Minggu 17 Augustus 2014: Mengisi Kemerdekaan dengan Mengembalikan Hak Tuhan

Merah Putih di AtsjMERENUNGKAN situasi kita. Ada orang yang begitunya bangga dan fanatiknya terhadap tanahairnya sampai mengatakan ungkapan terkenal: ”Right or wrong is my country”. Artinya benar atau salah tetap tanahair kita. Baik atau buruk tetap tanahair kita. Tetapi apakah ungkapan semacam ini benar-benar merupakan ungkapan kebanggaan terhadap tanahair? Karena kebanggan yang benar bukanlah cuma cinta yang buta, […]

Merah Putih di Atsj

MERENUNGKAN situasi kita.

Ada orang yang begitunya bangga dan fanatiknya terhadap tanahairnya sampai mengatakan ungkapan terkenal: ”Right or wrong is my country”. Artinya benar atau salah tetap tanahair kita. Baik atau buruk tetap tanahair kita.

Tetapi apakah ungkapan semacam ini benar-benar merupakan ungkapan kebanggaan terhadap tanahair? Karena kebanggan yang benar bukanlah cuma cinta yang buta, tetapi cinta yang bertanggungjawab. Ungkapan ini dapat diterima kalau warga negara dengan rendah hati juga mau mengkui bahwa keadaan sekarang ini adalah “wrong” dan marilah kita buat menjadi “right”.

Dulu hampir seluruh penduduk Indonesia bangga memiliki tanahair yang kaya-raya ini, karena tanahnya yang subur dan makmur ini menyimpan hasil bumi yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Banyak orang bangga karena Indonesia terkenal dengan kerukunan serta keramahtamahannya sampai keluar negeri. Banyak orang dari manca negara juga mengagumi seni budaya bangsa Indonesia yang sudah sangat tinggi, dan lebih-lebih karena Indonesia memiliki ideologi Pancasila dan punya tokoh-tokoh yang punya nama di dunia internasional.

Namun rupanya kebanggaan itu sekarang satu per satu mulai pudar. Karena tanahair kita yang subur ini sedikit demi sedikit telah digunduli dan dicemari. Hutan-hutan banyak dibabat habis, banyak tanah longsor, banjir atau kekeringan. Masih ditambah lagi dengan adanya pertambangan liar yang merusakkan tanah dan merusakkan lahan.

Kemakmuran kita sekarang telah diganti dengan tumpukan hutang yang membebani negara. Berita tentang adanya korupsi dari pejabat-pejabat hampir setiap hari menghiasi berita di surat kabar dan tayangan televisi. Kerukunan yang dulu sangat dikagumi sekarang telah berubah menjadi perpecahan dan konflik ideologi yang benar-benar menghambat kesatuan dan kerukunan bangsa, bahkan cenderung untuk membuat berkeping-keping.

Hal ini disebakan karena adanya kelompok garis keras dari aliran agama, dan partai-partai yang diperalat untuk perebutan kekuasaan. Dulu yang mencuat dari negara kita adalah adanya budaya ketimuran yang diwarnai oleh kerukunan serta didukung oleh azas Ketuhanan, kemanusian dan kerakyatan dari Pancasila. Namun sekarang sudah banyak ditinggalkan. Lalu kita mesti bagaimana?

Gagasan pokok dari bacaan Kitab Suci
Orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapatmu: Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?”

Lalu Yesus menjawab: Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang munafik. Tunjukkanlah kepadaKu mata uang pajak itu. Gambar dan tulisan siapakah ini?”

Jawab mereka: “Gambar dan tulisan kaisar”.

Lalu kata Yesus; Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Kita bandingkan situasi kita dengan situasi Umat Yahudi pada zaman Tuhan Yesus. Pada waktu itu keadaannya sangat sulit akibat dijajah oleh bangsa Romawi. Maka membayar pajak atau tidak membayar pajak sama sulitnya.

Pertanyaan orang Parisi di sini sepertinya mau hanya sok tahu, yaitu kalau rakyat sudah bayar pajak itu kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan serta kedamaian seolah-olah pasti akan terjadi. Pada hal sama sekali belum. Karena ada satu hal yang dilupakan: kita tidak memberikan apa yang menjadi hak Tuhan.

Kadang-kadang umat terlalu pelit untuk mengembalikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan. bahkan hak Tuhan kita rebut. Kita mengira: Tuhan itu cukup diberi satu-dua jam satu minggu. Lainnya untuk saya. Bahkan itu pun tidak diberikan. Namun sebenarnya hak Tuhan itu bukan soal ibadat saja.

Tuhan berhak mengasihi setiap orang. Tuhan berhak mengembangkan setiap pribadi. Namun kita justru kerap melihat banyak orang menekan pribadi lain, terutama yang tidak disenangi. Kita acuh, kita bermusuhan. Pada hal Tuhan itulah yang akan mengadili hidup mannusia dan yang mempunyai hak hidup matinya seseorang. Tetapi justru kita kerap kali kita kurang menghargai hidup orang lain.

Rayuan pulau kelapa: Inilah panorama alam dengan hiasan berbagai pohon kelapa di kawasan pedalaman ATSJ, Kabupaten Agats, Papua. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Kalau hak Tuhan kita berikan, maka otomatis hak masing-masing pribadi akan terpenuhi, keadilan akan terjadi, dan kedamaian akan terjadi. Karena kekacauan di masyarakat itu timbul karena hak Tuhan diserobot, sehingga Tuhan tidak bisa mengembalikan pada yang berhak.

Coba perhatikan: kalau ada cintakasih, ada persaudaraan, ada kerukunan, maka senjata itu tidak perlu lagi. Polisi itu tidak perlu. Maka kalau sekarang ternyata banyak perang, banyak senjata, banyak polisi-polisi yang mengontrol itu semakin menggambarkan bahwa cintakasih itu hilang. Persaudaraan mulai banyak yang hilang.

Mengapa? Karena hak Tuhan direbut, jadi rebutan banyak orang. Yesus menunjukkan pokok persoalan terletak pada: Apakah hak Allah sudah diberikan atau belum? Apakah ajaran Tuhan itu sudah dilaksanakan atau belum terjadi, maka situasi di masyarakat tetap akan merupakan lingkaran setan belum? Apakah Kerajaan Allah sudah ditegakkan atau belum?

Yesus dalam setiap situasi senantiasa mengajarkan jalan Allah dan tidak takut resiko apapun. Yesus tidak mencari muka, maka Ia selalu jujur, artinya setiap perkataan dan perbuatan-Nya tidak diukur menurut reaksi orang lain atau untuk kepentingan diri sendiri, melainkan semata-mata diukur menurut pandangan Allah.

Mengajarkan jalan Allah yang dimaksudkan yaitu mengajarkan arah hidup yang benar, yang sesuai dengan rencana Allah. Jalan Allah sangat berbeda dengan jalan manusia. Bahwa hidup manusia dalam keadaan apapun selalu ada dalam kuasa Allah. Itulah sebabnya Allah harus didahulukan lebih dari manusia, termasuk penguasa. Kekacauan di masyarakat justru akan terjadi kalau hal ini diabaikan, yaitu kalau orang tidak mempedulikan lagi ajaran Tuhan.

Kredit foto: Bendera Merah Putih di pedalaman Kabupaten Agats, Papua. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply