Minggu Biasa VII

Minggu Biasa VII: Yes 43:18-19.21-22.24b-25; 2Kor 1:18-22; Mrk 2:1-12

"Yang begini belum pernah kita lihat.”

Ketika ada dukun sakti yang dapat menyembuhkan aneka macam penyakit dalam waktu singkat serta murah meriah beayanya, pada umumnya orang lalu berbondong-bondong mendatanginya untuk mohon penyembuhan dari penyakitnya. Yang biasanya tidak berobat serta tidak merasakan sakit yang dideritanya pun juga tergerak untuk mendatanginya. Tentu saja yang sungguh dapat disembuhkan hemat saya adalah hanya penyakit-penyakit ringan yang terjadi  karena stress atau tekanan batin, sedangkan mereka yang menderita sakit parah kiranya tak akan menjadi sembuh. Mengapa yang menderita sakit ringan dapat sembuh? Salah satu atau yang utama sebagai alasan penyembuhan adalah kepercayaan: mereka percaya bahwa sang dukun dapat menyembuhkannya. Ketika mereka mulai percaya berarti sudah terjadi proses penyembuhan dari dalam, karena telah berkurang atau hilang stress-nya atau tekanan batinnya. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan seorang lumpuh yang digotong oleh empat temannya untuk mohon penyembuhan dari Yesus. Dengan susah payah mereka menghadapkan si lumpuh sampai di depan Yesus. Ketika terjadi mujizat atau penyembuhan orang lumpuh tersebut oleh Yesus, maka orang banyak yang melihat atau menyaksikan berkata "Yang begini belum pernah kita lihat.”

Mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" (Mrk 2:4-5)

Orang lumpuh diimani sebagai orang yang berdosa besar, entah itu dosa yang bersangkutan atau orangtuanya yang melahirkan, lebih-lebih sang ibu yang telah mengandung dan melahirkannya. Pengalaman dan informasi menunjukkan bahwa para ibu atau wanita yang cara hidup dan cara bertindaknya tidak baik memiliki kemungkinan ketika mereka mengandung dan melahirkan anak, maka anaknya cacat phisik. Para ibu atau wanita yang kurang gizi ada kemungkinan akan melahirkan anak yang sakit-sakitan juga, demikian juga mereka yang hobbynya mengkonsumsi minuman keras atau obat-obat terlarang. Bahwa anak yang dilahirkan cacat dan kemudian dapat sembuh dan sehat sungguh merupakan mujizat.

Untuk membantu penyembuhan orang sakit parah memang butuh dukungan dari saudara-saudarinya, apalagi jika berpenyakit lumpuh. Mungkin baik kiranya jika ‘lumpuh’ difahami secara spiritual atau rohani alias tak bermoral, seperti para penjahat, pemalas, pengganggu orang, dst.. , yang cara hidup dan cara bertindaknya sungguh menghancurkan dirinya sendiri maupun merusak hidup orang lain. Mereka tidak menyadari bahwa sedang menghancurkan diri sendiri dan merusak orang lain, maka dibutuhkan uluran kasih saudara-saudarinya untuk menyadari ‘kelumpuhannya’ serta kemudian siap sedia untuk disembuhkan.

Kebersamaan dalam usaha menyembuhkan mereka yang ‘lumpuh’ merupakan dukungan kuat dan handal untuk penyembuhan si lumpuh, dan kemudian bersama-sama menghadap Tuhan alias berdoa bersama dengan ujud mohon penyembuhan si lumpuh. Perjuangan dan pengorbanan bersama untuk membantu penyembuhan si lumpuh sungguh dibutuhkan. Percayalah bahwa jika kita bersama-sama berjuang dan berkorban dalam membantu penyembuhan si lumpuh seraya berdoa bersama, pasti terjadi mujizat: si lumpuh sembuh. Mereka yang menyaksikan kebersamaan dalam perjuangan, pengorbanan dan doa bersama serta penyembuhan si lumpuh akan berkata ” Yang begini belum pernah kita lihat”.

Kasih pengampunan sungguh merupakan obat mujarab dalam proses penyembuhan. Maka kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman dan beragama untuk menghayati kasih pengampunan Tuhan serta menyebarluaskannya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Hidup dan bertindak dalam kasih pengampunan Tuhan juga merupakan bentuk preventif untuk menangkal aneka macam penyakit. Mereka yang kemudian menjadi penjahat, pemalas atau penganggu orang lain, hemat saya merupakan bentuk protes karena tidak merasa menerima kasih pengampunan dari orangtuanya maupun saudara-saudarinya alias merasa kurang dikasihi. Usaha penyembuhan bagi mereka tidak lain adalah mengajak mereka untuk menyadari dan menghayati diri sebagai yang telah dikasihi. Dekati dan sikapi mereka dalam dan dengan kasih pengampunan Tuhan

“Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah. Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2Kor 1:20-22)

Allah telah “memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita”, inilah yang hendaknya kita renungkan dan refleksikan bersama. Apa saja yang telah disediakan oleh Tuhan bagi kita semua, umat beriman? Pertama-tama kita semua telah dianugerahi hidup dan kemudian juga dianugerahi segala sesuatu yang kita butuhkan agar kita dapat hidup dalam damai sejahtera, selamat dan bahagia, misalnya: saudara-saudari kita, aneka sarana-prasarana, harta benda, jabatan, kedudukan, fungsi, kesehatan, keterampilan, ketampanan atau kecantikan dst.. Semuanya ini akan mendukung dan membantu kita menuju ke keselamatan jiwa kita di akhir hidup kita, hidup mulia selamanya di sorga bersama Tuhan untuk selamanya setelah meninggal dunia, jika semuanya itu kita hayati dan fungsikan di dalam Roh Kudus alias kita hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus.

Hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus berarti menghayati keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23). Jika anda hidup dan bertindak menghayati keutamaan-keutamaan di atas ini, maka percayalah bahwa anda tidak akan pernah jatuh sakit apapun dan anda juga akan tumbuh berkembang sebagai pribadi yang semakin beriman, semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan dan dengan demikian ada jaminan bahwa ketika dipanggil Tuhan atau meninggal dunia segera hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga bersama Tuhan dan semua orang kudus yang telah mendahului perjalanan kita kembali ke sorga.

Dari keutamaan-keutamaan di atas yang kiranya baik kita renungkan dan hayati pada masa kini adalah kesetiaan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak atau kurang setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusan serta hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau kemauan pribadi. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Secara kebetulan hari ini diselenggarakan Novena ke 7 di Seminari Mertoyudan-Magelang dalam rangka merayakan 100 tahun Seminari Mertoyudan dengan tema “Beriman untuk bertindak”, yang dipimpin oleh Mgr.Ign.Suharya PR, Uskup Agung Jakarta. Marilah kita mawas diri apakah kita setia pada iman kita, yang menjadi nyata dalam perilaku atau tindakan. Iman tanpa perbuatan atau tindakan pada dasarnya mati, demikian kata Yakobus. Keunggulan hidup beriman adalah dalam tindakan atau perilaku. Semoga kita umat beriman setia pada iman kita dan dengan demikian senantiasa juga bertindak baik dan benar, melakukan apa saja yang baik dan benar demi keselamatan jiwa manusia.

Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya. Kalau aku, kataku: "TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!"(Mzm 41:2-5)

Ign 19 Februari 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply