Minggu 21 September 2014: Anugerah Itu bukan karena Kita Berjasa

baptis bayiGagasan pokok dari Kitab Suci Tuhan memberi anugerah bukan karena jasa kita. Alasan yang diberikan oleh Kitab Suci jelas sekali: “ RancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu.” (Yes 55:6-9) dan “Tidakkah Aku bebas mempergunakkan milikku menurut kehendak hatiKu? Atau iri hatikah engkau karena Aku murah hati?” Memang banyak hal yang kita tidak dapat memahami […]

baptis bayi

Gagasan pokok dari Kitab Suci
Tuhan memberi anugerah bukan karena jasa kita. Alasan yang diberikan oleh Kitab Suci jelas sekali: “ RancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu.” (Yes 55:6-9) dan “Tidakkah Aku bebas mempergunakkan milikku menurut kehendak hatiKu? Atau iri hatikah engkau karena Aku murah hati?”

Memang banyak hal yang kita tidak dapat memahami dengan jelas kehendak Tuhan. Tetapi seperti diungkapkan disini: jalan Tuhan berbeda dengan jalan kita. Maka jangan heran kalau Tuhan Yesus memberi kesempatan penyamun yang tersalib bersama diriNya masuk ke firdaus, karena iman orang itu.

Bahkan Tuhan Yesus menambahkan: “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahuku akan menjadi yang terakhir.”

Meresapkan firman
Hidup kita ini adalah anugerah dan panggilan dari Tuhan. Maka kita tidak dapat mengatakan bahwa apa yang kita lakukan itu jasa kita sendiri, karena semua itu adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan, seperti Santo Paulus mengatakan bahwa hidup itu adalah Kristus.

Maka dalam perumpamaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus ini mau menyatakan bahwa Tuhan tidak membe-dakan generasi-generasi awal atau akhir untuk memberikan pahala. Yang terpenting manusia mau menanggapi panggilanNya dengan sungguh-sungguh, karena kehidupan Gereja adalah melaksanakan kehendak Tuhan, bukan seperti orang Farisi yang melakukan aturan dan hukum-hukum tetapi tidak memahami kehendak Tuhan, sehingga mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil.

Mereka merasa berhak menerima pahala dari Tuhan lebih dari yang lain.

Merenungkan pengalaman
Ada seorang calon baptis di salah sebuah paroki yang mengeluh: “Ah mau baptis saja harus bersusah-susah. Harus mengikuti pelajaran di paroki lima puluh kali, harus mengikuti kegiatan di lingkungan segala. Enakan baptis bayi, tidak usah repot-repot. Tidak harus ikut pelajaran dan tidak perlu ikut kegiatan di lingkungan.”

“Ya tidak enak kalau baptis bayi,” jawab temannya. “Sebab nanti jadi katoliknya lama banget seumur hidup. Pada hal sejak kecil juga sudah harus`ikut pelajaran PIA, harus mengikuti pelajaran calon Komuni pertama, dan nanti juga masih harus mengikuti kegiatan yang lain dan Krisma.”

“Lha kalau cari yang enak, baptis di hari tua saja” Kata teman yang lain lagi “.

Pelajarannya cuman sebentar dan jadi katoliknya ya cuman sebentar. Lebih enak lagi kalau baptisnya sudah mau mati. Karena tidak usah pelajaran. Baptis bayi naik ke surga, baptis dewasa ya naik ke surga dan baptis tua juga naik ke surga.”

“Wah kalau begitu Tuhan itu tidak adil. Masakan yang baptis sejak bayi, kok disamakan saja dengan orang yang baptisnya sudah mau mati. Pada hal yang lama hidupnya kan dituntut kegiatan bermacam-macam dan dituntut untuk aktif hidup menggreja.”

Demikianlah pendapat banyak orang yang belum memahami makna mengikuti Kristus. Gagasan yang muncul seperti dalam perumpamaan hari ini adalah bahwa Tuhan Allah itu tidak adil. Masakan ada orang Katolik yang sudah bertahun-tahun yang harus mengalami jatuh-bangun, disamakan dengan orang yang Katoliknya baru saja pada hari tuanya.

Tetapi ternyata gagasan ini bukan hanya sekedar teori, tetapi terjadi sungguh-sungguh dalam kehidupan Umat beriman di lingkungan pada saat sekarang ini. Ada orang-orang tua yang sudah merasa “banyak makan garam” atau merasa sudah lama menjadi Katolik lalu meremehkan orang Katolik yang masih muda dan merasa harus dimintai nasehat macam-macam. Kalau orang-orang ini tidak dipakai, lalu menilai paroki secara negatif, kecewa dan kadang-kadang lalu mundur dari Gereja.

Dengan penjelasan dari Injil tadi, Gereja bukanlah organisasi bisnis atau organisasi kemasyarakatan biasa, maka ukurannya bukan jasa yang dihargai dengan upah, atau diukur dari kelompok mana, tetapi persatuan kelompok persaudaraan atau komunitas Umat beriman.

Kericuan yang terjadi dalam Paroki sebenarnya justru muncul dari adanya pembedaan-pembedaan ini. Karena akan kesan bahwa kelompok yang lebih elit, atau yang lebih super dan lebih berjasa lalu menyendiri dan tidak mau bercampur dengan kelompok yang lain.

Ada pula yang merasa mendapat bimbingan lebih khusus, pernah ikut kaderisasi atau pernah mengikuti seminar tingkat nasional/internasional, atau pernah ikut retret istimewa, lalu memisahkan diri dari kelompok lain dan merasa lebih berjasa, karena mereka ingin melestarikan kelompok ini. Pada hal sebenarnya ini hanya soal kesempatan.

Mereka ini mendapat kesempatan lebih banyak karena dukungan macam-macam, sedangkan yang lain kadang tahu pun tidak. Maka sebenarnya yang mendapat kesempatan lebih baik dan lebih banyak semestinya lebih bersyukur dan mau berbagi dengan saudara-saudaranya yang lain.

Demikian pula yang mendapat panggilan khusus sebagai biarawan-biarawati dan imam. Karena ini semua adalah soal kesempatan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada Umat yang bersangkutan.

Dengan ini menjadi jelaslah bahwa pernilaian kita terhadap suatu keadaan atau pribadi lain kadang-kadang berbeda dengan pernilaian Tuhan. Kita kadang menilai seseorang itu tidak baik dan tidak pantas menurut pernilaian kita, tetapi ternyata lain dihadapan Tuhan. Apa yang disanjung dan dipuji olehbanyak orang belum tentu juga dipuji oleh Tuhan.

Sebaliknya yang kadang dianggap gagal atau tak bernilai dihadapan manusia malahan itu yang diterima oleh Tuhan. Dalam hal ini kita sering menilai atau memperhitungkan sesuatu hanya dari tata-lahir atau yang nampak saja.

Kredit foto: Ist

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply