Mgr Agus mendapat ‘anak’ baru dan berjanji akan menjadi bapa yang baik baginya

Diakon Matius2


Setelah berterima kasih kepada keluarga yang menyerahkan seorang anak kepadanya, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr mengatakan, mulai sekarang anak itu “menjadi ‘anak’ saya, dan sebagai uskup saya akan menjadi bapa yang baik baginya, namun bukan berarti dia putus hubungan dengan keluarganya.”


Mgr Agus berbicara dalam Misa Pentahbisan Diakon Matius di Gereja Paroki Santo Pius X Bengkayang, 3 Februari 2018. Karena diakon itu adalah diakon diosesan atau projo maka dia menjadi milik uskup dan dia diterima dalam keluarga baru paguyuban imam-imam diosesan (UNIO) Keuskupan Agung Pontianak.


“Relasi dengan keluarga sama seperti biasa. Percayalah saya sebagai uskup ingin menjadi bapa yang baik untuk Diakon Matius. Sebagai uskup, saya punya banyak anak buah yakni para imam diosesan. Masa depan mereka, termasuk Diakon Matius ada di tangan saya,” kata Mgr Agus.


Uskup agung itu bahkan meminta Diakon Matius untuk menerimanya sebagai ‘bapa’ dan berjanji akan mempersiapkan para imam diosesan sebaik mungkin. Meskipun kadang-kadang saya harus  marah, “tapi saya akan tetap baik, itu janji uskup,” kata Mgr Agus.


Selain itu Mgr Agus menjelaskan bahwa keuskupan yang dipimpinnya masih membutuhkan banyak imam, yang akan menyiapkan umat untuk hidup kekal bersama Bapa di surga. Setelah menghitung jumlah umat sekitar 600.000 dan jumlah imam sebanyak 80 orang di keuskupan agung itu, uskup menegaskan bahwa setiap imam yang ada di keuskupannya rata-rata harus melayani sekitar 7500 umat.


Disadari bahwa sebagai gembala yang harus melayani banyak domba “para imam itu kadang-kadang punya kelemahan, maka kita perlu mendoakan mereka,” kata Mgr Agus seraya meminta umatnya untuk tidak hanya melihat para imam dari segi negatifnya saja. “Banyak imam yang hanya dikenal segi negatifnya, tanpa dilihat segi positifnya. Berapa kali kalian memuji imam kalian?” tanya uskup yang mengamati lebih banyak kritik daripada pujian yang diterima para imamnya.


Diakon Matius, yang akan menjalani masa diakonat di Paroki Santo Christophorus Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, membawa motto panggilan “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.” (Mrk 8:2) dan menegaskan bahwa dia tidak akan menyerah. Bahkan dalam sambutannya dia bernyanyi: “Jangan pernah menyerah, jangan berputus asa. Mujizat Tuhan ada, saat hati menyembah.  Jangan pernah menyerah, jangan berputus asa. Mujizat Tuhan ada, bagi yang setia dan percaya.


Dari laporan yang diterima PEN@ Katolik diketahui bahwa Diakon Matius, yang lahir di Sentalang Ayun, 12 Juli 1988, berasal dari Paroki Santo Pius X Bengkayang. Setelah menjalani Masa Tahun Orientasi Panggilan  di Nyarumkop tahun 2008-2009, dia menjalani Tahun Orientasi Rohani di Seminari Tinggi Santo Giovanni XXIII, Malang, 2009-2010.


Setelah studi filsafat dan teologi dijalaninya di Widya Sasana Malang (2010-2014) dan Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Santo Yosep Samalantan (2014-2015), frater itu melanjutkan studi pasca sarjana di Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus di Siantan Hulu Pontianak Timur (2015-2017).


Frater yang sejak 2017 menjalani masa pastoral pra-diakonat di Paroki Santo Christophorus Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, terlahir di tengah keluarga Protestan yang sederhana, saat dia tumbuh menjadi anak yang gembira, mampu bersyukur meskipun tidak punya harta.


Di saat kecil cita-citanya adalah menjadi tentara. Namun dia sedih saat SMP mendengar ungkapan para orangtua di kampung: “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, nanti juga pulang kampung pegang pisau getah.” Kata-kata itu sangat melemahkan namun juga membuat Matius bersemangat untuk bersekolah.


Keterbatasan biaya dialaminya saat ingin sekolah di SMA Santo Paulus Nyarumkop, maka niatnya diurungkan. Akhirnya dia masuk SMA Santo Fransiskus Asissi Bengkayang dan tinggal di Asrama Pastoran Bengkayang dengan pembina asrama Pastor Jhon Rustam Pr dan pendamping Mateus Teon. Baru setahun di sana, ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas dan kaki kanannya patah. Peristiwa ini kembali melemahkan semangatnya untuk melanjutkan sekolah. Namun dia ditolong oleh pembinanya sehingga tetap melanjutkan sekolah sambil membantu dan bekerja di Pastoran Bengkayang.


Ketertarikan menjadi imam tumbuh saat dia diajak oleh seorang frater, diakon dan pastor ikut tourne (pelayanan) ke stasi-stasi yang jarang dikunjungi karena keterbatasan tenaga imam. Keadaan itu membuat hatinya tergerak dan masuk Tahun Orientasi Panggilan di Nyarumkop. Mulanya dia meragukan panggilannya, namun “Saya percaya akan kerahiman Allah yang begitu baik. Dialah yang memampukan saya menjawab panggilannya.”


Bupati Bengkayang Suryadman Gidot yang hadir dalam Misa Tahbisan itu turut bangga atas peristiwa itu dan berharap “semoga Diakon Matius tetap setia sampai akhir.” (mssfic/aop)


Diakon Matius4Diakon Matius3 Diakon Matius1

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: