Minggu Biasa IX – Ul. 11: 18.26-28.32; Rm 3:21-25a.28; Mat 7:21-27

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Mg Biasa IX : Ul. 11: 18.26-28.32; Rm 3:21-25a.28; Mat 7:21-27

 

Ada orang yang tidak mau berdoa lagi, karena ia telah begitu banyak berdoa mengajukan permohonan kepada Tuhan, antara lain minta intensi misa dalam perayaan ekaristi, mengikuti novena, berziarah di tempat peziarahan Bunda Maria, doa rosario setiap hari, dst.., namun tak satu pun permohonan dikabulkan oleh Tuhan. Ada orang rajin berdoa dan doanya begitu panjang dan bertele-tele, namun dalam hidup sehari-hari suka marah-marah serta menggerutu atau mengeluh karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan selera pribadinya. Mereka itu berdoa hanya manis di mulut saja dan tidak merasuk di hati serta kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindaknya. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita perihal doa yang benar dan baik; sabda Yesus hari ini mengingatkan kita akan motto ‘ora et labora’ = berdoa dan bekerjalah, artinya doa tak dapat dipisahkan dari kerja dan sebaliknya kerja tak dapat dipisahkan dari doa atau doa menjiwai kerja dan sebaliknya kerja menjiwai doa. Maka marilah kita renungkan dengan mendalam dan hayati sabda Yesus hari ini.

 

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21)

 

Kepada para murid Yesus mengajarkan doa Bapa Kami, doa yang kiranya kita semua hafal serta menjadi doa harian kita. Maka baiklah sabda Yesus hari ini kita renungkan dengan cermin doa Bapa Kami, berikut saya coba refleksikan beberapa isi doa Bapa Kami:

 

1). “Dimuliakanlah NamaMU“. Dalam hidup sehari-hari kita dipanggil untuk senantiasa memuliakan Tuhan, yang hidup dan berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya, terutama dalam diri sesama manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Tuhan. Dengan kata lain memuliakan Tuhan berarti memuliakan saudara-saudari kita, dan dengan demikian kita saling memuliakan alias saling melayani. Maka hendaknya dalam doa senantiasa mohon kepada Tuhan agar kita dapat melayani sesama, dan percayalah permohonan anda akan dikabulkan, karena dengan demikian kita pasti akan segera melayani saudara-saudari kita dengan rendah hati dan bergairah. Semangat melayani merupakan keutamaan yang tak tergoyahkan oleh aneka godaan dan rayuan yang dapat menghancurkan semangat pelayanan.

 

2). “Datanglah KerajaanMu di bumi seperti di sorga“. Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja atau berkuasa. Marilah kita mohon dalam doa agar hanya Allah saja yang menguasai atau merajai dunia seisinya, terutama cara hidup dan cara bertindak manusia. Karena Allah maha segalanya, maka dikuasai atau dirajai oleh Allah mau tak mau akan taat sepenuh hati kepadaNya serta melakukan kehendak Allah yang ada disorga dalam hidup sehari-hari di dunia. “Dia yang melakukan kehendak BapaKu di sorga akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”, demikian sabda Yesus. Beriman atau berbakti kepada Tuhan pertama-tama dan terutama harus menjadi kenyataan dalam perilaku atau cara bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Berdoalah agar anda setia melakukan kehendak Tuhan atau apa-apa yang menyelamatkan jiwa manusia, dengan demikian doa anda akan dikabulkan.

     

3). “Berilah kami rezeki hari ini secukupnya“. Isi doa ini adalah hidup sederhana, tidak serakah dan tidak berfoya-foya, memboroskan waktu, tenaga dan uang tiada guna. Dalam hal mohon rezeki atau kebutuhan hidup hendaknya mohon kebutuhan utama demi kesehatan dan kebugaran tubuh, Jika kita mohon hal itu, percayalah doa kita akan dikabulkan, karena kita akan berusaha keras untuk hidup sederhana dan tidak berfoya-foya.

    

4). “Ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami“. Jika kita mawas diri dengan benar dan jujur, kiranya kita akan menyadari dan menghayati bahwa diri kita telah menerima kasih pengampunan dari Allah secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita yang telah berbuat baik kepada kita atau memperhatikan kita dengan aneka cara. Dalam berdoa mohonlah agar anda dapat mengampuni mereka yang telah bersalah kepada anda, maka permohonan anda pasti akan dikabulkan dan anda berusaha keras untuk senantiasa mengampuni mereka yang menyalahi, menyakiti atau mempersulit anda. Ingatlah dan hayati atau imani bahwa kedatangan Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, adalah kasih pengampunan Allah, pelaksana kehendak Allah untuk mengampuni dosa-dosa manusia. Beriman kepada Penyelamat Dunia berarti hidup dan bertindak mengampuni siapapun yang bersalah kepada kami.

 

Kami percaya jika kita berdoa sebagaimana kami refleksikan di atas ini, maka sabda Yesus ini kena pada diri kita, yaitu “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu” (Mat 7:24-25)

  

“Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm 3:23-24).

Kutipan di atas ini mengingatkan saya pribadi akan apa yang pernah dimaklumkan dalam Konggregasi Jendral ke 32, antara lain dimaklumkan bahwa “Yesuit adalah pendosa yang dipanggil Tuhan untuk hidup dan berkarya dalam karya penyelamatan”.  Bukankah kita semua adalah orang berdoa, bukankah tambah usia dan pengalaman berarti juga tambah dosanya? Meskipun kita berdosa tidak dimusnahkan oleh Allah, melainkan diampuni dengan kasih karuniaNya yang luar biasa. Maka marilah kita hayati kasih karunia Allah dan kemudian kita sebarluaskan kepada saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun.

 

Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk saling mengasihi atau menyalurkan kasih karunia Allah kepada saudara-saudari kita. Kasih karunia Allah tidak hanya kata-kata saja, melainkan menjadi nyata dalam aneka macam sarana-prasarana, sahabat/teman, kenikmatan dst..yang pada saat ini kita kuasai atau miliki. Karena semuanya adalah kasih karunia Allah, maka selayaknya semuanya kita hayati dalam dan bersama dengan Allah. Dengan kata lain marilah kita hayati baik belajar atau bekerja bagaikan sedang beribadat: tempat belajar atau berdoa bagaikan tempat ibadat, sarana belajar atau berdoa bagaikan sarana ibadat, rekan belajar atau bekerja bagaikan rekan beribadat, suasana belajar atau bekerja bagaikan suasana beribadat. Sikap orang beribadat pada umumnya penuh penyerahan diri, maka demikian hendaknya dalam belajar atau bekerja: hendaknya bekerja keras dalam belajar maupun bekerja. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10)

 

“Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku” (Mzm 31:2-4)

Jakarta, 6 Maret 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply