Mgr. Pius Riana Prabdi: Surat Gembala Prapaska 2016 Keuskupan Ketapang

Bergerak dan Berjuanglah:  Berani Mempertahankan dan Memperjuangkan Kalimantan Baru

Para Ibu, Bapak, Suster, Pastor, Bruder, orang muda, anak-anak dan saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

Hari Rabu tanggal 10 Februari 2016 adalah Hari Rabu Abu. Rabu Abu adalah permulaan masa Prapaska dan hari pantang dan puasa. Masa Prapaska tahun 2016 menjadi istimewa karena berada dalam Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Tahun Suci Luar Biasa dibuka oleh Paus Fransiskus pada tanggal 8 Desember 2015.

Tema Tahun Suci Luar Biasa adalah Murah hati seperti Bapa. Tahun Suci biasanya dirayakan tiap 50 tahun. Tahun Suci dilaksanakan untuk menyeimbangkan hidup bersama sebagai Umat Allah. Pada Tahun Suci semua orang yang menjadi budak dibebaskan, tanah yang dijual dikembalikan kepada pemiliknya dan hutang dihapuskan. Gereja melaksanakan perayaan ini dan sejak tahun 1475, oleh Paus Paulus II, dirayakan setiap 25 tahun. Tahun Suci Biasa dirayakan pada tahun 2000. Sedangkan Tahun Suci Luar Biasa, dirayakan pada tahun 1983 untuk mengenangkan 1950 tahun penebusan Kristus.

Dalam bulla (surat penetapan) Tahun Suci Luar Biasa, Paus Fransiskus mengajak untuk: “Terus menerus merenungkan belas kasih Allah. Belas kasih Allah adalah sumber sukacita, ketentraman dan damai. Keselamatan kita bergantung pada belas kasih Allah. Belas kasih Allah adalah tindakan Allah yang paling agung dan paling tinggi; dengan belas kasih, Allah datang menjumpai kita.” Tema masa Prapaska atau Aksi Puasa Pembangunan adalah “Bergerak dan Berjuanglah: Berani Mempertahankan dan Memper-juangkan Kalimantan Baru”. Oleh karena itu, masa Prapaska adalah masa untuk lebih banyak berdoa, bertobat dan berbuat amal kasih.

Saudari dan saudaraku yang terkasih,

Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya mengalami kemurahan hati Allah. “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni”. Kemudian, Yesaya menjawab panggilan Allah. “Inilah aku, utuslah aku!”

Paus Fransiskus berani menetapkan Tahun Suci Luar Biasa karena melihat pola pikir dunia yang mengerikan: “Janganlah jatuh ke dalam perangkap pola pikir yang mengerikan, yang beranggapan bahwa kebahagiaan bergantung pada uang dan bahwa dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilai atau martabatnya. Semua itu hanya khayalan! Kita tidak dapat membawa uang ke kehidupan di alam baka. Uang tidak membawa kita kepada kebahagiaan. Kekerasan yang ditimpakan kepada orang lain demi menimbun kekayaan yang berlumuran darah, tidak akan mampu membuat seorang pun berkuasa atau tidak akan mati.”

Pengalaman Yesaya menjadi cermin bagi kita di bumi Kalimantan. Betapa Allah melimpahkan kemurahan kepada kita dengan kekayaan alam dan budaya luhur hidup bersama. Betapa kaya bumi Kalimantan sampai nenek datuk kita berkata, “Hutan berjolu, sungai berikan, sasak berudang”.

Betapa kaya hidup bersama sebagai saudara ketika nugal. Betapa mulia kepribadian leluhur ketika hidup dengan semangat gotong royong. Betapa luhur adat budaya ketika “dinding disandari, lantai diduduki”. Betapa indah kebersamaan ketika duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Betapa damai ketika lebih senang bersaudara daripada bermusuhan. Betapa akrab ketika saling menyembah dan menghormat sebelum beradat. Betapa kasih ketika berbalas pantun mengajarkan pepatah dan petitih yang mengandung nilai luhur kepada anak cucu.

Dalam perkembangan zaman kita menyaksikan kekayaan alam dan budaya luhur hidup bersama semakin terkikis oleh ketamakan. Paus Fransiskus mengatakan: “Ketamakan, kelekatan pada uang, menghancurkan manusia, menghancurkan keluarga dan hubungan dengan orang lain”. Ketamakan telah membutakan hati nurani sehingga dengan sewenang-wenang membabat hutan dan merusak lembah-lembah, mengotori air sungai dengan penambangan emas liar (peti), menghancurkan hewan-hewan, serta merusak kesuburan bumi dan sistem atmosfer tanpa dapat pulih.

Bumi Kalimantan makin panas, menjadi padang ilalang. Kalimantan yang artinya sungai besar semakin menjadi mantan kali (bekas kali).

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Masa APP adalah tekad membangun Kalimantan baru dengan berdoa, bertobat dan berbuat amal kasih.

Berdoa. Dalam Injil, Yesus mengajak para rasul untuk bertekun dalam doa. “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”. Kita dipanggil untuk semakin mendalam berdoa. Buah doa yang dalam adalah taat. “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. Apakah doa kita sampai taat atau egois?

Bertobat. Dalam bacaan kedua dikatakan: “Aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku”. Pertobatan Paulus terjadi dari penganiaya jemaat menjadi pewarta Kristus. Kita dapat bertobat seperti Paulus dari jual tanah menjadi tuan di tanah sendiri. Kita bertobat dari beli pupuk menjadi buat pupuk. Kita bertobat dari membabat menjadi menanam hutan. Kita bertobat bila berdamai dengan yang bermusuhan. Kita bertobat bila beradat secara bermartabat. Kita bertobat bila bergotong royong secara tulus.

Berbuat amal kasih. Yesus bersabda: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia”. Kalimantan adalah rumah kita bersama, yang harus kita jaga bersama. Kita ubah gaya hidup boros dengan berani berkata cukup. Kita dapat mulai dari yang sederhana. Misalnya minum air dalam kemasan sampai habis tanpa tersisa setetes pun; menjaga lahan atau lubuk yang tersisa agar tetap subur dan segar; mengunjungi tetangga yang sakit atau sedang bermasalah; semua itu adalah berbuat amal kasih pada alam dan sesama.

Seraya menghaturkan terima kasih kepada saudari-saudara yang berani menjadi pelopor pembela dan penjaga kekayaan alam dan keluhuran hidup bersama supaya Kalimantan menjadi taman eden kembali, saya mengajak khususnya kaum muda untuk menjadi garda terdepan dalam mempertahankan dan memperjuangkan Kalimantan baru sebagai rumah bersama. Semoga Tuhan melimpahkan berkat dan damai sejahtera bagi keluarga-keluarga, komunitas-komunitas, bumi Kalimantan dan bumi Indonesia tercinta.

Selamat menjalani masa APP dengan bahan-bahan renungan yang telah disiapkan.

Tuhan memberkati segala usaha baik kita. Amin

Ketapang, 31 Januari 2016

Salam, berkat dan doa selalu,

† Pius Riana Prapdi

Uskup Keuskupan Ketapang

avatar Uskup Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat.

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: