Mgr. Johannes Pujasumarta: Syukur atas 50 Tahun Pembukaan Konsili Vatikan II (2)

50 tahun yang lalu terjadilah peristiwa iman yang menjadi tonggak sejarah dan pedoman arah Gereja Katolik yang hadir di dalam dunia, yaitu Konsili Vatikan II. Bangsa-bangsa di seluruh muka bumi ini menyaksikan Konsili Vatikan II sebagai Pentakosta Baru yang memperbarui kehidupan Gereja.

Sedemikian pentingnya peristiwa itu sehingga Santo Bapa Benediktus XVI mencanangkan Tahun Iman dengan menerbitkan Surat Apostolik sebagai “Motu Proprio” Pintu kepada Iman. (Porta Fidei, 4)

Syukur atas 50 tahun

Bersyukur atas 50 tahun pembukaan Konsili Vatikan II, Bapa Suci  telah mengambil keputusan untuk mencanangkan suatu Tahun Iman.  Dalam Surat Apostolik tersebut, Bapa Suci menjelaskan bahwa:

“Tahun itu akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, yakni hari ulang tahun yang ke limapuluh dari pembukaan Konsili Vatikan II, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, pada tanggal 24 November 2013. Tanggal yang mengawali Tahun Iman itu, 11 Oktober 2012, merupakan juga hari ulang tahun yang ke duapuluh dari publikasi buku Katekismus Gereja Katolik, sebuah naskah yang sudah dipromulgasikan oleh pendahulu saya, Beato Yoahnes Paulus II, dengan maksud untuk memberikan kepada segenap umat beriman gambaran tentang kekuatan dan keindahan iman-kepercayaan kita.” (Porta Fidei, 4)

Harapan saya semoga peristiwa Pentakosta Baru tersebut menjadi peristiwa iman kita juga, sehingga kita pun dapat mengalami kekuatan dan keindahan iman kepercayaan kita. 

Berkata-kata dengan “benar”

Melaksanakan peran profetis dengan mewartakan Injil Kerajaan Allah yang terwujud dalam diri Yesus Kristus pada zaman kita bersama seluruh Gereja para imam dalam pribadi Kristus sebagai kepala,  mengemban amanat untuk melakukan tugas profetik, yaitu mengubah kata menjadi kabar sukacita, mengubah verbum menjadi evangelium.

Mengubah verbum menjadi evangelium mengandaikan kemampuan para imam untuk menimbang-nimbang kata-kata mana yang digunakan, dipilih, diucapkan agar  berkata ( “dicere”) tidak menjadi mengutuk (“maledicere”), tetapi memberkati (“benedicere”).

Menggunakan kata-kata tidak senonoh, berbau kekerasan  bahkan mesum pada mimbar kotbah (“goblok”, “tak tempiling kowe”) tentu dapat melukai hati umat, yang mengakibatkan terjadinya persengketaan (“contradictio”).

Ketrampilan mengubah kata “verbum” menjadi kabar sukacita “evangelium” dalam era komunikasi yang didukung oleh media komunikasi modern ini perlu dilengkapi kearifan untuk  melakukan pemberitaan yang mengkomunikasikan informasi dengan data yang akurat (5 W, 1 H), untuk mengembangkan jurnalisme yang berimbang, yang memajukan keadilan dan perdamaian serta keutuhan ciptaan. Tanpa kearifan dalam komunikasi publik ini dapat muncul pemberitaan yang tidak proporsional yang membingungkan, bahkan meresahkan warga masyarakat.

Saya mendukung dalam rangka Tahun Iman (2012-2013) diselenggarakan Hari Studi oleh semua imam di Keuskupan Agung Semarang.

Refleki Dewan Imam KAS, 4-5 Juni 2012 dengan mengolah tema ”Tugas Mengajar Imam dalam Konteks Zaman Ini” menegaskan  peran profetis imam mengajar berpartisipasi pada tugas Kristus Sang Firman dalam Gerak Pastoral Gereja Setempat, Gereja Keuskupan Agung Semarang. 

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Muntilan, 5 Juni  2012

+ Johannes Pujasumarta

Uskup Keuskupan Agung Semarang

——————————

Photo credit: Lukisan karikatural Mgr. Puja bersama anak-anak tunarungu Purworejo (Ist)

Link:  http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/450/IMAM_MENGAJAR_

Artikel terkait: Mgr. Johannes Pujasumarta: Jadilah Imam Mengajar (1)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: