Minggu Paskah II – Kis 2:42-47; 1Ptr 1:3-9; Yoh 20: 19-31

Mg Paskah II (HM Kerahiman Ilahi:
Kis 2:42-47; 1Ptr 1:3-9; Yoh 20: 19-31

"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Dalam Era Reformasi yang ditandai dengan gerakan demokrasi dan hak azasi manusia masa kini, karena keterbatasan kedewasaan pribadi manusia sering berkembang menjadi aneka bentuk kekerasan dan tawuran  untuk mempertahankan pendapat atau cita-cita kelompok atau pribadi. Aneka kekerasan tidak hanya terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tetapi juga dalam hidup berkeluarga, dimana terjadi kekerasan antar suami-isteri atau orangtua terhadap anak-anaknya. Memang menurut saya aneka kekerasan yang terjadi di masyarakat merupakan pengembangan atau pendalaman kekerasan yang terjadi di dalam keluarga, maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak kita semua yang berkeluarga atau hidup berkomunitas, marilah kita jauhkan aneka bentuk kekerasan di dalam keluarga atau komunitas. Untuk itu marilah, pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi hari ini,  kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus yang telah bangkit dari mati kepada para rasul di bawah
 ini.

"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh 20:22-23) 
Para rasul menerima anugerah Roh Kudus dan diberi kuasa atau wewenang untuk mengampuni dosa orang. Kuasa atau wewenang yang demikian itu untuk masa kini juga dimiliki oleh para imam, maka dengan ini pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan imam untuk menjadi saksi kerahiman ilahi. Hendaknya para imam penuh kasih pengampunan dan belas-kasih kepada umatnya, tidak mudah marah terhadap umat, dan tentu saja di antara para imam sendiri hendaknya saling mengampuni dan berbelaskasih. Semoga kasih pengampunan yang diwartakan dan disalurkan di dalam atau melalui kamar pengakuan ketika ada umat yang mengaku dosa juga menjadi cara hidup dan cara bertindak imam di luar kamar pengakuan dosa.

Berbicara perihal kerahiman hemat saya tak boleh melupakan rekan-rekan perempuan yang memiliki rahim, dimana ketika mereka menjadi ibu di dalam rahimnya tumbuh berkembang buah kasih. Dalam dan dengan kerahiman serta kasih kiranya rekan-rekan calon ibu atau para ibu ‘mendampingi’ buah kasih yang tumbuh berkembang di dalam rahimnya. Maka kami berharap kepada rekan-rekan perempuan juga dapat menjadi saksi atau teladan dalam hal kerahiman ilahi, menjadi penyalur kerahiman  Allah kepada sesama atau saudara-saudarinya.

Bahasa Latin dari ‘kerahiman’ adalah misericordia yang dapat berarti kasihan, belas-kasih, kerahiman, kerelaan, kemurahan, kedermawanan, maka menghayati kerahiman ilahi dapat kita wujudkan dengan menghayati keutamaan-keutamaan dari arti misericordia tersebut. Mungkin yang baik kita hayati pada masa kini adalah kedermawanan, yang berarti dengan kerelaan hati dan murah hati memberi derma kepada mereka yang sungguh membutuhkan, entah berupa tenaga, waktu atau harta benda/uang. Berbagai musibah dan bencana alam pada masa kini terjadi bertubi-tubi, yang menimbulkan cukup banyak korban yang membutuhkan bantuan dari para dermawan. Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa harta benda atau uang pada dasarnya bersifat social, maka semakin memiliki harta benda atau uang hendaknya semakin social, tidak pelit. Tentu saja kami berharap kepada mereka yang terlibat atau berpartisipasi dalam aneka LSM atau berkarya di bawah naungan Departemen Sosial dapat menjadi
 teladan dan penggerak dalam hidup social atau kedermawanan. Jangan mengkomersielkan lembaga untuk korupsi atau mencari keuntungan pribadi. Sebagai manusia ciptaan Allah kita semua juga dipanggil untuk hidup social dan bersahabat satu sama lain. Maka selanjutnya marilah kita renungkan atau refleksikan sapaan Petrus di bawah ini.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”
 (1Pet 1:3-7)
Sebagai orang beriman kita semua diingatkan untuk membuktikan ‘kemurnian iman’ kita masing-masing. Emas dimurnirkan dengan api, emas murni tidak akan meleleh karena panas api yang membara. Paulus mengumpamakan iman kita bagaikan emas, maka baiklah untuk memurnikan iman kita marilah kita sungguh mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk dunia, karena sebagaimana dikatakan oleh Yakobus “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17). Jika kita sungguh mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk dunia akan kelihatan apakah iman kita sungguh tangguh, handal dan murni, karena mendunia tanpa iman akan amburadul hidupnya, semakin mendunia harus semakin beriman. Dalam seluk beluk dunia sarat dengan masalah, hambatan dan tantangan-tantangan, maka memurnikan emas berarti berani menghadapi masalah, hambatan atau tantangan yang ada., tidak melarikan diri.

Ketika iman kita murni, maka hidup bersama sebagai umat beriman akan meneladan cara hidup jemaat atau umat Perdana, yaitu ” Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis 2:42-45). Kebersamaan hidup dan kerja kita sungguh menarik, memikat dan mempesona orang lain, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat dengan kita, sebagaimana terjadi juga dalam jemaat perdana: ” mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”(Kis 2:47). Marilah dengan rendah
 hati dan bantuan rahmat Allah kita senantiasa berusaha agar cara hidup dan cara bertindak kita ‘disukai semua orang’.

“Aku ditolak dengan hebat sampai jatuh, tetapi TUHAN menolong aku. TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya”
(Mzm 118:13-15.22-24)
               
Jakarta, 1 Mei 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: