Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, Seminaris Generasi Awal dan Uskup Indonesia Pribumi Pertama (9)

SAAT peringatan 25 tahun Seminari Menengah St. Petrus Canisius, Mgr. PJ Willekens SJ  menulis sebuah artikel di Majalah St. Claverbond dengan Judul Vorming van Een Inheemschen Clerus in De Missielanden (Pembinaan Imam Pribumi di Tanah Misi).

Dalam tulisan tersebut, Mgr. Willekens antara lain mengungkapkan tentang hambatan-hambatan yang mungkin terjadi dalam pembinaan calon imam pribumi. Salah satu kendala yang begitu terasa adalah persoalan keterbatasan dana. Meski demikian, kendala ini dapat diatasi dengan keterlibatan umat dalam membantu memberi sumbangan dana bagi pendidikan calon imam pribumi melalui Serikat Kepausan St. Petrus Rasul untuk Promosi Panggilan.

Kendala berikut yang diungkapkan oleh Mgr. Willekens adalah persoalan memilih para calon yang tepat dan memberikan mereka suatu pembinaan dengan memperhitungkan kewajiban serta bahaya yang kelak akan mereka hadapi. Dengan kata lain, menentukan model pembinaan yang sesuai dengan konteks kebutuhan Gereja setempat baik untuk saat itu, ataupun di masa depan.

Meski menghadapi kendala-kendala tersebut, Mgr. Willekens tetap berpegang pada anjuran para Paus bahwa pembinaan calon imam di tanah Misi harus tetap berlangsung. Berkaitan dengan pengembangan panggilan imamat, Mgr. Willekens menekankan tentang perlunya memperhatikan dasar alami suasana Kristiani (Katolik) di antara umat. Apa yang terjadi di Jawa (Muntilan-Yogyakarta) dengan muncul dan berkembangnya Seminari Menengah serta Seminari Tinggi merupakan suatu hal yang sangat positif bagi perkembangan Karya Misi Jawa (Indonesia). Namun apakah munculnya Seminari Menengah dan Seminari Tinggi di Jawa (Indonesia) ini menjadi tanda tercapainya tujuan akhir dari pembinaan imam-imam pribumi di Jawa?

Mgr. Albertus Soegijapranata SJ

Mengenai persoalan ini, Mgr. Willekens menulis bahwa pendidikan calon imam di tanah Misi ini dapat dikatakan telah mencapai tujuan akhir ketika di antara para imam hasil pembinaannya terpilih sebagai uskup. Harapan dari Mgr. Willekens pun tercapai pada tahun 1940, ketika Mgr. Albertus Soegijapranata SJ terpilih sebagai uskup pribumi pertama Indonesia, sebagai Vikaris Apostolik Semarang.

Pengangkatan Mgr. A. Soegijapranata SJ, seorang imam pribumi Indonesia sebagai uskup pribumi di masa itu memang amat mendesak demi kepentingan umat setempat yang sedang mengalami pergolakan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, munculnya kepemimpinan Gerejawi dari imam pribumi seperti yang diharapkan oleh para misionaris mampu membawa, memimpin sekaligus memelihara iman umat pribumi di tengah suasana pergolakan politik akibat perang revolusi kemerdekaan. Dengan terpilihnya Mgr. A. Soegijapranata, SJ sebagai uskup pribumi pertama Indonesia, mulai terbukalah pintu menuju Gereja Indonesia yang mandiri, Gereja Katolik yang benar-benar berwajah Indonesia. (Bersambung)

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply