Minggu, 19 Oktober 2014: Kanonisasi Paus Paulus VI

Presiden-Sukarno-dan-Paus-Paulus-VI-by-Historic-Images-comSELANGKAH lagi, maka Paus Paulus VI akan menjadi Orang Kudus alias Santo.  Hari Minggu tanggal 19 Oktober 2014 ini, Tahta Suci akan melakukan kanonisasi atas Paus Paulus VI. Namun, riuh-rendahnya berita Sinode Luar Biasa tentang Keluarga seakan telah ‘mengubur’ pentingnya peristiwa kanonisasi atas mendiang Paus Paulus VI. Jasa besar Mendiang Paus Paulus VI adalah orang […]

Presiden-Sukarno-dan-Paus-Paulus-VI-by-Historic-Images-com

SELANGKAH lagi, maka Paus Paulus VI akan menjadi Orang Kudus alias Santo.  Hari Minggu tanggal 19 Oktober 2014 ini, Tahta Suci akan melakukan kanonisasi atas Paus Paulus VI. Namun, riuh-rendahnya berita Sinode Luar Biasa tentang Keluarga seakan telah ‘mengubur’ pentingnya peristiwa kanonisasi atas mendiang Paus Paulus VI.

Jasa besar

Mendiang Paus Paulus VI adalah orang besar. Jasanya bagi Gereja Modern sungguh tiada tara, hingga orang mungkin sudah lupa mengapa namanya sampai ‘dipaterikan’ sebagai nama baru kepausan oleh Kardinal Karol  Woytyla yang kemudian dikenal sebagai Paus Johannes Paulus II.

Konsili Vatikan II yang menorehkan sejarah perubahan besar bagi Gereja Modern telah sebelumnya  dirilis oleh Paus Johannes XXIII. Namun tak seberapa lama kemudian, beliau meninggal dunia. Maka, tugas berat mewujudkan gagasan besar aggiornamento itu jatuh ke tangan Kardinal Giovanni Montini yang kemudian lebih dikenal sebagai Paus Paulus VI.

Paus Paulus VI inilah yang akhirnya mewujudkan aggiornamento, merumuskannya dan kemudian melaksanakannya hingga beginilah ‘wajah’ Gereja Modern seperti sekarang ini. Yakni, Gereja yang menghargai ekspresi iman melalui budaya lokal, gereja yang ‘membumi’ karena memakai bahasa lokal sebagai ‘bahasa iman’, dan masih banyak lagi aspek lainnya.

Salah satu yang hingga sekarang masih menjadi ‘kontroversi’ adalah isu penggunakan berbagai alat konstrasepsi yang menurut ajaran Gereja Humanae Vitae (1968) dianggap ‘penghalang’ bagi kehidupan baru.

Kanonisasi adalah satu langkah sebelum akhirnya resmi ‘dinobatkan’ menjadi Santo.

Mari kita rinci sosok mendiang Paus Paulus VI yang menjadi Paus kurun waktu 1963-1978. Ia digantikan oleh Paus Yohannes Paulus I yang mengisi kekuasan Vatikan hanya dalam kurun waktu sebulan saja. Setelah itu, baru kemudian tokoh besar Santo Yohannes Paulus II mengisi kursi Tahta Suci yang ditinggalkan Paus Yohannes Paulus I.

  • Pembaharu Gereja: Dulu tertutup, kini Gereja Katolik menjadi terbuka bagi dunia dan kelompok agama lain, bahkan kelompok ateis pun. “Beliau ibarat mercusuar dalam kegelapan,” kata Paus Fransiskus menyebut peran besar mendiang Paus Paulus VI saat masih menjadi imam muda di Argentina.
  • Visioner terhadap tugas sosial Gereja: Dulu, Gereja Katolik lebih banyak berurusan hanya pada soal liturgi dan kekuasan. Di zaman pasca Konsili Vatikan II, Gereja menaruh perhatian besar pada masalah-masalah sosial kemanusiaan hingga kemudian lahirlah beberapa dokumen tentang sikap Gereja terhadap masalah-masalah sosial.
    Paus-Paulus-VI-dan-Presiden-Suharto

    Kunjungan ke Indonesia: Mendiang Paus Paulus VI mengunjungi Jakarta dan diterima dengan hangat oleh Presiden Suharto dan Ibu Tien. Kunjungan bersejarah ini terjadi tanggal 3-4 Desember 1970. (Ist)

  • Merintis ‘budaya’ baru dalam Gereja: Paus Paulus VI memulai tradisi ‘rapat para uskup’ yang kemudian disebut Sinode.
  • Gereja yang misioner: Melalui Evangelii Nuntiandi (1975), Gereja mendapat visi modern tentang bagaimana Kabar Gembira itu mesti diwartakan. Tidak hanya keluar, tapi juga Gereja sendiri senantiasa perlu terus ‘diperbaharui’ semangatnya. Melalui dokumen penting ini, Paus Paulus VI menandaskan bahwa umat itu lebih butuh ‘contoh’ dan teladan dari hirarki daripada ‘untaian kata-kata’ dalam soal pewartaan Kabar Gembira. Jadilah teladan kehidupan dan bukan ‘guru’ tentang kehidupan.
  • Paus peziarah: sejah terpilih menjadi Uskup Kota Roma dan Paus tahun 1963 dan kemudian menutup Konsili Vatikan II pada tahun 1965, ia banyak melalukan perjalanan untuk ‘sosialisasi’ hasil-hasil Konsili. Ia memulai tradisi melakukan perlawatan keluar negeri, seiring dengan semangatnya bahwa Paus itu bukanlah ‘Raja’ Gereja Katolik, melainkan pelayan, hamba.
  • Membina relasi dengan dunia luar dan kelompok non katolik: Tahun-tahun berikutnya ia melakukan perjalanan ke Asia –termasuk bertemu Presiden Suharto di Jakarta tahun 1970– juga ke Afrika dan Amerika Latin. Ia menjadi Paus pertama yang mengunjungi Amerika Serikat pada tahun 1965; memimpin misa di Yankee Stadium dan berkunjung ke Markas PBB dan menyampaikan pidato. Baca juga: Pijar Vatikan II: Tiga Kali Presiden Soekarno Menemui Paus di Vatikan (25B)
  • Vatikan menjadi sederhana: Seiring dengan hal itu, Paus Paulus VI  juga berhasil menjadikan Vatikan sebagai lembaga gerejani yang lebih sederhana dan rendah hati, Ia berani melebur tradisi pemakaian mitra (topi kebesaran paus) dan jubah tiara. Ia meninggalkan mitra  dan kemudian memakai jubah biasa dan topi kepausan layaknya para Uskup dan Kardinal. Pada tahun 1964, ia melalukan perjalanan ziarah ke Yerusalem dan melakukan pertemuan dialogis dengan Patriark Gereja Ritus Timur.
  • Paus penghubung: Ia meretas pondasi awal guna merintis komunikasi dan hubungan baik dengan semua pihak di luar Tahta Suci. Sesuai motto pribadinya, yakni dalam setiap perjumpaan “tak ada pihak yang kalah, semuanya merasa saling dikuatkan”, maka Paus Paulus VI ini tidak terlalu ‘populer’ karena dengan mudah akan ‘ditembak’ oleh berbagai kelompok. Ia tidak sepopuler mendiang Paus Johannes Paulus II, lantaran –antara lain—dianggap terlalu kolot dalam mempertahankan doktrin Gereja atas penggunaan alat-alat kontrasepsi sebagai ‘hal dilarang’.

Sumber: CNR

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply