“Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”

Mg Biasa XXVI: Am 6:1a.4-7; 1Tim 6:11-16; Luk 16:19-31


Dalam perjumpaan dengan Bapak Kardinal, Gus Dur (alm.) menyampaikan ‘joke’ sebagai berikut: “Bapak Kardinal ini nanti setelah dipanggil Tuhan dan di sorga enak sekali, lebih enak dan nikmat daripada saya”. “Mengapa Gus”, tanggapan Bapak Kardinal. “Selama di dunia ini kami sebagai orang Islam tidak boleh makan daging babi, sedangkan Bapak Kardinal, para pastor, bruder dan suster selama di dunia ini tidak boleh menikah. Di sorga nanti khan yang diperbolehkan oleh Tuhan untuk dikerjakan dan dinikmati apa yang tidak boleh dinikmati selama hidup di dunia ini. Maka di sorga nanti kami hanya boleh makan dan manikmati daging babi, sedangkan Bapak Kardinal dapat dengan bebas memilih dan menikmati hidup bersama dengan perempuan-perempuan cantik, bahenol sepuas-puasnya”, demikian penjelasan Gus Dur. Apa yang dikatakan Gus Dur ini hemat kami sungguh merupakan permenungan yang mendalam dan sesuai dengan isi Warta Gembira hari ini, maka marilah kita renungkan Warta Gembira hari ini dan kita hayati makna dan maksudnya.

 

“Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.” (Luk 16:25)

Selama hidup di dunia, dalam panggilan, tugas pengutusan atau pekerjaan kita masing-masing ada aneka tata tertib yang harus kita perhatikan, hayati dan sebarluaskan di dalam hidup sehari-hari. Kita juga telah menikmati berbagai macam jenis makanan, minuman, sentuhan, perlakuan dst.. yang kita terima dari mereka yang mengasihi kita. Bagaimana kita menyikapi aneka tata tertib ataupun segala sesuatu yang kita terima dari mereka yang mengasihi kita? Marilah kita mawas diri dengan jujur, terbuka dan rendah hati:

·  Hendaknya kita setia dalam mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing dimanapun dan kapanpun. Memang untuk setia dan taat pada tata tertib sungguh membutuhkan perjuangan, pengorbanan diri dan kerja keras, agar tata tertib dapat kita laksanakan dengan baik, sehingga kita selamat, damai dan bahagia. Jika selama hidup di bumi ini anda tidak setia mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan anda, maka setelah meninggal dunia nanti akan diajar dan dipaksa untuk melakukan tata tertib selamanya, sedangkan jika anda setia mentaati dan melaksanakan tata tertib selama hidup di bumi ini, maka setelah meninggal dunia nanti diperkenankan hidup bebas, seenaknya.

·  Dalam suratnya kepada umat di Galatia, Paulus antara lain mengetengahkan ‘perbuatan daging dan buah Roh’ yang saling bertolak belakang, yaitu “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. …Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:19-23). Kutipan ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri bagi kita semua: jika selama hidup di bumi  ini kita hanya mengikuti keinginan daging dan melakukan perbuatan daging, maka setelah meninggal dunia nanti kita akan dilatih dan diajar untuk bertindak sesuai dengan kehendak Roh, sebaliknya jika selama hidup di bumi ini kita senantiasa hidup sesuai dengan kehendak Roh sehingga menghasilkan buah-buah Roh, maka setelah meninggal dunia nanti kita diperkenakan melakukan perbuatan daging seenaknya dan sepuas mungkin. Kami berharap selama hidup di bumi ini senantiasa kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Roh, sehingga menghasilkan buah-buah Roh.

·  Hiburan dan menderita? Yang dimaksudkan disini kiranya lebih bersifat duniawi, artinya jika selama hidup di bumi ini kita siap sedia untuk menderita karena setia dan taat pada panggilan dan tugas pengutusan, maka setelah meninggal dunia nanti akan menikmati hiburan sejati bersama Tuhan di sorga untuk selamanya. Sebaliknya jika kita selama hidup di bumi ini enak-enak dan menikmati hiburan-hiburan duniawi melulu, seperti yang berhubungan dengan seks, makanan dan minuman, maka setelah meninggal dunia nanti akan menderita untuk selama-lamanya,

 

“Engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi ” (1Tim 6:11-12)

 

Marilah pesan Paulus kepada Timoteus di atas ini kita hayati atau laksanakan bersama-sama, bekerja sama satu sama lain dalam rangka mengusahakan hidup kekal selamanya di sorga. Ada beberapa keutamaan yang hendaknya kita hayati dan sebarluaskan dalam hidup kita sehari-hari, yaitu:

1). Keadilan. Keadilan yang paling mendasar hemat saya adalah hormat sepenuhnya terhadap harkat martabat setiap manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Tuhan. Maka hendaknya cara hidup dan cara bertindak maupun cara  bicara kita tidak melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia.

2). Ibadah. Beribadah berarti senantiasa mempersembahkan dan mengandalkan diri seutuhnya kepada Tuhan, hidup penuh syukur dan terima kasih dimanapun dan kapanpun, karena kita telah menerima kasih dan anugerah Tuhan secara melimpah melalui saudara-saudari kita. Maka sebagai tanda bahwa kita sungguh beribadah antara lain kita saling bersyukur dan beterima kasih di dalam hidup sehari-hari.

3). Kesetiaan. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr.Edi Seedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka, Jakarta 1997, hal 24). Marilah kita hayati aneka perjanjian yang telah kita ikrarkan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.   

4). Kasih. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7). Apa yang diajarkan perihal kasih ini kiranya cukup jelas, maka marilah saling membantu untuk menghayatinya. Kasih lebih untuk dihayati atau dilakukan daripada diomongkan atau didiskusikan.

5). Kesabaran. “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof Dr.Edi Sedyawati/edit: –ibid–).  Orang sabar disayang Tuhan dan sesamanya, maka marilah kita saling berlomba dalam hal kesabaran dalam sepak-sepak terjang maupun kesibukan kita setia hari dimanapun dan kapanpun.

6). Kelembutan. Orang yang lembut menunjukkan bahwa yang bersangkutan saleh (‘sumeleh’), tidak pernah mengeluh, marah, menggerutu dalam menghadapi atau menerima apapun. Ia tidak serakah, tidak tergesa-gesa dan tidak khawatir.

 

“Yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!” (Mzm 146:7-10)

 

Jakarta, 26 September 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.