Mg Biasa XXVI

0
10
Mg Biasa XXVI: Yeh 18:25-28; Flp 2:1-11; Mat 21:28-32

“Sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal
akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Dalam setiap kunjungan pastoralnya ke berbagai Negara atau wilayah
Gerejani Paus Yohanes Paulus II senantiasa mohon agar diundang
tamu-tamu “VVIP” (Very very important person), dan kepada mereka
inilah sebelum Perayaan Ekaristi akan pertama kali dicium dan
diberkati satu persatu. Dalam kunjungan pastoral di wilayah Keuskupan
Agung Semarang, bertempat di lapangan Angkatan Udara Adi Sucipta,
Maguwaharja, Yogyakarta, diundang tamu VVIP sebagaimana diharapkan.
Mereka itu adalah “bayi, lansia, orang cacat, orang miskin, pasien
sakit berat/hampir mati, dll.” berjumah  20(dua puluh) orang. Bukankah
hal ini berarti mereka yang pada umumnya dalam kehidupan biasa
sehari-hari kurang diperhatikan atau tersingkir, namun didahulukan,
mendahului orang-orang lainnya? Maka marilah kita renungkan kutipan
Warta Gembira hari ini.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan
perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam
Kerajaan Allah.” (Mat 21:31)
Rekan-rekan perempuan yang menjadi pelacur atau ‘menjual diri’ kepada
kaum laki-laki demi pemuasan seksual kiranya merupakan korban-korban
alias terpaksa melacurkan diri karena kesewenangan atau kebejatan
moral kaum laki-laki. Ada yang melacurkan diri karena diingkari oleh
pacarnya yang telah merenggut keperawanannya sehingga hamil dan sang
pacar melarikan diri, ada yang melacurkan diri sebagai balas dendam
terhadap suaminya yang telah dengan seenaknya berbuat serong terhadap
perempuan lain, dst.. , begitulah sebagaimana sering diberitakan dalam
aneka mass media. Dengan kata lain sebenarnya mereka adalah
orang-orang baik yang dijerumuskan ke dalam dosa oleh orang-orang yang
tak bertanggungjawab. Hal yang sama terjadi dalam diri para pemungut
cukai, yang terjebak dalam dosa structural.

Pemungut cukai dan perempuan sundal sebagaimana diwartakan dalam Warta
Gembira hari ini merupakan symbol orang-orang yang haus dan lapar akan
kasih dan kebenaran, maka ketika ada orang yang mengasihi atau
menyalurkan kebenaran kepadanya dengan sikap dan cepat mereka
menanggapinya. Kesadaran dan penghayatan diri sebagai pendosa yang
dipanggil Tuhan itulah yang dimaksudkan dengan ‘pemungut cukai dan
perempuan sundal’. Maka, baiklah sebagai orang-orang beriman atau
beragama, marilah kita menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa
Menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa yang dipanggil Tuhan
berarti memiliki sikap mental ‘terbuka’, yaitu “sikap dan perilaku
yang menunjukkan keleluasaan dalam menerima apa saja dari luar,
membuka diri terhadap umpan balik, dan mampu memuat informasi apa saja
dengan obyektif” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi
Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 28). Anak-anak kecil
pada umumnya lebih terbuka daripada orang-orang dewasa atau orang tua.
Keterbukaan diri terhadap sesamanya tanpa pandang bulu, yang berarti
hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga terbuka terhadap sesamanya di
satu sisi merupakan wujud keterbukaan diri kepada Tuhan dan di sisi
lain merupakan modal dan pendalaman keterbukaan diri kepada Tuhan.
Dengan kata lain keterbukaan diri terhadap Tuhan tak dapat dipisahkan
dari keterbukaan diri terhadap sesama manusia dan sebaliknya. Orang
yang terbuka berarti juga bersikap mental belajar terus-menerus sampai
mati. Dalam hal keterbukaan ini saya pribadi terkesan dari dan
terdidik oleh ibu/simbok saya yang beberapa waktu lalu telah dipanggil
Tuhan, dimana ia selalu membuka diri terhadap aneka informasi, entah
melalui siaran TV maupun ceritera dari orang lain, dan kemudian
diolahnya sebagai sapaan, peringatan atau sentuhan Tuhan. Kami
berharap anak-anak sedini mungkin terus diperdalam sikap mental
keterbukaan yang telah dimilikinya, antara lain dengan teladan konkret
dari para orangtuanya di dalam keluarga.
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,yang walaupun dalam rupa Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Flp 2:5-8)
Pikiran dan perasaan sangat mempengaruhi atau dominan dalam cara hidup
dan cara bertindak kita. Ada orang yang dalam cara hidup dan cara
bertindaknya begitu dikuasai oleh pikirannya dan sebaliknya ada yang
dalam cara hidup dan cara bertindaknya begitu dikuasai oleh
perasaannya, itulah dua ekstrim yang berlawanan dan sering terjadi.
Hemat saya yang baik adalah integrasi atau  sinerji antara pikiran dan
perasaan, perkawinan antara pikiran dan perasaan, yang dalam
psiko-religius sering disebut sebagai cintakasih yang rational.
Secara cintakasih rational kita yang beriman kepada Yesus Kristus
dipanggil untuk meneladan cara hidup dan cara bertindakNya yang sangat
rendah hati. Telah berkali-kali dan tak jemu-jemunya saya mengangkat
masalah rendah hati, mengingat dan mempertimbangkan masih banyak orang
yang hidup dan bertindak dengan sombong. “Rendah hati adalah sikap dan
perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu
dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya
lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan
dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti
Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24).

“Menjadi sama dengan manusia, kecuali dalam hal dosa” itulah yang
dihayati oleh Yesus. Ajakan menjadi sama bagi kita tidak berarti kita
mau sama dengan mereka yang lebih dari kita, melainkan menjadi sama
dengan mereka yang kurang dari kita, dengan kata lain kita diharapkan
‘menunduk’ bukan ‘menengadah’, melihat ke bawah bukan melihat ke atas.
“Yen mlaku  dungkluk, ojo ndlangak” (= Jika berjalan hendaknya
menunduk, jangan menengadah), demikian kata orang Jawa. Yang
dimaksudkan dengan ‘mlaku/berjalan’ di sini hemat saya adalah cara
hidup dan cara bertindak kita, yaitu hendaknya senantiasa melihat ke
bawah, memperhatikan dan mengasihi mereka yang kurang beruntung atau
kurang berbahagia atau selamat dibandingkan dengan keberadaan kita.
Kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam hidup bersama
dapat menjadi teladan dalam hal rendah hati atau ‘melihat ke bawah’
ini. Hendaknya para pemimpin atau atasan sering ‘turba’, turun ke
bawah, untuk memperhatikan dan menyapa mereka: para buruh, pekerja,
rakyat  atau komunitas. Kami berharap kepada mereka yang berada di
dalam poros ‘badan publik’ maupun poros ‘bisnis’ untuk senantiasa
bersama rakyat atau komunita di dalam perjalanan melaksanakan tugas
panggilan atau menghayati fungsinya.

“Ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam
kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan
aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala rahmat-Mu
dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak
purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku
janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih
setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar;
sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.”
(Mzm 25:4b-8)

Ign 25 September 2011

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here