Minggu Biasa XXVIII

“Pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu”

Mg Biasa XXVIII: Yes 25:6-10a; Flp 4:12-14.19-20; Mat 22:1-14


Ketika ada perjamuan kawin alias pesta perkawinan pada umumnya semua yang hadir dalam perjamuan atau pesta tersebut berusaha menampilkan diri secantik atau setampan mungkin dengan harapan penampilannya akan mempesona, menarik dan memikat orang lain. Mereka memang cantik atau tampan penampilannya, namun apakah hati, jiwa dan akal budinya juga cantik atau tampan atau bersih kiranya boleh dipertanyakan. Kiranya cukup banyak tamu ataupun penerima tamu dalam pesta perkawinan yang mempercantik diri ke salon sehingga kehilangan keasliannya, lebih-lebih rekan-rekan perempuan dalam merias wajah maupun menata rambutnya. Kemungkinan juga ada yang pinjam pakaian atau assesori dari orang lain atau tempat peminjaman seperti salon-salon dst.. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk jujur terhadap diri sendiri serta tampil apa adanya maupun agar kita senantiasa mengusahakan kebersihan atau kesucian hati, jiwa dan akal budi.    

“Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?”(Mat 22:12)

Yang dimaksudkan dengan ‘pesta’ di sini kiranya adalah ibadat, misalnya Perayaan Ekaristi bagi umat Katolik atau bagi agama lain seperti pujian, sholat dst.. Kita dalam menghadiri ibadat diharapkan dalam keadaan bersih, bebas dari dosa, maka jika sedang dalam keadaan tidak bersih atau berdosa hendaknya terlbih dahulu membersihkan atau menyucikan diri, dan bagi orang katolik berarti mengaku dosa. Beribadat berarti bertemu dengan Tuhan;  memang pada umumnya orang bersih secara phisik namun belum tentu bersih secara spiritual.  Pesta mungkin juga dapat diartikan sebagai kebersamaan dengan orang lain kapanpun dan dimanapun. Hemat saya bersama dengan orang lain kita juga diharapkan bersih atau layak, yang berarti berkehendak atau bermaksud baik, tdak bermaksud jahat. Hendaknya jangan bertindak jahat terhadap saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun.

Dalam warta gembira ini orang yang datang dan kemudian diusir tidak lain adalah orang-orang Farisi, dan untuk masa kini berarti mereka yang bersikap mental secara materialistis, orang-oang yang gila akan harta benda/uang, pangkat/kedudukan atau kehormatan duniawi, orang-orang yang bersikap selama hidup di dunia ini berlaku sombong dan senantiasa menomorsatukan dirinya sendiri. Sedangkan mereka yang kemudian diundang, yang berasal dari pinggir-pinggir jalan adalah orang-orang yang rendah hati cara hidup dan cara bertindaknya. Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati, tidak sombong. Rendah hati antara lain berarti memiliki hati, jiwa, akal budi dan tubuh atau tenaga yang senantiasa terbuka terhadap aneka kemugkinan dan kesempatan dan tentu saja pertama-tama tebuka terhadap kehendak Tuhan, yang antaa lain menggejala dalam kehendak baik saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Orang-orang yang berada di pinggir jalan atau di persimpangan jalan berartti memang tidak memiliki apa yang dapat diandalkan di dunia ini dan terbuka terhadap orang lain.

Kami berharap anak-anak sedini mungkin dibiasakan atau dididik untuk memiliki sikap mental rendah hati atau keterbukaan.  Hemat saya ketika masih anak-anak atau bayi sungguh rendah hati dan terbuka, maka hendaknya hal itu jangan ditinggalkan, melainkan terus diperdalam dan diperkembangkan dalam hidup sehari-hari sampai mati.  Keterbukaan diri anak-anak di masa kanak-kanak atau bayi sungguh merupakan modal atau kekuatan yang tak boleh ditinggalkan atau dilupakan. Kepada keluarga atau suami-isteri muda yang masih memiliki bayi atau anak kecil kami dambakan untuk memperhatikan hal ini.  Tentu saja, berkali-kali saya ingatkan, teladan orangtua bagi anak-anak dalam hal penghayatan kerendahan hati maupun ketetbukaan diri sungguh dibutuhkan secara  mutlak, alias tak dapat ditawar-tawar lagi. Masa balita anak-anak sungguh masa yang penting dan strategis dalam pembinaan sikap mental atau karakter anak-anak, maka hendaknya orangua jangan mensia-siakan masa balita ini, hendaknya dengan rela dan penuh cintakasih memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya selama masa balita. Wujud cintakasih sejati adalah pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih.

Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:12-13)

Kesaksian iman Paulus yang disampaikan kepada umat di Filipi di atas ini kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi kita. “Tidak ada sesuau yang merupakan rahasia bagiku.. segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, inilah yang hendaknya menjadi bahan permenungan atau refleksi kita.  Kita diharapkan tidak pernah merahasiakan sedikitpun kepada suadara-saudari kita, dan tentu saja pertama-tama kepada saudara-saudari serumah atau sekomunitas, sekantor atau setempat kerja.  Kita dipanggil untuk senantiasa terbuka atau transparan satu sama lain. Pertama-tama saya mengingatkan rekan-rekan suami-isteri yang telah memiliki keterbukaan satu sama lain minimal secara phisik yaitu ketika sedang memadu kasih dalam hubungan seksual, dan semoga juga terbuka satu sama lain secara spiritual. Anda berdua memiliki pengalaman terbuka satu sama lain secara mendalam, maka hendaknya pengalaman tersebut terrus diperkembangkan dan disebarluaskan dalam hidup sehari-hari, pertama-tama di dalam keluarga bagi anak-anak dan juga ditempat kerja maupun di lingkungan masyarakat, Rukun Tetangga maupun Rukun Warga.

Bersikap mental dan bertindak terbuka atau tranparan memang tak akan terlepas dari aneka macam masalah atau perkara, dan jika menghadapi masalah atau perkara kita diharapkan menanggung dalam Tuhan yang menganugerahkan rahmat dan kekuatan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan mampu mengatasi atau menyelesaikan aneka masalah dan perkara. Bersama dan bersatu dengan Tuhan berarti berkehendak baik dan jika kita sungguh berkehendak baik maka segala perkara dapat kita selesaikan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak ornng di dunia ini, di sekitar hidup kita, yang berkehendak baik.  Maka bersama atau bersatu dengan Tuhan juga berarti bersama dan bersatu dengan saudara-saudari kita yang berkehendak baik kapanpun dan dimanapun.

Bersama-sama atau bergotong-royong dalam hidup dan bekerja itulah wujud keimanan kita kepada Tuhan yang menganugerahkan rahmat dan kekuatan kepada kita semua.  Dalam bergotong-royong tak ada seorangpun yang berpangku tangan dan tiada bedanya besar atau kecil, tua atau muda, anak-anak atau dewasa, pria atau wanita, semuanya bekerja atau berparitisipasi dalam mengerjakan atau melaksanakan sesuatu.  Budaya gotong-royong kiranya masih hidup dan kuat di masyarakat desa atau pelosok, maka hendaknya budaya tersebut terus diperkembangkan dan disebarluaskan.  Ingat pepatah “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!” (Yes 25:5). Semoga apa yang dikatakan oleh Yesaya ini juga dapat menjadi dukungan dan peneguhan bagi kita dalam hidup bersama atau bergotong-royong.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mzm 23:1-4)

Ign 9 Oktober 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply