Mimpi Membangun Lembah Karmel di Merauke, Papua (1)

cikanyere

Sering kali kita melewatkan peristiwa-peristiwa sangat penting dalam kehidupan. Bahkan tidak sedikit orang mengabaikan sejarah. Padahal seringkali kita bisa memetik nilai-nilai dalam sejarah. Oleh karena begitu pentingnya dokumen, maka kami mengumpulkan data-data di lapangan.

Romo Yohanes Indrakusuma CSE datang bersama Suster Lisa, Suster Marta, Suster Scholastika, Frater Dionisius dan tim kecil atas undangan Uskup Agung Keuskupan Agung Merauke: Mgr. Nicolaus Adi Seputra MSC . Itu terjadi tahun 2005 dalam rangka menyambut 100 tahun Gereja masuk di Tanah Papua. Dalam kunjungan tersebut diadakan retret bina iman di katedral gedung lama (Vertenten) Jl. Mandala Merauke selama tiga hari.

Setelah pembinaan iman selesai, Sr. Scholastika Putri Karmel menawarkan kepada para peserta retret untuk mengikuti pembinaan lanjutan yaitu retret awal. Orang-orang yang mengikuti bina lanjutan tersebut kemudian membentuk KTM Merauke.

Romo Yohanes Indrakusuma datang bersama dengan Sr. Skolastika, Sr. Yosepa, Sr. Lisa dan Fr. Dion. Mereka mengadakan pertemuan dengan anggota KTM di Bela Vista Merauke. Sedangkan Romo Yohanes Indrakusuma CSE mengadakan retret untuk para romo, sedangkan para suster dan frater mengadakan pengajaran bagi para anggota KTM

Karena di Merauke sudah dibentuk KTM, maka mulailah datang undangan untuk mengikuti Bimbingan Khusus (Binus) di Lembah Karmel Cikanyere di Cipanas, Jawa Barat. Dari beberapa yang pernah mengikuti pembinaan tersebut antara lain Ibu Sri sebagai Ketua Distrik KTM Merauke pada tahun 2011.

Menurut penuturan Ibu Sri, ketika beliau hendak berangkat mengikuti pembinaan tersebut, ia menghadap Mgr. Nicolaus Adi Seputra untuk mohon berkat restu mengikuti raker (rapat kerja) para pelayan distrik tahun 2011. Nah dalam perjumpaan tersebutlah muncul gagasan tentang “Lembah Karmel di Merauke”.

Mgr. Nicolaus Adi Seputra MSC berkata kepada Ibu Sri, “Saya ingin di Keuskupan Merauke ada tempat serupa Lembah Karmel sehingga umat bisa berakhir pekan, berekreasi dan pembinaan rohani. Saya melihat akhir pekan banyak keluarga datang dari berbagai kota dan menginap di Lembah Karmel. Kita bisa mendirikan “Lembah Karmel” di tepi pantai seperti Gudang Arang atau SP7.”

Gagasan Mgr. Nicolaus Adi Seputra diteruskan oleh Ibu Sri kepada pembina volunter pada Agustus 2012 dan mendapat respon yang positif dari  Romo Yohanes dan Bapak Fani selaku pembimbing para volunter. Romo Yohanes lebih memilih lokasi di Serapu, lokasi yang hendak dihibahkan untuk Serikat Puteri Karmel yang pernah dijanjikan oleh Bapak Martinus tahun 2005.

Juni 2013, Pak Budi dan Pak Hardiyanto selaku Dewan Pimpinan Pusat (DPU) dan wakil datang ke Keuskupan Agung Merauke untuk menindaklanjuti harapan (mimpi) Mgr. Nicolaus Adi Seputra MSC. Kehadiran beliau untuk melihat lokasi untuk membangun “Lembah Karmel” di Merauke. Mereka meninjau ditemani oleh Ketua Distrik Merauke  Ibu Sri dan Ibu Anton di lokasi SP7 dan Gudang Arang.

Romo-Yohanes-Indrakusuma-OCarm-di-Lembah-Karmel-Cikanyere
Romo Yohanes Indrakusuma CSE (Ist)

Romo Yohanes Indra Kusuma di bulan September awal 2013 datang ke Keuskupan Agung Merauke bersama Sr. Felisia Puteri Karmel dan menginap di rumah Bapak Martinus. Kehadiran mereka untuk meninjau lokasi yang dijanjikan oleh Bapak Martin di Serapu Merauke. Beliau lebih tergerak hati lebih memilih serapu untuk mendirikan “Lembah Karmel” di Merauke.

Juli 2015, Pastor Gabriel CSE datang ke Merauke untuk pembinaan para volunter sekaligus melihat tanah di Serapu serta koordinasi dengan Mgr. Nicolaus tentang rencana mendirikan “Lembah Karmel” di Serapu. Dalam kunjungan tersebut  Mgr. Nicolaus Adi Seputra MSC.

Catatan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Dukungan Pak Martin 100%
  • Dukungan dari KAME 100%
  • Yang perlu diperhatikan: Tenaga purna waktu utk mengurusi projek dan siap “gubug” untuk memulai kegiatan.
  • Pengelola tetap: tinggal di tempat (Serapu); paling tidak satu tim (3-4 orang), NA MSC

7 Januari 2015

Demikian pula hal tersebut juga pernah disampaikan kepada para volunter. Demikian pula secara lisan Mgr. Nicolaus Adi Seputra Msc berkata kepada ibu Sri dan Dewi volunter di Keuskupan Jl. Mandala 30 Merauke.

“Lembah Karmel” segera bisa dibangun karena 100 prosen dapat izin dari Bapak Martin selaku pemilik tanah, dan mendapat izin 100 prosen dari saya (Mgr. Nicolaus Adi seputra MSC).

19 Februari 2015, Romo Yohanes Indrakusuma CSE memberi mandat kepada Pastor Titus Budiyanto untuk mulai membangun “Lembah Karmel” ketika Pastor Titus Budiyanto tengah melakukan retret tahunan di pertapaan padang gurun.

Catatan dari Mgr. Adi Seputra

Untuk membangun mulai dari yang sederhana disepakati oleh Romo Yohanes Adi Seputra dan Sr. Agatha Puteri Karmel. Disepakati bentuk bangunan akan memodel pertapaan lama di Lembah Karmel Cikanyere di Cipanas, Jawa Barat.

Sepulang dari retret di pertapaan padang gurun pertapaan Shanti Bhuana Cikanyere di Cipanas, Bapak Yohanes Tjahyadi  mendapat inspirasi untuk membangun “Lembah Karmel” seperti rumah Bapak Fransiskus Tjahyadi di Wasur Merauke.  Bapak Acang sepakat dengan pemikiran Bapak Akong. Maka Yohanes Tjahyadi minta konsultan untuk menggambar beberapa bangunan.

Bangunan yang hendak dikerjakan di Serapu yakni kapela, ruang pertemuan, ruang inap putra dan putri, rumah volunter, rumah untuk para pastor, dapur dan ruang makan. gambar yang dikeluarkan oleh konsultan sudah dikirim oleh ketua panitia kepada Romo Yohanes Indrakusuma CSE dan sudah direstui olehnya.

Panitia pembangunan

Bersamaan dengan pengerjaan gambar tersebut di atas KTM Distrik Merauke dan 4 volunter mulai membentuk Panitia.

Berikut adalah susunan panitia:

Pelindung: Mgr. Nicolaus Adi Seputra, MSC

Penanggungjawab: Pastor Titus Budiyanto

Ketua Pembanguna: Bpk. Yohanes Tjahyadi

Teknik dan Pembangunan: Bpk. Fransiskus Tjahyadi

Bendahara: Ibu Moy dan Ibu Linda

Penghubung volunteer: Bpk. Agus

Setelah menerima gambar dari konsultan, yang dikirimkan oleh Yohanes Tjahyadi tanggal 15 Mei 2015, Romo Yohanes Indrakusuma CSE dan memberi masukan lewat SMS.

Masukan beliau sebagai berikut: “Gambar-gambar sudah saya terima. Di situ ada: Pondok Doa, 4×6 + km/wc dan dapur. Juga Gedung Pertemuan, 6×10 + km/wc. Kalau itu pada kesempatan tertentu juga dipakai sebagai bangsal tidur, apa 1 km/wc cukup ? Kecuali itu, apa Rumah Voluntir tidak perlu tambah kamar, kalau-kalau ada tamu?”

Setelah berkomunikasi dengan Romo Yohanes tentang proses tahapan pembangunan, maka tertanggal 16 Mei 2015 Romo Yohanes Indrakusuma CSE menulis email kepada Pastor Titus Budiyanto.

Isi email beliau sebagai berikut:

“Romo Titus, Terima kasih untuk infonya. Gambar-gambarnya sudah sangat mendetail. Sesuai dengan apa yang romo tulis, silahkan mulai saja bila sudah memungkinkan. Kami dukung dari sini. Apakah romo sudah punya anggarannya, walaupun secara kasar, supaya nanti bisa saya   sampaikan kepada DPU KTM, supaya mereka juga ikut menanggung biaya pembangunan tersebut. Syalom, Rm Yohanes”

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: