Mg Biasa II – Yes 49:3.5-6; 1Kor 1:1-3; Yoh 1:29-34

“Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”

Mg Biasa II : Yes 49:3.5-6; 1Kor 1:1-3; Yoh 1:29-34


Sebut saja namanya “Pak Suto” dan pekerjaan sehari-hari adalah sebagai ‘kusir andong’ (‘sopir’ kereta kuda), sebagai sumber mata pencaharian keluarganya. Pada suatu siang ada seorang penumpang minta diantarkan dengan kereta kudanya ke suatu tujuan, penumpang tersebut sebut saja namanya ‘Hartawan’, seorang pengusaha pedesaan yang sukses. Dalam perjalanan mengendalikan kereta kudanya Pak Suto nampak ceria dan bergairah, sehingga menarik perhatian atau memikat Hartawan. Hartawan menyapa Pak Suto:”Pak, saya perhatikan bapak itu kok nampak ceria, gembira terus menerus dan tak pernah merasa sedih. Apa sih rahasianya?”. “Oh, mau tahu rahasianya?”, tanggapan Pak Suto. “Ya”, dengan cepat Hartawan menjawab. “Kalau mau tahu rahasianya besok Jum’at sore datang ke rumah saya, akan saya tunjukkan”, jawab Pak Suto. Pada hari yang ditentukan itupan Hartawan datang ke rumah Pak Suto, dan ternyata di rumah Pak Suto sedang berkumpul beberapa orang, yang dengan penuh perhatian sedang mendengarkan pengajaran agama/katekese dari seorang pastor Belanda/misionaris. “Nah, kalau mau tahu rahasianya hidup ceria dan gembira, dengarkan pengajaran bapak pastor tersebut, resapkan apa yang diajarkan dan hayati dalam hidup sehari-hari”, kata Pak Suto kepada Hartawan. Dan memang Hartawan akhirnya mengikuti jejak Pak Suto, menjadi murid atau pengikut Yesus Kristus. Kesaksian hidup Pak Suto itulah yang menarik dan memikat Hartawan.

 

“Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah”. (Yoh 1:34)       

 

Yohanes Pembaptis adalah bentara Penyelamat Dunia, hidup dan berkarya untuk membantu orang melihat dan mengimani Yesus sebagai Anak Allah, Penyelamat Dunia. "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”(Yoh 1:32-34), demikian kata Yohanes kepada para pendengarnya atau pengikutnya. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk menjadi saksi-saksi iman, antara lain menjadi bentara keselamatan atau kebahagiaan sejati dengan kesaksian hidup sehari-hari. Maka marilah kita mawas diri apakah cara hidup dan cara bertindak kita menarik dan memikat orang lain untuk semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

 

Kita semua sebagai orang beriman dipanggil untuk menjadi saksi bahwa Allah hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Allah hidup dan berkarya melalui RohNya yang antara lain memiliki cirikhas dinamis dan bergairah, maka hidup dan bertindak bersamaNya berarti senantiasa dinamis dan bergairah. Dengan kata lain marilah kita bagaikan ‘orang gila atau sinthing’ yang senantiasa senyum-senyum terus menerus, telanjang tiada punya malu, tidak pernah menyakiti orang lain, menarik dan memikat semua orang yang melihatnya. Kegilaan atau kesinthingan kita bukan karena sakit jiwa melainkan karena hidup dan bersatu dengan Allah kapanpun dan dimanapun juga.

 

Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama maupun melayani sesama melalui aneka pekerjaan, tugas atau profesi atau fungsi, dapat menjadi saksi-saksi iman, yang menarik dan memikat. Dengan kata lain marilah kita ‘berbisnis pelayanan’, sibuk melayani dengan rendah hati, senyum, ceria dan bergairah serta tidak pernah mengecewakan yang dilayani sedikitpun. Apa yang sedang kita hadapi atau kerjakan hendaknya dilakukan dengan penuh pelayanan, dengan semangat dan sikap untuk senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan yang dilayani. Kita adalah ‘penjual’, dan mereka yang kita layani adalah ‘pembeli’, marilah kita layanilah sebaik mungkin para pembeli agar mereka kemudian menceriterakan pengalaman indahnya kepada saudara-saudarinya alias menjadi pembantu ‘marketing’ atau ‘tugas pewartaan’ kita. Kepada para penyelenggara maupun pelaksana aneka macam karya pelayanan kesehatan, sosial dan pendidikan kami harapkan melaksanakan tugas pengutusannya sebaik mungkin, sehingga mereka yang menerima pelayanan anda tak pernah kecewa dan dengan demikian menjadi pembantu kita dalam ‘marketing’.

 

“Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu ” (1Kor 1:3)  

 

Kutipan di atas ini pada masa kini menjadi sapaan awal Perayaan Ekaristi, yang dilakukan oleh pemimpin ibadat atau pastor. Dan sebenarnya juga sering kita lakukan ketika berjumpa dengan orang lain kita berkata “Selamat datang, selamat pagi, selamat….Salam damai sejahtera, dst..”.  Kata-kata atau sapaan yang begitu indah dan bermakna tersebut terjadi pada awal suatu kegiatan atau perjumpaan dengan harapan agar seluruh kegiatan atau perjumpaan berada dalam kasih dan damai Tuhan, dengan kata lain selama bergiat, berusaha atau berjumpa kita saling mengasihi satu sama lain.

 

Agar kita dapat mengasihi dengan baik, maka diharapkan kita senantiasa berada dalam ‘kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah’, artinya cara hidup dan cara bertindak kita tak perlah terlepas dari Allah, Allah senantiasa hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Kita menjadi pembawa dan saksi kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, maka kita memiliki tugas pengutusan sebagaimana dimiliki oleh Yesaya: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi."  (Yes 49:6). Cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun hendaknya menjadi ‘terang’ atau ‘facilitator”. Kehadiran dan sepak terjang kita senantiasa mempermudah orang lain untuk berbakti kepada Tuhan, semakin beriman, semakin hidup suci dan tak bernoda.

 

Menjadi ‘terang’ atau ‘facilitator’ pada masa kini secara konkret antara lain menghayati keutamaan-keutamaan seperti ‘jujur, adil, disiplin dan rendah hati’. “Jujur adalah sikap dan perilaku, yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Orang jujur akan hancur untuk sementara, tetapi akan mujur selamanya. Hidup dan bertindak jujur pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan korupsi dan kebohongan masih marak di sana-sana. Gayus dalam salah satu pembelaannya di pengadilan mengatakan bahwa semua pejabat di Direktorat Perpajakan adalah koruptor, maka untuk memberantas korupsi antara lain perlu ada pembaharuan total di Direktorat Perpajakan. Sekali lagi kami angkat: hendaknya kejujuran sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan di dalam keluarga maupun pendidikan, antara lain dengan teladan konkret dari para orangtua dan para guru/pendidik. Marilah kita hayati kasih karunia dan damai sejahtera Allah dengan hidup dan bertindak jujur dimanapun dan kapanpun.

 

“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN.”

(Mzm 40:7-10)

Jakarta, 16 Januari 2011

   .               

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: