Mewaspadai Rubah-Rubah Kecil

Ayat bacaan: Kidung Agung 2:15
=======================
“Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!”

rubah kecil

Bagi anda pengguna browser Firefox, tentu logonya yang berbentuk rubah api melingkar di bola dunia tidak lagi asing bagi anda. Konon katanya logo tersebut menjadi inspirasi dari rambut unik milik pendiri Mozilla, yaitu Mitchell Baker. Benar atau tidak, entahlah. Tapi yang pasti logo Firefox ini memang atraktif dan menarik, sehingga selain enak dilihat juga mudah untuk diingat. Rubah dalam logo ini memang terlihat menarik, begitu juga dalam banyak gambar atau film kartun, tetapi bagi yang memelihara ternak seperti ayam rubah bukanlah hewan yang menarik sama sekali. Rubah ukurannya tidaklah sebesar hewan buas, seperti singa misalnya. Tetapi meski kecil, rubah ini cerdik dan cekatan. Rubah sanggup hidup dimana-mana dan bisa merusak apa saja yang ia lewati. Tidak jarang rubah memangsa bukan karena lapar, tetapi hanya karena ingin mempermainkan mangsanya sampai mati.Seperti itulah karakter rubah, yang meski relatif kecil tetapi bisa sangat merugikan bagi kita.

Dalam Kidung Agung ada sebuah ayat unik yang tiba-tiba menyeruak ditengah rangkaian ayat-ayat yang indah menggambarkan kemesraan dan kebahagiaan sebuah hubungan. Ayat-ayat itu sambung menyambung dengan manis, hingga sekonyong-konyong ada ayat yang berbunyi: “Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!” (Kidung Agung 2:15). Menilik dari karakter rubah di atas, ayat ini sesungguhnya berbicara mengenai hal penting, yaitu untuk mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan dalam mencegah masuknya dosa-dosa kecil untuk menghancurkan kita. Singa, harimau, itu hewan buas yang kita tahu berbahaya. Tetapi seekor rubah kecil bisa jadi kita anggap tidak membawa maut bagi kita. Padahal keberadaannya bisa memangsa hewan-hewan ternak sehingga sangat merugikan bagi kita.

Dalam hidup sehari-hari kita seringkali tidak menyadari adanya “duri-duri kecil” yang biasanya kita abaikan atau sepelekan. Kita akan awas terhadap dosa-dosa besar, tetapi berkompromi kepada yang kecil-kecil. Membunuh?  Mencuri? Menganiaya? Itu mungkin tidak kita lakukan. Tetapi bagaimana dengan hal-hal yang kita anggap sepele padahal itu serius di mata Tuhan? Tidak membunuh, tetapi kita mengolok-olok teman, bergosip, berkata kotor, menghujat, atau memusuhi/mendendam kepada orang lain bahkan saudara sendiri. Menyebar fitnah atau gosip pun bisa membunuh karakter seseorang yang bisa sama kejamnya dengan menghilangkan nyawa orang lain.  Atau ketika kita tidak tahan menolak ajakan dan ikut mabuk bersama teman-teman. Kita akan berdalih bahwa itu hanya sekali-kali dan tidak merupakan dosa. Tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita sekali-kali boleh melanggar firman Tuhan. Bagaimana ketika kita membiarkan rasa benci, dendam, iri hati dan sejenisnya menguasai kita? Atau menipu orang tua kita dengan berbagai alasan? Inipun bisa menjadi masalah besar pada suatu saat. Dosa-dosa kecil yang kita anggap sepele dan kita beri toleransi seringkali menjadi awal untuk masuknya berbagai dosa yang akan meningkat intensitasnya, dan pada suatu ketika kita sudah terjerat sedemikian rupa sehingga ketika kita sadar, sudah sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari semua itu.

Berbagai keinginan daging bisa menjadi “rubah-rubah” tersendiri yang meski berawal dari kecil tapi eskalasinya bisa meningkat hingga satu saat nanti bisa menghancurkan hidup kita dan sulit untuk dipulihkan. Dengan tegas Paulus mengatakanSebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” (Roma 8:7). Dan dalam Galatia 5:19-21 ia pun merinci satu persatu akan perbuatan-perbuatan yang timbul dari kedagingan ini. Beberapa dari keinginan-keinginan daging ini sepintas terlihat nikmat dan mungkin tidak terlihat sebagai sebuah dosa besar, akibatnya banyak orang yang memberi toleransi terhadap masuknya dosa dan menganggap bahwa hal itu hanyalah sebuah dosa kecil yang sepele. Tanpa disadari dosa kecil itu bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai dosa selanjutnya yang berakibat fatal dan mampu menjatuhkan kita. Firman Tuhan berkata: “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:5).

Ada pepatah yang mengatakan “karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Kalimat yang hampir mirip pun ternyata ada dalam Alkitab. “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.” (Galatia 5:9). Sedikit kesalahan kecil bisa menjadi pintu masuk iblis buat merusak tatanan kehidupan dalam Tuhan yang sudah kita bangun selama ini dengan susah payah, dan akan membuat pengorbanan Kristus menebus dosa kita menjadi sia-sia. Karena itu apabila kita selama ini awas dalam memperhatikan dosa-dosa besar, kini saatnya kita juga harus memperhatikan pelanggaran-pelanggaran yang mungkin kita anggap kecil. Ingatlah bahwa semua dosa adalah serius di hadapan Tuhan, tak perduli apakah itu besar atau kecil. Semua harus kita pertanggungjawabkan nanti dan akan menentukan kemana kita selanjutnya. Apalagi dengan keberadaan kita sebagai anak-anak terang, kita harus pula menjaga diri kita baik-baik agar bisa sampai ke garis akhir dengan selamat dan tidak terjerembab jatuh ke dalam kegelapan. “Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan.” (Matius 12:35). Ketika kita tengah membangun hubungan yang dalam dan erat dengan Tuhan, kita tidak boleh mengabaikan hal-hal kecil yang bisa merusak keselamatan kita. Apa yang kecil di mata kita ini mampu merusak semua yang telah kita bangun dengan susah payah. Kita sudah sekian lama melatih diri kita untuk taat dan setia, kita mampu menghindari dosa-dosa yang kita anggap besar, tetapi kita lengah menghadapi masuknya jebakan dosa yang kita anggap sepele. Seperti rubah-rubah kecil, dosa-dosa “kecil” itu sanggup memporak-porandakan apa yang sudah kita bina selama ini. Rubah-rubah kecil siap menutup pintu surga dan membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keselamatan. Berbagai duri-duri yang kecil yang tampaknya sepele bisa sangat menyakitkan dan menghambat langkah kita. Dosa sekecil apapun itu, bereskanlah segera. Selanjutnya tetaplah berjaga-jaga. Teruslah berjalan dalam tuntunan Roh Kudus agar jangan sampai “singa dan harimau” kita hindari, tetapi “rubah-rubah” ini kita biarkan merugikan masa depan kita.

Berhati-hatilah terhadap sebuah dosa meski sekecil apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: