Mgr Subianto: Ketidakpedulian global adalah ”kusta” yang sebabkan manusia tak manusiawi lagi

Mgr Subianto


Ketidakpedulian global kiranya merupakan bukti berjangkitnya ”kusta”, yaitu penyakit yang menyebabkan manusia tidak manusiawi lagi dan manusia tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Salah satu akibat dari ”kusta” ketidakpedulian yang ada di depan kita adalah pencemaran air sungai yang mengakibatkan berbagai penyakit dan banjir.


Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC mengatakan hal itu dalam Surat Gembala Prapaskah 2018 untuk Keuskupan Bandung bertema “Tergerak Berbagi Berkat” yang dibacakan di semua di wilayah keuskupan itu pada Misa Minggu Biasa VI, Hari Orang Sakit se-Dunia, 10 dan 11 Februari 2018.


Dalam surat itu Mgr Subianto bertanya, “Berapa banyak sampah yang dibuang ke sungai setiap hari? Berapa banyak kotoran dialirkan ke sungai setiap saat? Berapa banyak limbah yang dibuang ke sungai setiap waktu? Berapa banyak racun yang terkumpul dalam sungai setiap detik?”


Uskup juga meminta sungai yang berukuran besar maupun kecil dicermati dan selokan yang ada di sekitar kita dilihat! “Bagaimana keadaannya? Kalau ada hujan (besar), genangan air terjadi di banyak tempat. Banjir melanda beberapa wilayah, bahkan secara rutin, seperti di wilayah Bandung Selatan,” kata uskup.


Pertobatan sejati, menurut Mgr Subianto berdimensi empat, makin dekat dengan Allah, makin betah dengan diri sendiri, makin akrab dengan sesama, dan makin berpihak pada alam. “Pertobatan perlu diwujudkan dalam berbagai gerakan melalui pantang dan puasa, doa dan tapa, serta amal dan kasih,” tegas uskup yang juga Sekretaris Jenderal KWI itu.


Salah satu gerakan yang kini sedang digalakkan di wilayah Jawa Barat, di mana Keuskupan Bandung berada, jelas uskup, adalah gerakan Citarum Harum. “Pejabat pemerintah dan aparat TNI/POLRI bergandengan tangan dengan umat dan masyarakat memulihkan Sungai Citarum dengan berbagai cara: penyuluhan masyarakat, pembersihan sungai, penghijauan hulu, penertiban bantaran sungai, pengerukan sungai, dan penyehatan air.”


Namun, di balik program Citarum Harum itu, lanjut uskup, ada kesadaran dan gerakan untuk memulihkan kehidupan. “Sungai Citarum itu hanya salah satu sungai. Marilah kita terapkan juga pada sungai-sungai lain baik kecil maupun besar. Polusi air itu hanya salah satunya, marilah kita pulihkan keutuhan ciptaan yang terjadi juga karena adanya polusi mental, moral, dan spiritual,” pinta Mgr Subianto.


Selain itu, Mgr Subianto dalam bagian akhir suratnya meminta umatnya untuk menjadikan laku tobat mereka di masa Prapaskah ini sebagai pembaharuan kesadaran dan gerakan peduli pada alam sebagai konsekuensi kepedulian pada hidup sesama dan sebagai perwujudan iman pada Allah.


“Dengan mati raga dan puasa, kita makin sadar untuk mengontrol diri agar tidak menjadi gangguan bagi sesama. Dengan doa dan tapa, kita makin peka akan panggilan Allah untuk memulihkan kehidupan. Dengan amal dan kasih, kita makin mampu berbagi rejeki dengan sesama,” tegas uskup seraya meminta umat untuk bersama masyarakat meningkatkan kesadaran dan mengembangkan gerakan solidaritas sosial demi keutuhan ciptaan.


Uskup mengusulkan agar umat wujudkan kesadaran itu dengan gerakan sederhana yang dimulai dari keluarga sendiri, misalnya mengurangi sampah, membuang sampah pada tempat yang pas, melakukan penghijauan, dan menjalankan penghematan air.(paul c pati)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: