Mewaspadai Tiga Hal (3) : Keangkuhan

Ayat bacaan: Amsal 8:13
=======================
“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.”

keangkuhan, mewaspadai tiga hal, 1 Yohanes 2:15-16

Angkuh dalam bahasa Indonesia punya banyak padanan kata seperti sombong, congkak, pongah, takabur dan sebagainya. Semua ini mengarah pada pengertian yang sama, yaitu menghargai diri secara berlebih-lebihan dan memandang orang lain lebih rendah dari diri sendiri. Ketika pagelaran Java Jazz 2008 digelar di bulan Februari lalu, saya berkali-kali bertemu dengan Jean Paul “Bluey” Maunick pentolan Incognito. Saya sangat terkesan, orang setenar dia ternyata punya kerendahan hati yang luar biasa. Dia tidak pernah menolak diajak foto bareng oleh fansnya, selalu tersenyum dan menjawab pertanyaan siapapun dengan sangat ramah. Dia berbaur dan berjalan bebas ditengah kerumunan penonton dengan santai. Ketika saya tanya apakah dia tidak merasa terganggu dengan banyaknya orang yang terus menerus mengajaknya berfoto, dia tersenyum dan menjawab “not at all.” Bluey berkata bahwa dia tidaklah berarti apa-apa tanpa penggemarnya. Tidak ada gunanya berkreasi membuat lagu-lagu jika tidak ada yang mendengar. Karena itu dia tidak pernah keberatan untuk temu ramah dengan fans dimanapun dia pergi. Ketika kita kerap mendengar artis-artis yang menuntut penghargaan dan fasilitas berlebihan untuk tampil di sebuah kota atau negara, apa yang dibuat Bluey terasa begitu menyejukkan.

Menyambung dua renungan terdahulu yang bersumber dari 1 Yohanes 2:15-16, hal ketiga yang patut kita waspadai adalah keangkuhan. Ketika kita berada dalam posisi yang tinggi dalam jabatan, ketika kita memiliki suatu kelebihan dibanding orang lain, baik dalam hal harta, kemampuan atau skill dan lain-lain, dosa keangkuhan ini diam-diam dapat menyelinap dalam diri kita. Keangkuhan dapat membutakan rohani, sehingga lupa bahwa semua yang ia dapat berasal dari berkat Tuhan, bukan atas kemampuannya semata. Betapa ironisnya jika orang yang diberkati Tuhan dengan talenta atau kemakmuran bukannya bersyukur dan semakin peduli, tapi malah menjadi sombong. Karena itulah sikap angkuh atau sombong menjadi salah satu dari tujuh hal yang dibenci Tuhan seperti yang diuraikan Salomo dalam Amsal 6:16-17. “Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya:mata sombong….” Mata sombong dalam bahasa Inggrisnya disebutkan “Proud look”, sikap yang meninggikan diri sendiri dan menganggap rendah orang lain.

Alkitab mencatat banyak kisah mengenai ketidaksukaan Tuhan terhadap keangkuhan. Mari kita lihat beberapa diantaranya. Kita lihat kisah raja Hizkia dalam kitab 2 Raja Raja dan 2 Tawarikh. Hizkia adalah seorang raja yang saleh yang punya hubungan dekat dengan Tuhan. Hizkia dikenal selalu berpaut pada Tuhan dan berpegang pada perintah-perintah Tuhan sehingga dikatakan bahwa tidak ada lagi yang sama seperti dia diantara raja-raja Yehuda. (2 Raja Raja 18:5-6). Sayangnya ditengah kelimpahan berkat Tuhan yang selalu menyertainya, Hizkia sempat jatuh dalam keangkuhan. Akibatnya hampir saja Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka Allah. Untunglah Hizkia cepat sadar akan keangkuhannya sehingga murka Allah tidak sampai menimpa bangsa yang dipimpin Hizkia pada masa pemerintahannya (2 Tawarikh 32:25-26). Dari ksah lain, mari kita lihat apa yang terjadi pada raja Nebukadnezar dalam kitab Daniel. Keangkuhan yang membuat Nebukanedzar meninggikan diri diganjar Tuhan dengan membuat dirinya menjadi seperti lembu hingga tujuh masa. (Daniel 4:1-37).

Keangkuhan sangatlah berlawanan dengan kerendahan hati yang menjadi ciri khas kekristenan. Allah pun sangat menentang keangkuhan. “Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”(Yakobus 4:6) Ketinggian hati akibat keangkuhan membuat orang menolak bergantung pada Allah dan memberikan kepada diri sendiri kehormatan yang seharusnya diberikan pada Tuhan. Seperti halnya keinginan daging dan keinginan mata, perkara keangkuhan pun dapat membuat kita tersandung dalam proses “under construction” kita. Ada banyak dosa mengintip dari kesombongan, dan Tuhan sangat membenci sikap ini. Kita harus terus meneladani perilaku Kristus yang melayani siapapun dengan penuh kasih. Tidak ada tempat bagi keangkuhan dalam kasih. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. (1 korintus 13:4). Ketika kita mendapat limpahan berkat baik dari segi kemakmuran, ketrampilan maupun talenta, bersyukurlah pada Tuhan dan pakailah itu untuk memberkati sesama. Hindari sikap sombong dalam keadaan apapun, dalam alasan apapun. Marilah kita semua belajar hidup rendah hati dan penuh kasih seperti Kristus.

Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk, demikianlah kita harus tetap rendah diri dan menghindari keangkuhan.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment