LALU, kata Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo,  pertanyaan yang wajar timbul kemudian adalah ‘apa artinya kudus?’. Menurut Mgr. Suharyo, jawaban bisa berbeda-beda tergantung darimana dicari.

Sang ahli Kitab Suci tersebut lalu bertitik tolak dari kutipan bacaan hari itu. “Dua kata yang menarik bagi saya adalah kata ‘merdeka’ dan ‘hamba’.

Bagaimana kedua kata tersebut bisa menjadi satu rangkaian sampai menjadi kudus?” demikian Mgr. Suharyo mulai menelisik.

Hanya di Gereja Katolik lah kita menemukan adanya orang kudus. Kudus bermakna rahmat atau keselamatan yang merupakan anugerah gratis dari Tuhan. Hal ini baru menjadi anugerah kalau diterima dengan merdeka. Nah, kemerdekaan kita dalam menerima rahmat Tuhan berbeda-beda kadarnya; ada yang seupil sampai ada yang 100%.

Orang kudus lah yang mampu secara 100% menerima tawaran rahmat Allah. Tawaran itu menjadikan dirinya menjadi hamba Allah.

Jawaban lain: orang kudus merupakan pribadi yang dengan cara berbeda-beda mampu menghantar orang lain kepada Tuhan berkat teladan, kata-katan, ajaran, dan sebagainya.

Melihat definisi ini, maka jelas kedua Paus tersebut adalah orang kudus.

Kata kunci dalam menilai jasa mereka adalah aggiornamento. Bagaimana pengaruh kedua Paus begitu luas mendampingi kita semua untuk sampai lebih dekat kepada Tuhan melalui pembaharuan, penderitaan, pengampunan, dan perbuatan mereka lainnya. “Tentu saja, bagi kita, tidak usah menunggu menjadi orang kudus dulu untuk menghantar orang lain kepada Tuhan,” pesan Mgr. Suharyo yang lalu menceritakan suatu kisah yang diingatnya berkaitan dengan pesan tersebut.

IMG_6356

Prosesi vandel paroki: Semua paroki se-KAJ membawa vandel-vandel paroki untuk diikutkan dalam prosesi menjelang misa syukur atas kanonisasi Paus. (Dok. Royani Lim)

Alasan masuk Katolik
Ceritanya terjadi sewaktu Mgr. Suharyo masih menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang. Suatu hari Monsinyur bertemu seorang katekis. Dalam sebuah perbincangan informal dengan Bapak Uskup, maka katekis ini menceritakan bahwa dia punya 90 katekumen.

Mgr. Suharyo meragukan angka hebat tersebut. Tetapi ketika dikonfirmasi ke pastor, ternyata hal tersebut benar adanya. Maka Monsinyur yang tercengang dan kagum kembali ke katekis tersebut, untuk menanyakan apakah sang katekis pernah bertanya kepada katekumennya apa yangm membuat mereka ingin dibaptis.

Salah satu alasan yang berkesan sehingga tetap diingat Monsinyur adalah adalah seorang bapak yang tersentuh hatinya ketika dia melayat temannya yang meninggal dan didoakan dengan doa orang-orang katolik. Doa yang menurutnya begitu indah dan menyentuh sanubarinya.

IMG_6407

Acara hiburan tampil di depan altar dibawakan oleh OMK dan kelompok lain dalam misa syukur atas kanonisasi Paus di TMII, Senin tanggal 28 April 2014. (Dok. Royani Lim)

Menolak diantar kepada Tuhan
Kisah lain yang diceritakan Monsinyur di penghujung khotbahnya adalah tentang seorang pastor yang baru pindah bertugas di tempat baru. Suatu hari imam tersebut ada keperluan ke kantor pos. Maka berjalanlah dia sambil menanyakan arah kepada orang yang ditemuinya di jalan.

Terakhir dia menanyakan kepada seorang anak kecil yang lagi bermain di pasar. Anak tersebut dengan sopan menunjukkan arah mana menuju kantor pos. “Sebelah sana Romo, setelah belokan kiri akan terlihat,” demikian petunjuk anak tersebut.

Pastor tersebut heran bagaimana anak tersebut mengenali dia sebagai pastor. “Kok tahu bahwa saya romo?” tanyanya sambil tersenyum kepada anak tersebut.

“Oh, kadang-kadang saya ke gereja Romo,” jawab anak itu.

Pastor itu meneruskan perjalanan ke kantor pos dan setelah selesai mengurus paketnya, dia berjalan melewati rute yang sama. Ketika dilihatnya anak tersebut kembali, dia menghampirinya dan berkata. “Mengapa kamu hanya kadang-kadang ke gereja?”

Dengan polos anak itu menjawab, “ bosan Romo.”

Procession the pope statue ok

Prosesi dua replika Santo Paus: Kedua patung Santo Paus yang baru ditandu masuk usai mengikuti prosesi dari Gereja St. Chatarina TMII menuju Sasono Langen Budoyo. (Dok. Royani Lim)

Pastor tersebut langsung mengambil kesempatan mewartakan Kabar Baik kepada anak tersebut. “Datanglah hari minggu ini, saya akan tunjukkan jalan ke Tuhan,” senyumnya ramah kepada anak tersebut. Tetapi anak itu menggeleng, menolak untuk ikut misa. Pastor mencoba membujuk lagi tetapi anak itu tetap tak tertarik.

Akhirnya sang pastor bertanya apa alasan yang membuat anak tersebut tidak tertarik akan tawarannya. Anak itu menjawab, “Tak mau, kantor pos saja romo tak tahu jalannya, apalagi jalan ke Tuhan.”

Kisah lucu tersebut menjadi penutup homili Mgr. Suharyo.

Acara hiburan yang menarik
Usai misa, umat diminta tetap di tempat karena akan disuguhkan serangkaian acara hiburan yang sudah dipersiapkan panitia. “Jangan pulang sekarang, karena jalanan akan macet parah, duduk dan nikmatilah makanan kecil yang disuguhkan panitia dan anda akan dihibur dengan banyak acara menarik,” demikian rayu pembawa acara agar umat tetap bertahan di tempat duduk masing-masing.

Acara-acara yang disuguhkan ternyata benar menarik.

IMG_6473

Misa syukur mirunggan: Proses misa syukur atas kanonisasi Paus sangat mirunggan (meriah) bersama Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo di TMII, Senin 28 April 2014. (Dok. Royani Lim)

Stand up comedy yang disajikan oleh Ronny Dozer, aktor dan komedian terkenal. Yang tak kalah hebatnya adalah beberapa romo muda yang tampil dengan celetukan cerdas dan mengena. Mereka memerankan calon presiden Indonesia, dengan karakteristik yang merupakan plesetan dari capres sekarang.

Umat yang hadir tampak senang dengan tampilan mereka, juga terhadap tarian saman dari mahasiswa fakultas psikologi Unika Atma Jaya, band musik Seminari Tinggi Paulus II, dan hiburan lain yang tersaji malam itu.

IMG_6473

Photo credit: Misa syukur atas kanonisasi Paus di TMII bersama Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo, Senin tanggal 28 April 2014. (Royani Lim)

Tautan: 

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.