Mgr Agus: Pengikut Yesus tak bisa hindari tanggungjawab untuk jadi agen perdamaian

Mgr Agus

Mgr Agustinus Agus diwawancarai oleh wartawan Vatikan di Ganjuran saat Asian Youth Day di Yogyakarta/PEN@ Katolik/pcp

“Kita semua sebagai pengikut Yesus Kristus yang datang ke dunia untuk membawa damai, tidak bisa menghindari tanggungjawab untuk menjadi agen-agen perdamaian, agar sukacita di antara umat manusia dan seluruh alam ciptaan menjadi kenyataan. Bukan sebaliknya, menjadi orang yang menghambat adanya rasa damai.”


Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus menulis pernyataan itu dalam Surat Gembala APP Keuskupan Agung Pontianak 2018 dengan tema “Mewujudkan Sukacita Seluruh Ciptaan di Bumi Kalimantan” yang dikeluarkan di Pontianak pada Hari Rabu Abu, 14 Februari 2018.


Sesuai tema yang juga menjadi tema Prapaskah keuskupannya itu, jelas Mgr Agus, para pengikut Yesus Kristus diajak untuk ikut ambil bagian agar hidup penuh sukacita dirasakan oleh setiap orang di bumi, di tanah air Indonesia, di mana pun berada.


Situasi hidup kemasyarakatan Indonesia yang kini diwarnai perpecahan dan kekerasan, “ditambah lagi masalah kemiskinan, tidak adanya lapangan kerja, ancaman narkoba, pergaulan bebas, pengelolaan kekayaan alam yang semena-mena, adalah tantangan nyata yang harus dihadapi agar hidup penuh sukacita menjadi milik umat manusia, khususnya kita yang hidup di bumi Kalimantan ini,” tulis uskup.


Prelatus itu melukiskan bahwa masa puasa 2018 dijalani saat “bangsa dan negara kita akan menghadapi pesta demokrasi yaitu pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota di 171 kabupaten atau kota serta provinsi di seluruh Indonesia.”


Uskup mengajak umatnya untuk berdoa agar pesta demokrasi berjalan damai sesuai harapan rakyat dan bangsa dan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berpihak kepada rakyat. “Tentu harapan kita semua agar apapun hasilnya tidak akan mengkotak-kotakkan apalagi memecah-belah bangsa dan negara kita tercinta ini,” tulis Mgr Agus seraya meminta setiap orang Katolik yang sudah memenuhi syarat memilih untuk menggunakan hak pilih sesuai hati nuraninya.


Masa puasa ini, lanjut uskup, juga dilaksanakan dalam suasana yang masih diwarnai ancaman perpecahan, perilaku kekerasan dan intoleransi yang tidak sesuai Pancasila, bahkan akhir-akhir ini tindakan kekerasan bukan hanya terhadap penganut-penganut agama tetapi terhadap pemimpin-pemimpin agama. “Sungguh sangat menyayat hati dan sangat disesalkan,” tulis Mgr Agus.


Tanggal 11 Februari 2018 “kita dikejutkan dengan penyerangan terhadap umat di gereja Santa Lidwina di Bedog, Sleman, DIY, yang menyebabkan seorang pastor, tiga awam dan seorang polisi mengalami luka-luka. Penyerangan itu terjadi ketika Misa sedang berlangsung. Hidup aman, penuh kedamaian, saling mencintai, hormat menghormati, saling menghargai yang menjadi dambaan setiap orang terasa masih jauh dari kenyataan,” tulis Mgr Agus yang merasa hidup penuh kasih antarsesama seakan hanya mimpi.


Dalam masa puasa, jelas uskup, umat yang sudah menempuh jalan yang tidak sesuai kehendak Allah, diajak kembali atau berbalik ke jalan yang benar, seperti yang disabdakan Tuhan, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh” (Yoel.2, 12).


Mgr Agus juga mengajak umat melihat kembali hidup keagamaannya, apakah sudah sesuai dengan ajaran iman yang dianut. “Kita dipanggil menghindari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan iman kita, sebaliknya memperbanyak perbuatan baik, serta menghindari dosa dan memperbanyak perbuatan amal yang penuh kasih terutama terhadap orang-orang kecil dan terlupakan.”


Secara khusus di masa puasa ini Mgr Agus minta umatnya melakukan langkah-langkah nyata agar ada sukacita di antara umat manusia, serta merajut hubungan penuh kasih dengan sesama tanpa membeda-bedakan suku, agama, budaya, ras dan antargolongan.


Di akhir surat gembala itu, Mgr Agus mengajak umatnya menyimak dan merenungkan anjuran Paus Fransiskus tentang puasa yakni, puasa mengeluarkan kata-kata menyerang dan mengubahnya dengan kata-kata manis dan lembut, puasa kecewa atau tidak puas dan memenuhi diri dengan rasa syukur, puasa marah dan memenuhi diri dengan sikap taat dan sabar, puasa pesimis dan memenuhi diri dengan optimis, puasa khawatir dan memenuhi diri dengan percaya kepada Tuhan, puasa meratap atau mengeluh dan menikmati hal-hal sederhana dalam kehidupan, puasa stress dan memenuhi diri dengan doa, puasa kesedihan dan kepahitan dan memenuhi hati dengan sukacita, puasa egois dan menggantinya dengan belarasa kepada yang lain, puasa sikap tidak bisa mengampuni dan balas dendam dan menggantinya dengan perdamaian dan pengampunan, puasa ngomong banyak dan memenuhi diri dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan orang lain.(aop/pcp)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: