Mgr. Dominikus Saku: Orang Zaman Sekarang tak Pakai Hati

Uskup Atambua Monsinyur Dominikus Saku memimpin misa ditemani Pastor Dekenat Belu Utara/Foto : Felixianus Ali

USKUP Keuskupan Atambua Monsinyur Dominikus Saku mengajak umat Keuskupan Atambua agar terus mendoakan para imam, biarawan-biarawati, bruder, suster dan frater supaya tetap setia pada panggilannya. Sebab, panggilan untuk hidup membiara belakangan ini mengalami banyak permasalahan dan problem.

Menurut pengakuan doktor jebolan Universitas Gregoriana Roma ini, banyak kaum muda dan anak-anak yang tidak mau lagi bersekolah di Seminari dan tidak mau memilih hidup membiara. Ini sangat memberatkan gereja lokal untuk bisa bertumbuh dan berkembang.

“Waktunya telah genap. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil kerajaan Allah untuk kehidupan kita. Kita bukan lapar akan nasi. Bukan lapar karena tidak ada sayur. Tetapi lapar karena tidak ada nutrisi rohani. Untuk itu saya mengajak kita semua yang berhimpun di dalam gedung gereja ini bahwa dalam hidup kita terdapat 3 instansi besar, pertama instansi alam semesta.”

“Kita tangkap ikan jangan pakai racun. Jual ikan jangan pakai formalin. Hutan jangan ditebas atau jangan dibakar. Air jangan diracuni, supaya kita tidak mengalami berbagai hambatan. Alam semesta kalau sudah kita bikin rusak, kita mau hirup oksigen yang segar dari mana lagi? Generasi kita adalah generasi kering kerontang,” ujar Monsinyur dengan keras saat Misa Pembukaan Tahun Hidup Bakti 2015 di Gereja Katedral Santa Maria Immaculata Atambua, Minggu (22/2/2015).

Monsinyur menyebutkan, instansi selanjutnya adalah instansi moral. Kenapa banyak pembunuhan dan kenapa banyak kekacauan di dunia ini? Kata uskup, itu karena orang-orang zaman ini sudah tidak pakai lagi hati nurani. Orang mudah perang dan menggunakan kekerasan. Mengurus sesuatu, kata uskup harus pakai hati nurani. Kita harus mengutamakan hati nurani,katanya.

Instansi ketiga adalah instansi Yesus. Yesus sebelum lahir ke dunia, lewat Yohanes Pemandi berseru bahwa luruskanlah jalan bagi-Nya. Ini merupakan tahun berahmat sehingga Keuskupan Atambua mempunyai agenda 2015 itu adalah Tahun Hidup Bakti.

“Kita jadikan tahun hidup bakti ini untuk kemuliaan Tuhan. Saya sendiri melihat dan mendengar bahwa banyak terjadi kemelut di dalam keluarga. Juga kemelut itu terjadi di komunitas para suster, bruder, frater dan imam atau biarawan. Akhirnya karya pelayanan yang Tuhan titipkan tidak berjalan dengan baik.”

“Karena apa? Karena wajah cemberut dan suka iri ini dan iri itu. Saya minta supaya kemelut-kemelut yang masih terus terjadi dalam keluarga, dalam komunitas para suster, para bruder, para frater dan para imam atau biarawan itu, harus segera diakhiri. Supaya kita dapat bekerjasama untuk menjala kaum muda dan anak-anak untuk mereka masuk kembali hidup membiara. Kalau mereka tidak mau masuk hidup membiara dan tidak mau masuk seminari lagi, siapa yang akan kasih penuh itu gereja dan biara-biara?” tanya Uskup Saku dengan nada tinggi di akhir homilinya.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply