hormat terhadap orang lain, yaitu “sikap dan perilaku yang menghargai orang lain, siapa pun dia tanpa memandang kedudukan, kekayaan dan kekuasaannya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 25).

Kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan — maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah — oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.” (1Ptr 3:21-22).

Kita diingatkan bahwa selama masa Prapaskah ini kita diajak untuk membersihkan hari nurani kita, sehingga memiliki hati yang suci dan dari hati kita, sebagaimana dari Hati Kudus Yesus keluar air dan darah segar sebagai lambang sakramen-sakramen yang menyelamatkan, keluarlah apa-apa yang menyelamatkan, membahagiakan dan menghidupkan orang lain. Secara konkret kita diajak untuk mawas diri perihal baptisan, dimana ketika dibaptis kita menerima anugerah atau rahmat Allah untuk hanya mau mengabdi Allah saja serta menolak godaan setan. Hemat saya jika orang setia pada janji baptis akan memiliki hati nurani yang bersih atau suci. Marilah mawas diri perihal baptisan kita dan kelak di malam Paskah kita perbaharui bersama-sama.

"Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (Kej 9:9-11). Kutipan dari Kitab Kejadian ini kiranya dapat menjadi motivasi dan kekuatan kita dalam mawas diri perihal baptisan. Jika kita setia pada janji baptis maka kita akan hidup bahagia, mulia dan sejahtera, baik secara jasmani maupun rohani, phisik maupun spiritual. Semua ciptaan Allah di bumi akan baik adanya sebagaimana ketika ia baru diciptakan jika kita semua setia pada janji baptis kita masing-masing.

Karena keserakahan dan kesombongan manusia, maka air bah atau banjir bandang merajalela dimana-mana sebagaimana terjadi akhir-akhir ini. Karena pemanasan global suhu air laut naik, demikian juga permukaan air laut naik, sehingga menimbulkan badai disana-sini dan banjir rob di pantai-pantai. Hemat saya bencana air bah dalam aneka bentuk ini karena keserakahan manusia mengkomsumsi hasil bumi, seperti kayu, minyak, aneka jenis tambang dst..: hutan digunduli, tanah diobrak-abrik sehingga musnahlah kehidupan yang ada di dalamnya atau di atasnya. Kami berharap kepada mereka yang serakah untuk bertobat, karena dengan keserakahan anda berarti hati nurani anda sungguh busuk dan kotor serta menjijikkan. Bersihkan hati nurani anda dengan meninggalkan aneka bentuk keserakahan dan kesombongan.  Sebaliknya kepada mereka yang telah memiliki hati nurani bersih dan suci kami harapkan meningkatkan dan memperdalam doa dengan permohonan agar mereka yang kotor hati nuraninya dapat memperoleh rahmat dan kekuatan untuk membersihkannya.

Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.” (Mzm 25:4-8)

Ign 26 Februari 2012

   

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply