MInggu Biasa XXIX

Mg Biasa XXIX : Yes 45:1.4-6; 1Tes 1:1-5b; Mat 22:15-21
"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Orang Farisi memang sungguh licik seperti ular namun tidak tulus seperti burung merpati, dengan kata lain mereka pandai tetapi jahat. Dengan kelicikan dan kejahatannya mereka mencoba menjebak Yesus untuk menjatuhkanNya dengan bertanya perihal kewajiban membayar pajak. “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:1-17), demikian pertanyaan jebakan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Jika Yesus menjawab ‘jangan membayar pajak’, maka berarti Yesus tidak taat pada tata tertib hidup bermasyarakat, sedangkan jika Yesus menjawab “bayarlah pajak” bersama Ia sama dengan mereka, yaitu orang-orang yang taat kepada penjajah atau perampas. Maka dengan cerdas Yesus menanggapi jebakan jahat mereka "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mat 22:21). Marilah kita renungkan jawaban cerdas dan cemerlang dari Yesus ini.
“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mat 22:21)
Kaisar atau pemimpin Negara memiliki tugas dan kewajiban hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan mendatangi atau mengujungi warganya kiranya jarang sekali atau tak pernah mengunjunginya. Wewenang atau kuasanya terbatas pada daerah atau wilayah tertentu atau suku atau bangsa tertentu. Sedangkan Allah wilayah kerjaNya tidak terbatas oleh ruang dan waktu, melainkan kapan saja dan dimana saja alias terus menerus bekerja dalam dan melalui seluruh ciptaanNya. Sebagai warganegara atau manusia kita berurusan dengan kaisar serta para pembantunya kadang-kadang saja, sedangkan sebagai manusia kita berurusan terus menerua dengan Allah. Dengan kata lain sebenarnya waktu dan tenaga kita lebih banyak berurusan dengan Allah dari pada dengan kaisar atau pemimpin Negara beserta para pembantunya. Maka marilah pertama-tama  waktu dan tenaga kita lebih terarahkan kepada Allah dari pada kaisar atau pemimpin Negara beserta para pembantunya.Secara khusus saya mengajak siapapun yang langsung bergaul atau melayani sesama manusia, misalnya para guru atau pendidik serta para pejabat di akar rumput.
Para guru/pendidik hendaknya lebih memperhatikan anak-anak atau para peserta didik daripada atasan mereka seperti  kepala sekolah, pengurus yayasan, pejabat pemerintah dalam aneka tingkatan di bidang pendidikan dst.. Serahkan waktu dan tenaga anda sepenuhnya kepada anak-anak atau para peserta didik ketika anda sedang bertugas di sekolah; takutlah jika anak-anak atau para peserta didik tidak tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman dan jangan takut kepada para pimpinan anda di tingkat apapun. Hal yang senada kami harapkan dari para orangtua terhadap anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka: hendaknya orangtua sungguh berani boros waktu dan tenaga bagi anak-anaknya, lebih-lebih dan terutama selama masa balita anak-anak. Memang meninggalkan anak-anak balita kemudian diseerahkan kepada pembantu atau perawat terasa lebih mudah, karena mereka tak akan protes, namun anda akan dirugikan di kemudian hari karena anak-anak merasa kurang dikasihi oleh orangtuanya.   
Yang kami maksudkan para pejabat di akar rumput tidak lain adalah lurah beserta para pembantunya, yang pada umumnya dipilih oleh rakyatnya serta dekat dengan rakyat yang telah memilihnya dan kemudian harus dipimpinnya. Dan tentu saja kami juga berharap kepada para pejabat di atasnya sampai pada presiden. Hendaknya sebagai pejabat sungguh setia dalam mengabdi atau melayani rakyat. Ingatlah dan sadari bahwa anda digaji dan karya anda dibeayai oleh dana yang terkumpul dari pajak, yang notabene dana yang berasal dari rakyat. Para pejabat harus berpihak dan bersama dengan rakyat jika mendambakan masyarakatnya damai, sejahtera dan makmur. Para pejabat hendaknya jangan bersikap mental Farisi, yaitu hanya mencari keuntungan atau kenikmatan pribadi, untuk memperkaya diri sendiri, keluarga maupun kerabatnya. Kesuksesan kinerja dan pelayanan para pejabat berupa kesejahteraan rakyat. Rakyat tidak sejahtera berarti para pejabat bejat moralnya,.
Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami“(1Tes 1:2)
Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini hendaknya menjadi pedoman cara hidup dan cara bertindak para pemimpin, pengajar atau pembina di tingkat atau di bidang apapun. Pertama-tama hendaknya sungguh bersyukur dan berterima kasih karena telah terpilih dalam fungsi pelayanan tersebut. Wujudkan syukur dan terima kasih anda dengan menjalankan fungsi pelayanan tersebut sebaik dan seoptimal mungkin dalam semangat pelayanan. Selain melayani secara langsung hendaknya setiap hari dalam doa-doa anda juga mendoakan mereka yang anda ajar atau bina atau pimpin. Mendoakan orang lain berarti juga mengasihi atau memperhatikan mereka.
Tentu saja kami juga berharap kepada segenap orangtua untuk berpedoman pada kata-kata Paulus di atas. Pertama-tama hendaknya suami-isteri saling bersyukur dan berterima kasih karena Tuhan telah mempertemukan anda berdua untuk hidup bersama sebagai suami-isteri, saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau tubuh. Kemudian hendaknya bersyukur dan berterima kasih karena telah dianugerahi anak-anak oleh Tuhan. Syukur dan terima kasih orangtua diwujudkan dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang sungguh beriman atau cerdas spiritual. Anak-anak selama masa balita hendaknya diberi gizi yang baik dan memadai, entah secara material maupun spiritual. Secara material berarti anak-anak diberi makanan dan minuman yang bergizi dan variatif sesuai dengan pedoman ’empat sehat lima sempurna’; bayi hendaknya diberi ASI secara memadai dalam jangka waktu yang cukup. Sedangkan secara spiritual antara lain berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak, dan ketika berjauhan dari anak-anak karena tugas atau pekerjaan hendaknya mendoakannya.
Saling bersyukur, berterima kasih serta mendoakan hendaknya juga kita hayati sebagai umat beragama atau beriman. Pertama-tama antar kakak-adik dalam satu keluarga hendaknya saling bersyukur, berterima kasih dan mendoakan. Sebagai umat beriman atau beragama kami harapkan kita saling bersyukur, berterima kasih dan mendoakan tanpa membedakan agama, suku atau ras, sehingga terjadilah kerukunan umat beriman atau beragama yang menarik, mempesona dan memikat. Sebagai umat beriman atau beragama marilah kita renungkan dan hayati seruan Yesaya ini: “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain” (Yes 45:5-6).
Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit” (Mzm 96:1.3-5)
Ign 16 Oktober 2011
 
 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: