Minggu 14 September 2014: Arti Salib, Yoh 3:13-17

crossGAGASAN  pokok. Tiada tanda, tiada lambang yang terjalin erat dengan kehidupan umat beriman selain tanda salib. Tanda ini dilakukan oleh seorang kanak-kanak pada awal hidupnya dan tanda ini juga akan menutup hidup kita. Semula salib merupakan tanda aib, kehinaan dan kematian, namun kemudian menjaditanda iman, harapan dan kasih. Dengan salib itulah Yesus mematahkan kuasa maut […]

cross

GAGASAN  pokok.

Tiada tanda, tiada lambang yang terjalin erat dengan kehidupan umat beriman selain tanda salib. Tanda ini dilakukan oleh seorang kanak-kanak pada awal hidupnya dan tanda ini juga akan menutup hidup kita. Semula salib merupakan tanda aib, kehinaan dan kematian, namun kemudian menjaditanda iman, harapan dan kasih.

Dengan salib itulah Yesus mematahkan kuasa maut dan dosa, sehingga dari salib itulah memancar cahaya Paskah kebangkitan kita.

Dalam penyaliban terkandung 2 hal yang pokok: yaitu rasa sakit dan rasa dihina, rasa dipermalukan. Orang yang disalib kecuali merasa sakit sekali, juga merasa sangat dihina dan direndah-kan pribadinya, dirampas kemanusiaannya.

Orang lebih dapat menerima rasa sakit daripada penghinaan yang merampas harga dirinya. Maka salib yang digunakan oleh orang Roma untuk menyalibkan penjahat-penjahat itu dimaksudkan bukan hanya untuk membuat orang yang disalibkan itu merasa sakit saja, tetapi lebih-lebih untuk membuat orang salib yang disalibkan itu merasa paling dihina, merasa malu, karena dipertontokan didepan umum dalam rasa sakit, sakarat maut, dan dalam keadaan telanjang, dihojat oleh orang-orang dan disakiti algojo.

Orang yang disalibkan itu secara total dikosongkan dari nilainya sebagai manusia. Martabat pribadi dan nilai kemanusiannya sudah dirampas sama sekali. Maka tidak ada penghinaan lebih besar daripada kalau orang disiksa dikayu salib. Maka dengan disalibkan itu Yesus betul-betul dikosongkan dari kemuliaanNya, seperti kata-kata Mazmur 22:7 “Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak.”

Bahkan orang Yahudi mengatakan bahwa orang yang disalibkan itu “ dikutuk oleh Allah”, sehingga tidak artinya sama sekali. (Gal 3:13). Santo Paulus mengatakan: “Kristus Yesus, walaupun dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahan-kan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”(Fil 2:5-11)

Namun yang mengherankan dan yang sulit untuk diterima oleh akal budi, ialah mengapa justru salib inilah yang dipilih sebagai jalan keselamatan?

Mengapa Allah Bapa menghendaki hal ini terjadi pada Diri Yesus PuteraNya yang terkasih? Karena ini sebenarnya soal hubungan antara Bapa dan Putera. Hanya orang yang menghyayati diri sebagai anak Bapa, maka misteri salib dapat diterima. Orang yang menghayati dirinya sebagai anak Allah, maka Ia taat kepada Allah.

Semakin taat, maka pengosongan diri sepenuhnya akan terjadi. Justru pengosongan diri secara total inilah yang dapat menyelamatkan Umat manusia. Dengan pengsongan diri Yesus Kudus itu menjadi ‘dosa’, karena dosa seluruh Umat manusia ditumpahkan kepadanya, agar manusia yang berdosa, nanti dapat menjadi ’kudus’

Pengsongan diri Yesus itu mulai dari sekarat maut di Taman Zaitun. Di Taman Zaitun inilah gambaran pribadi Yesus seolah-olah menjadi lain. Ia yang biasa selalu menyadari akan keadaanNya dan selalu dengan tenang mengatasi segala sesuatu, penuh wibawa, tetapi di taman inilah ia nampak ketakutan, gelisah, bahkan mengalami trauma yang besar, sampai mengeluarkan peluh- darah. Mengapa demikian?

Apa yang Ia takutkan? Karena Yesus menyadari arti dosa dan Ia takut akan konsekwensinya, bahwa kalau dirinya ditumpahi dengan dosa-dosa manusia, maka Ia sendiri akan menjadi ‘dosa’ yang akan memisahkan diriNya dengan Allah Bapa dan Ia takut kehilangan keputraanNya. Maka sampai tiga kali Ia berseru: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah piala ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Begitu Yesus menyadari bahwa Allah Bapa tidak meninggal-kanNya, maka ia rela disesah, memanggul salib dan dipaku diatas kayu salib.

Puncak pengosongan diriNya terjadi pada waktu Ia digantung dikayu salib, jadi tontonan dan diejek banyak orang. Maka Ia mengucap-kan kata-kata penyerahan: “Kedalam tanganMu kuserahkan hidupKu.” Sebagai pertanggung-an jawab atas semua yang telah dilaksanakan menurut kehendak Bapa, Ia mengatakan: ”Sudah selesai”.

Yesus dapat menerima hal ini karena Ia taat kepada Bapa. Roh Keputraan Nya yang mendukung dan menguatkan terhadap penderitaan yang dihadapi. Maka kita dapat membayangkan hanya melalui salib inilah manusia diselamatkan, dan dosa manusia diampuni, karena korban bakar dan korban lain tidak diterima sebagai tebusan dosa Umat manusia, hanya korban dari PuteraNya di kayu salib yang diterima. Keselamatan diletakkan pada salib. Pengampunan itu hanya diakibatkan oleh wafat dan kebangkitan Kristus.

Kalau kita ingin mengikuti Yesus yang tersalib, lebih dahulu kita harus memperbaharui roh keputraan kita, karena dengan dibaptis kita telah diangkat menjadi anak-anak Bapa. Tanpa adanya roh keputraan, tak mungkin orang mampu menerima salib dalam kehidupan sehari-hari. Kalau ada orang diberi tugas untuk aktif dalam Gereja sudah mulai mengeluh, maka persoalannya tidak terletak pada tugas-tugas, tetapi bahwa roh keputraan dalam diri orang itu sudah luntur. Maka semakin kita sadar akan roh keputraan kita seperti Yesus, maka semangat untuk mengosongkan diri, untuk meninggalkan egoisme dan kepentingan kita sendiri, akan semakin besar..

Kalau Yesus menyuruh agar para murid juga ikut memanggul salib itu bukan supaya para murid bekerja yang berat-berat, tetapi berani memikul konsekwensi iman, tertutama berani mengosongkan diri, menganggap diri bukan apa-apa dan berani mengisi hidup kita dengan roh keputraan.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply