Minggu Biasa XXVII

Mg Biasa XXVII: Yes 5:1-7; Flp 4:6-9; Mat 21:33-43
” Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu
penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di
mata kita”

Pada masa Orde Baru jika ada tokoh masyarakat, bangsa atau Negara yang
tidak taat kepada orang nomor satu di negeri ini, meskipun orangnya
cerdas, beriman dan baik, maka yang bersangkutan akan diusir atau
disingkirkan atau ‘dikeluarkan dari fungsi/jabatannya yang strategis’
dalam hidup bermasyarakat , berbangsa dan bernegara. Jika ada orang
baik yang mencoba mengganggu atau mempersulit keinginan dan dambaan
anggota keluarga orang nomor satu di negeri ini juga disingkirkan
dengan berbagai cara. Ada yang dibunuh, ada yang dipenjarakan dan ada
yang melarikan diri keluar negeri dst.. Bahkan orang-orang pandai yang
bersifat egois alias tidak prihatin dan berpartisipasi membangun dan
membenahi kesremawutan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
juga lebih senang  bercokol di luar negeri. Cara berpikir atau
paradigma orang bersikap mental materialistis atau duniawi memang
berlawanan dengan cara berpikir atau paradigma Tuhan. Maka marilah
kita renungkan sabda Yesus hari ini.
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu
penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di
mata kita.” (Mat 21:42)
Yang dimaksudkan dengan ‘tukang-tukang bangunan’ disini tidak lain
adalah mereka yang bersikap mental materialistis atau duniawi, yaitu
yang gila akan harta benda/uang, pangkat/ keududukan/jabatan dan
kehormatan duniawi, seperti orang-orang Farisi yang menjadi
tokoh-tokoh bangsa Yahudi pada zaman Yesus. Dengan keserakahan dan
kesombongannya mereka merampas hak-hak rakyat dan orang baik, cerdas
dan beriman. Mereka menggunakan ‘aji mumpung’ atau kesempatan sesuai
dengan selera pribadi dan kewenangan atau kekuasaannya. Pada masa
perjuangan kemerdekaan negeri kita mungkin dapat kita kenangkan tokoh
Sukarna dan Hatta, yang sempat dibuang oleh penguasa penjajah
berkali-kali dan akhirnya menjadi proklamator kemerdekaan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan namanya diabadikan di pintu gerbang
negeri ini, nama bandara internasional terbesar di negeri ini, Bandara
Sukarna-Hatta Cengkareng-Jakarta.
Mayoritas penumpang pesawat terbang yang melalui Bandara Sukarna-Hatta
Cengkareng maupun bandara-bandara lainnya di negeri ini adalah
orang-orang penting dan kaya, dengan kata lain menentukan kwalitas
hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka kami berharap
kepada mereka ini agar setiap kali singgah sejenak atau seraya
menunggu keberangkatan pesawat terbang di ruang tunggu Bandara
Sukarna-Hatta Cengkareng, untuk mengenangkan cara hidup, cara
bertindak, perjuangan dan pengorbanan para proklamator negeri ini.
Saya percaya bahwa para proklamator negeri ini sungguh cerdas beriman,
hidup, berjuang dan berkorban demi kesejahteraan umum atau bangsa
seluruhnya.
Kepada siapapun yang berada ‘di poros bisnis maupun di poros badan
publik’ dalam hidup bersama di negeri ini kami harapkan berpihak pada
dan bersama mereka yang berada ‘di poros komunitas’, yaitu rakyat.
Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa anda berada ‘di poros badan
publik’ karena dipilih dan didukung oleh rakyat dan ketika berkampanye
anda berjanji untuk mensejahterakan rakyat, demikian pula yang berada
‘di poros bisnis’ hendaknya menyadari dan menghayati bahwa
keberhasilan bisnis anda tak terlepas dari rakyat, kerja, perjuangan
dan keringat rakyat. Jangan ingkari janji dan kebenaran ini: rakyat
adalah batu sendi atau penjuru bangunan hidup bersama, hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tentu saja secara konkret kami
juga berharap kepada segenap orangtua untuk senantiasa berpihak dan
bersama dengan anak-anak yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Bukankah
hidup berkeluarga atau sebagai suami-isteri tanpa anak terasa hambar
dan kurang bergairah? Bukankah kehadiran anak-anak dalam keluarga anda
menggembirakan dan menggairahkan hidup anda berdua? Boroskan waktu dan
tenaga anda bagi anak-anak anda sebagai bukti cintakasih anda kepada
anak-anak anda, yang telah dianugerahkan Tuhan kepada anda berdua!
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi
nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan
permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui
segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia,
semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang
didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah
semuanya itu.” (Flp 4:6-8)
Ajakan atau peringatan Paulus kepada umat di Filipi di atas ini
hendaknya juga dijadikan ajakan atau peringatan kita semua, umat
beriman atau beragama. Pertama-tama kita semua diharapkan tidak kuatir
tentang apa pun juga; orang yang mudah kuatir berarti tidak/kurang
beriman. Ingatlah dan sadari bahwa jika kita dalam keadaan kuatir atau
takut berarti ketahanan tubuh kita dalam keadaan lemah dan dengan
demikian mudah terserang oleh aneka jenis virus dan penyakit serta
akhirnya jatuh sakit. Marilah kita imani dan hayati bahwa Allah
senantiasa menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, panggilan dan
tugas pengutusan masing-masing serta kita diharapkan senantiasa
bersyukur karena pendampingan atau penyertaanNya. Sebagai ucapan
syukur kepada Allah kita diharapkan memikirkan “semua yang benar,
semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis
dan semua kebajikan”.
Jika kita senantiasa memikirkan hal-hal di atas berarti kita juga akan
melakukan atau menghayatinya, karena apa yang akan kita lakukan atau
hayati sangat tergantung dari apa yang sedang kita pikirkan. Cara
hidup dan cara bertindak kita tergatung dari apa yang kita pikirkan.
Marilah kita melakukan apa yang benar, mulia, adil, suci, manis dan
bijaksana kapan pun dan dimana pun, karena apa yang disebut benar,
mulia, adil, suci, manis dan bijaksana hemat saya berlaku secara
universal atau umum, dimana saja dan kapan saja. Kami berharap
nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut sedini mungkin
dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan
teladan konkret dari para orangtua.
“Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak
Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya,
sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga
kebun itu diinjak-injak;Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak,
tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan
rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya
hujan ke atasnya” (Yes 5:5-6), demikian firman Allah melalui nabi
Yesaya kepada kita semua, umat beriman atau beragama. Firman ini hemat
saya merupakan peringatan bagi kita semua yang tidak melakukan apa
yang benar, mulia, adil, suci, manis dan bijaksana. Orang yang tidak
menghayati keutamaan-keutamaan tersebut akan menderita dan sengsara,
tidak hidup dalam damai dan sejahtera. Mereka akan merasa dirinya
ditinggalkan oleh semua orang dan dengan demikian akan merasa
kesepian. Maka baiklah firman Allah di atas ini sungguh kita
renungkan, sehingga kita tergerak terus menerus untuk melakukan apa
yang benar, mulia, adil, suci, manis dan bijaksana.
“Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir, telah Kauhalau bangsa-bangsa,
lalu Kautanam pohon itu. dijulurkannya ranting-rantingnya sampai ke
laut, dan pucuk-pucuknya sampai ke sungai Efrat.: Mengapa Engkau
melanda temboknya, sehingga ia dipetik oleh setiap orang yang lewat?
Babi hutan menggerogotinya dan binatang-binatang di padang
memakannya.Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari
langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang
ditanam oleh tangan kanan-Mu” (Mzm 80:9.12-16)

 Ign 2 Oktober 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply