Mider Kutho, Belajar Sambil Keliling Kota Ala Siswa SD Kenalan

Anak SD Kenalan menyaksikan kereta api/ Foto : Onesimus Maryono

Mider Kutho Yogyakarta


Dengan wajah ceria, sekelompok anak berjalan di tengah keramaian Kota Yogyakarta. Berpakaian sederhana, mengenakan tas punggung, dan bertudung caping, sembilan anak SD Kanisius Kenalan, kecamatan Borobudur kabupaten Magelang sedang Mider Kutho di Yogyakarta. Gerak geriknya mengundang perhatian sebagian warga yang dijumpainya.



Berjalan kaki menjangkau berbagai sumber belajar di kota Yogyakarta dilakoni anak-anak desa itu selama 2 hari, Rabu – Kamis, 14 – 15 Februari lalu. Berbagai tempat belajar dikunjunginya mulai dari Benteng Vredeburg, Keraton Yogyakarta, Taman Sari, dan Lingkungan sepanjang Malioboro – Tugu Golong Gilig, pada hari Rabu (14/2). Dan, pada hari Kamis (15/2) mereka belajar di Taman Binatang Gembira Loka dilanjutkan di Taman Pintar.


Perjalanan yang cukup melelahkan tapi juga menyenangkan kesan Margareta Meta (12) satu dari peserta Mider Kutho kali ini. “Ini masih jauh ya, Bu?” tanya Galen (11) peserta lain yang telah merasa capek kepada guru pendamping selepas mengunjungi Masjid Agung menjelang sore hari.


Sebelum singgah ke Masjid Agung, rombongan kecil ini telah masuk ke kraton; mulai dari Alun-Alun Lor, Pagelaran, Kedhaton, hingga Alun-Alun Kidul.  Istirahat makan siang sejenak, lalu mengunjungi Taman Sari dan sekitarnya.


Dalam kebersamaan, rasa lelah anak-anak itu tak menghambat perjalanannya. Tampak gembira menyusuri kampung kampung di sekitar kraton hingga jalanan di Malioboro. Di penghujung utara Malioboro, perjalanan mereka terhenti oleh palang pintu kereta api. Seketika perhatian mereka terfokus pada kereta api yang sedang melintas ke arah timur. Sebagian agak membungkuk sepertinya ingin tahu  gerak kereta itu dan isi di dalam gerbongnya. Setelah palang terbuka kembali, beberapa anak segera berlari kecil menuju rel kereta dan memperhatikannya. Guru pendamping menemaninya dan menjelaskan secara sekilas tentang benda  yang diamatinya.


Setelah menyeberangi lajur rel kereta, mereka berhenti sejenak untuk minum. Lagi-lagi, mereka mendengar suara mesin kereta api. Mendekatlah mereka ke pinggiran dan memandangi lajunya kereta. “Bising, kalau di sini saya tidak bisa tidur”, sepontan tanggapan Wening yang belum pernah melihat kereta api.



Kaki-kaki kecil itu kembali melangkah ke arah utara mengikuti jalan Mangkubumi. Tibalah mereka di simpang empat jalan raya. Dilihatlah tugu tegak berdiri di tengah-tengahnya. Sambil duduk di sekitar maket, anak-anak melengkapi lembar kerja dan menggambar sket Tugu maskot Jogja itu.


Tugu Jogja, ketika dibangun pada tahun 1756, berbentuk Gilig dan pada puncaknya berbentuk bulat, maka disebut Golong Gilig. Pada tahun 1867 terjadi gempa dahsyat dan meruntuhkan tugu itu. Pada tahun 1889, tugu itu dibangun kembali dengan bentuk seperti yang tampak saat ini.


Menjelang petang, perjalanan dilanjutkan menyusuri Kota Baru menuju asrama Realino di Jl. Mataram sembari mencari dan membeli makan malam. Jam 19.20 anak-anak tiba di tempat penginapan masih dalam keadaan segar, setelah menempuh jarak sekitar 8 km.


Pagi harinya, anak-anak kelas VI ini lebih bersemangat meneruskan Mider Kutho. Mereka ingin segera meninggalkan penginapan dan melanjutkan perjalanan hari kedua yang akan menggunakan moda transportasi bus TransJogja untuk tujuan Gembira Loka dan Taman Pintar.


Tempat belajar hari kedua lebih bernuansa rekreatif tanpa mengurangi muatan edukatif. Di Gembira Loka, mereka memperhatikan berbagai jenis binatang. Secara berkelompok, anak-anak mengidentifikasi jenis binatang ke dalam kelompok herbivora, karnivora, omnivora, atau insektivora. Dan, tergolong vivipar, ovipar, atau ovovivipar, sekaligus vertebrata atau invertebrata. Lebih dari itu, mereka mengeksplorasi sumber-sumber belajar  lain yang masih berhubungan dengan binatang.


Selepas makan siang, kegembiraan mereka  digenapi dengan beralih dan belajar di Taman Pintar. Planetarium, Gedung  Kotak, dan Oval serta berbagai jenis permainan mereka jelajahi. Semua pengamatannya memperkaya pengetahuan mereka tentang sains.


Mengenali Sumbu Imaginer Kraton


Sebelum berangkat Mider Kutho, anak-anak itu sempat membaca teks tentang Sumbu imajiner kraton Yogyakarta yang meliputi Tugu Golong Gilig – Kraton- Panggung Krapyak. Garis lurus itu bermakna Sangkan Paraning Dumadi, gagasan Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi.


Sumbu imajiner itu mempunyai dua pemahaman, yang pertama dari arah selatan ke utara. Bermula dari Panggung Krapyak – Alun-alun Selatan – Kemagangan – Keraton – hingga Tugu. Garis ini mengambarkan perjalanan manusia sejak dilahirkan hingga dewasa, menikah sampai melahirkan anak.


Yang kedua, dari utara ke selatan. Bermula dari Tugu Golong Gilig – Kepatihan – pasar Beringharjo – Simpang Empat – Alun-alun Utara – hingga ke Keraton. Masuk ke Keraton mennggambarkan pulang ke alam baka. Hal ini melambangkan perjalanan manusia untuk menghadap Yang Mahakuasa.


Bagi anak-anak, konsep itu tidak mudah dipahami. Setidaknya, perjalanan ini membawa mereka untuk melihat simbol-simbol yang ada. Pengenalan akan simbol ini diharapkan membuka ingin tahunya tentang budaya adi luhung.


Belajar Efektif


Perjalanan Mider Kutho anak-anak Kenalan ini dilakukan untuk memadukan beberapa tujuan kegiatan, antara lain mengenali peninggalan budaya keraton Yogyakarta, memahami binatang dan pengetahuan alam, dan menguatkan karakter anak. Pemaduan kegiatan pembelajaran ini sebagai upaya untuk mecipta pembelajaran integratif yang efektif dan menyenangkan.


Menapaki ruang-ruang keraton Yogyakarta dan sekitarnya bagaikan menyingkap halaman-halaman cerita sejarah yang memperkaya pengetahuan. Benda-benda peninggalan sejarah baik yang sudah tidak digunakan maupun yang masih digunakan merupakan kekayaan tradisi yang harus tetap dirawat dan dilestarikan.


Mengamati dan berinteraksi dengan binatang di kebun binatang mempertegas pengetahuan tekstual yang telah diperoleh melalui pembelajaran di kelas. Keterbatasan sumber belajar di sekolah dapat dilengkapi dengan pengalaman belajar di luar yang lebih memadai. Proses mengkonstruksi pengetahuan menjadi lebih lengkap dan mendalam.


Hal lain yang juga penting bagi anak adalah belajar berpisah dari keluarganya.  Anak mengelola diri dalam kebersamaan dengan teman sebaya di tempat yang relatif tidak dekat dari rumahnya. Masing-masing anak berperan dalam dinamika belajar bersama. Peran pendamping tidak lagi mendominasi dalam setiap kegiatan belajar. Dengan demikian, pengalaman anak semakin utuh didapat.


Bagi anak-anak, pengalaman belajar ini dimulai dari menyiapkan caping dan menghiasnya, membuat wadah uang saku, merencanakan anggaran selama dua hari, membaca teks materi, dan membuat kesepakatan laku Mider Kutho baik bagi yang berlaku untuk individu  maupun bagi kelompok. Sesederhana apapun kesepakatan harus dibuat demi terjaganya kebersamaan kelompok dan keberhasilan belajar.



Kebutuhan makan dan operasional selama di kota Yogyakarta diurus sendiri oleh masing-masing anak. Mereka mengelola uang saku yang telah disepakati untuk makan/minum, membayar tiket, dan kebutuhan pribadi yang lain. Semua pengeluaran keuangan tercatat sesuai dengan traksaksinya.


Dampak dari pengeluaran yang tercatat dan sesuai kebutuhan, anak-anak masih dapat membelanjakan sisa uang saku mereka selama dua hari untuk membeli buku di Shopping Center (toko buku diskon). Buku yang dibelinya menambah kenangan tersendiri dalam kegiatan Mider Kutho ini.


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: