Minggu Biasa XXX

“Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?

Mg Biasa XXX: Kel 22: 21-27; 1Tes  1:5c-10;  Mat 22:34-40

Di Indonesia telah diberlakukan aneka tata tertib berupa undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan pemerintah, peraturan daerah dst., dan kiranya tidak ada seorangpun yang dapat menghafalkannya. Hemat saya semakin banyak tata tertib diberlakukan berarti masyarakatnya kurang beriman atau kurang hidup dalam saling mengasihi satu sama lain; akhirnya tata tertib  yang ada banyak dilanggar dan penyelenggara pemerintahan pun disibukkan oleh aneka urusan yang terkait dengan pelanggaran tata tertib, sehingga kurang memperhatikan usaha atau gerakan untuk mensejahterakan rakyat. Yang cukup memprihatinkan adalah usaha untuk membuat peraturan daerah yang hanya mementingkan kelompok tertentu dalam hal keagamaan. Hemat saya semua agama mengajarkan cintakasih, maka sebenarnya jika segenap anggota masyarakat yang ada di daerah tersebut hidup saling mengasihi sebagaimana diajarkan oleh agamanya, maka orang tidak disibukkan oleh aneka urusan kerukunan umat beragama. Sebenarnya masalah pokok di dalam masyarakat adalah kesejahteraan social-ekonomi rakyat, maka sekiranya rakyat dalam keadaan sejahtera secara social-ekonomi tak perlu adanya aneka peraturan daerah yang sering terkesan tidak adil. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk merenungkan dan menghayati hukum utama, sebagaimana diajarkan oleh Yesus di bawah ini.

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39) 

Cukup banyak dalam mengasihi saudara atau sesamanya hanya terbatas secara phisik saja, itupun tidak secara utuh; mereka mengasihi tanpa hati, jiwa dan akal budi. Para orangtua juga sering merasa sudah cukup dengan memenuhi kebutuhan phisik anak-anaknya, entah itu berupa makanan, minuman, pakaian atau aneka macam jenis barang dan perhiasan. Yesus mengingatkan kita agar dalam mengasihi ‘dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi’, tidak hanya dengan segenap phisik saja, sebagaimana dilakukan oleh para pelacur maupun pelanggannya.

Segenap berarti seutuhnya tidak kurang sedikitpun, jika berkurang berarti tidak genap atau tidak utuh maka juga berarti sakit. Orang yang sakit hati, sakit jiwa atau sakit akal budi jelas tidak mungkin dapat mengasihi sesamanya dengan baik dan benar. Sakit hati berarti akan mudah membenci atau menyendiri alias mudah marah, sakit jiwa berarti gila atau sinthing, sakit akal budi berarti kurang cerdas atau bodoh. Maka marilah kita berusaha untuk tidak sakit hati, sakit jiwa atau sakit akal budi, kita berusaha bersama agar hati, jiwa, akal budi maupun tubuh kita sehat wal’afiat.

Para suami-isteri yang berbahagia kiranya memiliki pengalaman saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual, relasi kasih yang memungkinkan berbuah, yaitu anak manusia yang tidak lain adalah ‘buah kasih’ atau ‘yang terkasih’.  Maka kami berharap kepada para suami-isteri untuk dapat menjadi  teladan dalam saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, tentu pertama-tama dan terutama bagi anak-anaknya yang dianugerahkan oleh Tuhan. Kami percaya jika anak-anak memiliki teladan saling mengasihi yang baik dan benar, maka di kemudian hari mareka dapat memperkembangkan dan memperdalam hidup saling mengasihi dalam lingkungan yang lebih luas.

Para imam, bruder dan suster yang baik dan bahagia kiranya juga memiliki pengalaman dalam mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, tentu saja tidak sampai pada hubungan seksual, melainkan membaktikan tenaga dan waktunya secara total  bagi tugas pengutusan yang diterima dari Tuhan melalui pembesar atau atasannya. Maka kepada rekan-rekan imam, bruder dan suster kami berharap dapat menjadi teladan dalam membaktikan diri sepenuhnya pada tugas pengutusan atau pekerjaan. Dengan kata lain menjadi teladan dalam ‘bekerja keras’. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tanga serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10).

Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.” (1Tes 1:5c-7)

Sapaan Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan. Marilah kita menjadi ‘penurut-penurut Tuhan’ artinya orang yang setia melaksanakan kehenda Tuhan alias kapanpun dan dimanapun menjadi sahabat-sahabat Tuhan, hidup dan bertindak bersama dan bersatu dengan Tuhan. Jika kita bersama dan bersatu dengan Tuhan, ketika harus menghadapi aneka tantangan, masalah atau hambatan, kita akan tetap dalam keadaan ceria dan suka cita ‘yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga menjadi teladan bagi semua umat beriman’.

Dalam hidup beriman atau beragama kita harus melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan iman atau agama kita dalam hidup pribadi maupun hidup bersama. Sikapi dan hayati atau laksanakan aneka tata tertib dalam dan dengan cintakasih, maka akan terasa enak, nikmat dan ringan adanya, serta dengan ceria atau sukacita kita melaksanakannya. Taat pada dan setia melakasanakan tata tertib pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan dan disebarluaskan, mengingat dan mempertimbangkan banyak orang tidak taat lagi pada aneka tata tertib, melanggar tata tertib seenaknya dan tidak merasa bersalah atau berdosa.

Berbagai bentuk dan jenis penindasan berat akan dihadapi dan dialami oleh siapapun yang setia dan taat pada tata tertib. Sadari dan hayati bahwa penindasan atau penderitaan yang lahir dari kesetiaan dan ketaatan pada tata tertib merupakan jalan atau wahana menuju ke keselamatan atau kebahagiaan sejati, terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwa. Keselamatan atau kebahagiaan jiwa, entah jiwa kita sendiri atau jiwa orang lain, hendaknya menjadi pedoman atau barometer keberhasilan penghayatan iman atau ajaran agama kita. Maka jangan bangga ketika hanya sukses atau berhasil dalam hal material saja, tetap gagal dalam hal spiritual. Jangan bangga ketika dipuji dan dikagumi, tetapi tidak dicintai. Dicintai berarti disukai oleh Tuhan dan semua orang, karena setia dan taat pada kehendak Tuhan.  

"Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim“(Kel 22:21-24), demikian firman Tuhan kepada bangsa terpilih yang sedang dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji. Kita semua sedang di dalam perjalanan menuju ‘tanah terjanji’, yaitu hidup mulia selamanya di surga setelah dipanggil Tuhan nanti, maka hendaknya di dalam perjalanan ini ‘jangan menindas janda atau anak yatim’.

"Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku.” (Mzm 18:2-4)

Ign 23 Oktober 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply