Minggu Biasa II

Mg Biasa II: 1Sam 3:3b-10.19; 1Kor 6:13c-15a.17-20; Yoh 1:35-42 “Marilah dan kamu akan melihatnya” Ketika saya bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang serta melayani beberapa yayasan pendidikan, saya sering berkeliling untuk mengunjungi pa…

Mg Biasa II: 1Sam 3:3b-10.19; 1Kor 6:13c-15a.17-20; Yoh 1:35-42

“Marilah dan kamu akan melihatnya”

Ketika saya bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang serta melayani beberapa yayasan pendidikan, saya sering berkeliling untuk mengunjungi paroki maupun sekolah-sekolah, lebih-lebih dan terutama yang miskin. Dalam suatu kunjungan ke daerah Wonosari saya mengajak dua rekan awam, pengusaha menengah di kota Semarang, sambil berziarah di goa Maria Singkil-Wonosari. Ketika kami berada di goa Maria Singkil, rekan saya ingin buang air kecil atau kencing, maka saya minta kencing saja di sekitar tempat goa ini, tidak apa-apa. Maklum memang waktu itu di kompleks goa Maria Singkil belum tersedia ‘toilet’. Melihat hal itu rekan saya tergerak untuk membangun atau membuat ‘toilet’, mengingat dan memperhatikan  yang berziarah juga banyak rekan-rekan perempuan, yang kiranya membutuhkan tempat khusus untuk buang air kecil alias ‘toilet’. Perjalanan dari Singkil kami ajak mengunjungi sekolah SD Sanjaya yang tak terlalu jauh dari Singkil. Setelah melihat dan mendengarkan apa yang diceriterakan oleh para guru, mereka pun tergerak untuk membantu sekolah tersebut. Dan memang tak lama kemudian ‘toilet’ dibangun di kompleks goa Maria Singkil dan setiap bulan mereka juga membantu atau memberi sumbangan untuk SD Sanjaya, yang miskin tersebut. Dengan mendatangi dan melihat langsung orang tergerak untuk melakukan sesuatu yang baik, membahagiakan dan menyelamatkan, itulah yang terjadi.

Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1:39)

Jawaban Yesus terhadap Andreas dan temannya ini kiranya juga menjadi sabda Yesus bagi kita semua yang beriman kepadaNya, entah secara formal berarti resmi menjadi murid Yesus dengan dibaptis atau informal dalam arti baptis batin. Kita semua dipanggil untuk keluar dari diri sendiri, entah itu secara phisik maupun spiritual. Secara phisik berarti tidak hanya duduk-duduk di kamar saja ketika berada di rumah maupun di tempat kerja, melainkan hendaknya luangkan waktu dan tenaga sesuai dengan kemungkinan dan kesempatan untuk melangkah keluar dari kamar, berjalan-jalan dan melihat apa yang terjadi di lingkungan hidup atau kerja anda. Sedangkan secara spiritual yang kami maksudkan antara lain hendaknya kita jangan hanya memikirkan kepentingan atau keinginan pribadi, melainkan kepentingan umum atuu bersama.

Jika kita memiliki hati, jiwa dan akal budi yang baik, maka ketika kita berjalan-jalan dan melihat apa yang ada dan terjadi dilingkungan hidup kita, percayalah anda pasti akan digerakkan untuk melakukan sesuatu serta diberi kesempatan untuk berubah lebih baik dari apa yang ada sekarang atau saat ini. Percayalah kita pasti akan dapat berkata-kata seperti Andreas jika kita sungguh melihat dalam dan dengan iman: “Kami telah menemukan Mesias (artinya Kristus)” atau  “Kami telah menemukan Tuhan, yang memanggil dan mengutus kami”. Ketika melihat dan bertemu dengan Tuhan, maka mau tak mau kita pasti akan diutusNya untuk menghayati iman kita akan Penyelamat Dunia. Kita dipanggil untuk mendunia, berpartisipasi dalam seluk-beluk dunia dan dimana ada bagian dunia yang tidak selamat segera kita selamatkan.

Dalam hal melihat ini saya pribadi sangat terkesan dengan tegoran atau peringatan ayah saya (alm) ketika saya masih kecil, yaitu “Barang kathon wae ora biso nggarap, ojo maneh sing ora kathon” (=”Yang kelihatan saja tidak dapat mengerjakan, apalagi yang tidak kelihatan”). Tegoran atau peringatan ini sungguh membekali pribadi saya untuk senantiasa melihat apa yang tidak kelihatan, yang tak dapat diindrai dengan mata kepala kita ini, sebagaimana pepatah mengatakan bahwa ‘ada udang di balik batu’, ada sesuatu yang lebih berharga atau bernilai dari apa yang kelihatan. Yang lebih berharga atau bernilai tersebut ada di balik aneka kejadian atau peristiwa, kata-kata atau perilaku yang dapat kita lihat dan dengar, maka marilah kita lihat dengan dan dalam kacamata iman. Melihat dengan dan dalam kacamata iman berarti kita sendiri sungguh beriman serta memiliki dambaan suci. Andreas dan temannya yang menanggapi ajakan Yesus untuk datang dan melihat, hemat saya mereka sungguh beriman serta memiliki dambaan suci. Orang yang sungguh beriman dan memiliki dambaan suci ketika melihat sesuatu pasti akan semakin beriman dan semakin suci, entah sukses atau gagal dalam tugas dan pekerjaan senantiasa akan bersyukur dan berterima kasih.

Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri” (1Kor 6:17-19)

Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu” dan “Jauhkan dirimu dari percabulan”, inilah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan serta kita hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Percabulan dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun, entah sendirian atau bersama dengan orang lain, yang sejenis maupun lain jenis. Berbuat cabul sendirian misalnya masturbasi atau onani, sedangkan dengan orang lain misalnya dengan bermain-main alat kelamin orang lain, entah sejenis atau lain jenis. Percabulan merupakan perendahan atau pelecehan tubuh manusia atau diri pribadi manusia sebagai citra atau gambar Tuhan. Hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan didampingi dalam hal atau seluk-beluk seksual: kenikmatan seksual adalah anugerah Tuhan untuk membangun dan memperdalam cintakasih kepada Tuhan dan sesama manusia.

Menghayati tubuh sebagai bait Roh Kudus berarti segala gerak-gerik anggota tubuh hendaknya senantiasa berfungsi untuk mendukung kita semakin beriman, berbakti sepenuhnya kepada Tuhan, semakin suci. Dengan kata lain hendaknya buah gerak-gerik anggota tubuh kita adalah apa-apa yang baik, menyealamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan dan kebahagiaaan jiwa. Kita juga diajak menghayati bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri, melainkan milik Tuhan, maka kita juga tidak mungkin seenaknya sendiri memperlakukan tubuh kita seperti sering dilakukan beberapa orang. Kami sering mendengar bahwa mereka yang mau menggugurkan kandungan memiliki alasan hak asasi, yaitu hak terhadap tubuh sendiri. Alasan ini kelihatan logis atau masuk akal, padahal muncul dari kebejatan moralnya, yaitu hubungan seks bebas.

Memang kita bebas memperlakukan anggota tubuh kita, tetapi hendaknya juga diingat bahwa kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Kita dapat memperlakukan anggota tubuh kita seperti apapun asal tidak melanggar cintakasih. Penghayatan cintakasih antara lain hormat dan menjunjung harkat martabat manusia sebagai gambar atau citra Allah. Menggunakan anggota tubuh hanya untuk kenikmatan pribadi yang mengarah ke egois hemat saya melanggar cintakasih. Kepada mereka yang dianugerahi kecantikan atau ketampanan tubuh kami harapkan tidak dengan mudah ‘menjual diri’, antara lain dengan berperilaku sedemikian rupa sehingga merangsang orang lain untuk berbuat jahat atau berdosa, memikirkan apa yang jahat dan berdosa. Untuk itu hendaknya diperhatikan cara berpakaian maupun pemakaian aneka assesori, sehingga tidak mudah merangsang orang lain untuk memikirkan yang jahat dan berdosa serta kemudian melakukan kejahatan atau berdosa.

Marilah kita fungsikan anggota-anggota tubuh kita sesuai dengan kehendak Tuhan, sehingga semua gerakan tubuh kita senantiasa merupakan ungkapan atau perwujudan  cintakasih, kita saling mengasihi. Misalnya mulut antara lain untuk mencium, maka jika mencium orang lain hendaknya sungguh merupakan perwujudan kasih bukan nafsu, sehingga yang kita cium pun akhirnya menikmati kasih yang luar biasa dan kemudian juga akan senantiasa mengasihi orang lain atau sesamanya.   

Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita” (Mzm 40:2-4b)

Ign 15 Januari 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...