Minggu Biasa XVIII

Mg Biasa XVIII: Kel 16:2-4.12-15: Ef 4:17.20-24; Yoh 6:24-35

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal”

Sikap mental budaya instant kiranya begitu menjiwai cara hidup dan cara bertindak banyak orang masa kini, sebagai dampak maraknya atau membanjirnya aneka jenis makanan dan minuman instant di pasaran begitu bebas. Ada orang yang ingin cepat-cepat kaya dan untuk itu dengan seenaknya melakukan korupsi dalam tugas pekerjaan atau jabatannya, ada muda-muda atau generasi muda tergesa-gesa ingin menikmati hubungan seksual, padahal belum menjadi suami-isteri, dan yang cukup memprihatikan serta mendasari semuanya itu adalah para pelajar atau siswa ingin cepat naik kelas atau lulus ujian tetapi tidak pernah belajar, belajar ketika menjelang ulangan atau ujian. Budaya instant  sangat dekat dengan budaya materialistis, dimana kesuksesan atau keberhasilan hidup, penghayatan panggilan atau pelaksanaan tugas kewajiban berpedoman pada buah harta benda atau uang yang dapat diperoleh dan dikumpulkan. Orang bangga dengan memiliki harta benda atau uang banyak sekali, bangga memiliki gedung/rumah megah dan sarana-prasarana modern dan canggih, sehingga banyak orang mengaguminya, tetapi menjadi pertanyaan apakah mereka juga mengasihinya. Kami mengajak anda sekalian untuk hidup dan bekerja tidak terbatas pada kesuksesan materi, yang dapat musnah dalam sesaat, melainkan mengusahakan sesuatu yang bertahan sampai kekal, selamanya, yaitu nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini.

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh 6:27)

Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup sebenarnya ada di dalam atau melekat dalam hidup dan kerja kita sehari-hari, jika kita sungguh hidup baik dan bekerja sesuai dengan tata tertib atau aturan yang berlaku. Dengan kata lain ‘bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup kekal’ , yaitu mengusahakan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, hemat kami berupa memperjelas dan menyingkapkan nilai atau keutamaan yang telah kita hayati dalam hidup maupun kerja. “Values clarification” = pencerahan atau penyingkapan nilai-nilai, itulah yang harus kita usahakan bersama-sama dalam hidup dan kerja kita.

Para pendidik dan pemerhati pendidikan yang sungguh beriman dan bermoral mengusulkan pendidikan nilai atau keutamaan dalam proses pembelajaran atau pendidikan di masa awal Reformasi, yang dikoordinir oleh Prof Dr Edi Sedyawati dan menerbitkan buku kecil berjudul “Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur” (Balai Pustaka – Jakarta 1997). Dalam buku kecil ini diuraikan secara singkat apa yang dimaksudkan dengan budi pekerti luhur, yang antara lain berisi nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan seperti “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggungjawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tatap janji, terbuka, ulet”. Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas ini kiranya secara inklusif ada dalam cara hidup dan cara bertindak kita maupun saudara-saudari kita, maka marilah kita singkapkan, dan kemudian kita perdalam.

Saya tak jemu-jemunya mengingatkan dan mengajak para orangtua agar dalam mendidik dan membina anak-anaknya senantiasa lebih mengutamakan agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibiasakan untuk menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut di atas, dan para orangtua kiranya dapat memilih nilai atau keutamaan mana yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak maupun lingkungan hidupnya. Selanjutnya kami berharap kepada para pengurus, pengelola atau pelaksana karya pendidikan atau sekolah, lebih mengutamakan agar para peserta didik lebih unggul dan handal dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas, bukan dalam hal kepandaian atau kepintaran. Akhirnya kami berharap kepada para orangtua dan pendidik/guru dapat menjadi teladan dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas.

Kamu telah belajar mengenal Kristus.Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef 4:20-24).

Kutipan di atas ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus, entah secara formal maupun informal atau siapapun yang berkehendak baik. Kita dipanggil untuk “menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya diperbaharui di dalam roh dan pikiran kita, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”. Menjadi manusia baru berarti hidup suci atau kudus serta menghayati dan menyebarluaskan aneka kebenaran.

Suci atau kudus berarti membaktikan diri seutuhnya kepada kehendak dan perintah Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak sehari-hari dimana pun dan kapan pun, sehingga senantiasa memiliki cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan cara Tuhan, tidak mengikuti caranya sendiri atau seenaknya sendiri. Maka kepada siapapun yang masih hidup dan bertindak hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi kami harapkan untuk bertobat atau memperbaharui diri, hendaknya setia menghayati atau melaksanakan janji-janji yang telah dikrarkan ketika mulai menempuh dan mengarungi hidup baru, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster, hidup berkeluarga maupun hidup membujang.

 "Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu." (Kel 16:12), demikian firman Tuhan kepada Musa, yang sedang memimpin bangsa terpilih menuju ‘tanah terjanji’ . Firman ini kiranya baik untuk kita renungkan ketika di dalam perjalanan penghayatan hidup atau panggilan maupun pelaksanaan tugas pengutusan kita menghadapi kesulitan, tantangan atau masalah berat, yang dengan mudah membuat kita mengeluh atau menggerutu. Baiklah jika kita mengeluh atau menggerutu, hendaknya diarahkan kepada Tuhan, dengan kata lain berdoa untuk mohon rahmat dan pencerahan serta kekuatan dari Tuhan. Percayalah jika kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan, maka Tuhan juga akan menganugerahkan aneka kebutuhan dan sarana-prasarana yang kita butuhkan, sehingga kita dengan bantuan rahmat Tuhan mampu menuntaskan panggilan maupun tugas pengutusan kita.

“Ia memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit, menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit; setiap orang telah makan roti malaikat, Ia mengirimkan perbekalan kepada mereka berlimpah-limpah.” (Mzm 78:23-25)

Ign 5 Agustus 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: