Mewaspadai Ragi Farisi

 Ayat bacaan: Matius 23:13-14
=========================
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk…Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

ragi orang Farisi

Gereja seharusnya menjadi tempat dimana orang bisa bertumbuh bersama dalam iman, mengalami jamahan Tuhan, pemulihan, dan merasakan hadiratNya. Gereja seharusnya menjadi tempat anak-anak Tuhan untuk saling berbagi, saling menguatkan, saling bantu dan bekerja sama dalam menjalani hari-hari yang berat, juga untuk membawa terang keluar dari dinding-dinding pembatas lalu menjangkau lingkungan sekitarnya, kota, bangsa maupun dunia. Tetapi betapa memprihatinkannya ketika sebagian dari hamba-hamba Tuhan di dalamnya yang seharusnya menjadi panutan justru sebaliknya berubah menjadi batu sandungan bagi jemaatnya sendiri. Saya melihat sendiri beberapa orang yang menjadi apatis karena kecewa melihat oknum-oknum hamba Tuhan yang perkataan dan kehidupannya tidak sinkron. Bayangkan, ada gereja yang terang-terangan mendahulukan donatur untuk duduk di depan, sementara jemaat biasa harus dibelakang walaupun di depan masih kosong. Ada juga orang yang setiap hari Minggu terlihat suci tetapi di dalam pekerjaan mereka melakukan banyak kecurangan. Ada yang sepertinya sangat kudus dengan gaya yang selalu menasihati orang lain seolah dirinya tanpa cela, tetapi mereka terus hidup dalam pesta pora, minum-minum dan menghamburkan uang tidak pada tempatnya. Saya pun terkejut ketika mendengar adanya “makelar-makelar rohani” yang menjanjikan pengkotbah menjadi populer dalam waktu singkat. Mereka merampas hak Tuhan untuk popularitas diri sendiri. Dan sayangnya ada banyak pula pengkotbah atau pendeta yang setuju untuk memakai jasa makelar ini. Orang-orang ini menciptakan peraturan sendiri mengenai mana yang boleh dan tidak sesuai dengan kesukaan mereka, bahkan tidak jarang mereka menciptakan sosok Tuhan menurut versi mereka sendiri. Saya membayangkan betapa sakitnya hati Tuhan, betapa kecewanya Dia melihat orang-orang menyimpang seperti ini. Bukan saja mereka menjadi batu sandungan bagi banyak orang, tetapi juga menjadi penghalang yang bisa menggagalkan pekerjaan Tuhan di dunia ini.

Sifat ini bukanlah hal baru karena sudah ada setidaknya di jaman Yesus turun ke bumi. Yesus sudah pernah menyinggung mengenai perihal kemunafikan dari orang-orang yang seharusnya menjadi teladan bagi jemaat. Kemunafikan ini disebutkan Tuhan sebagai ragi orang Farisi. “Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” (Lukas 12:1). Orang-orang Farisi dikenal sebagai pemuka-pemuka agama yang tampil sangat alim dimanapun mereka ada. Mereka mengenal dengan mendalam hukum-hukum Taurat dan hafal luar kepala, selalu berkata tentang kebenaran, tetapi perilaku mereka jauh dari semua yang mereka ajarkan. Mereka selalu merasa diri paling benar, paling suci dan paling bersih, sehingga mereka merasa berhak untuk menghakimi orang lain menurut penilaian mereka pribadi. Inilah ragi Farisi yang sangat dikecam Tuhan. Dan lihatlah kepada siapa pesan ini ditujukan Yesus seperti yang saya tulis tebal di atas,yaitu kepada murid-murid Yesus, termasuk kita di dalamnya terutama yang melayani. Perhatikan apa kata Yesus. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)” (Matius 23:13-14). Hukuman yang lebih berat, itu akan menjadi ganjaran akan orang-orang dengan perilaku seperti ini, dan itu tidaklah mengherankan. Mereka sudah mengetahui kebenaran tetapi masih juga melanggarnya. Mereka menyelewengkan kebenaran dan memanfaatkannya hanya sebagai topeng agar mereka terlihat hebat di mata manusia. Dan bukan itu saja, mereka pun menjadi batu sandungan bagi banyak orang, sesuatu yang berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya, yaitu sebagai terang dan garam bagi orang lain. (Matius 5:13-16).

Hukuman yang lebih berat menanti orang-orang yang munafik. Orang yang seharusnya menjadi guru dengan keteladanan tetapi malah sebaliknya merintangi orang lain untuk selamat lewat cara hidupnya yang sama sekali tidak menunjukkan pribadi Kristus yang sebenarnya dikatakan akan menerima konsekuensinya, dan itu akan jauh lebih berat dari orang-orang biasa. Yakobus pun mengingatkan seperti itu ketika menyinggung masalah dosa lidah. “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1). Sangatlah disayangkan jika anak-anak Tuhan yang seharusnya menjadi cermin Kristus di dunia ternyata malah menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Alangkah ironis ketika kita seharusnya menjadi terang dan garam, tetapi malah menjadi awan gelap dan empedu pahit bagi orang lain. Seharusnya kita menjadi sumber kasih seperti halnya Tuhan sendiri mengasihi kita, tapi kita malah menunjukkan sikap memusuhi, menghakimi, menjelek-jelekkan orang lain, atau malah menunjukkan perilaku yang tidak terpuji. Kenyataannya ada banyak orang percaya yang berpikir bahwa hidup lurus cukup dilakukan hanya pada hari Minggu saja, itupun hanya ketika berada di dalam ruang gereja. Begitu pulang, kehidupan duniawi dengan segala kesesatan pun kembali mewarnai hidup. Kemunafikan seperti ini bisa membawa konsekuensi fatal bagi kita, oleh karena itu kita harus ingat betul bahwa tidak hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pun Firman Tuhan tidak boleh sedikitpun dikesampingkan. Dalam hal menjadi hamba Tuhan, perhatikan pula kepada siapa kemuliaan itu ditujukan, apakah kepada Tuhan sepenuhnya atau malah dipelintir untuk popularitas pribadi. Jika Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya seperti dalam Yohanes 21:15-19, tidakkah keterlaluan apabila kita malah mengusir domba-dombaNya untuk pergi menjauh lewat sikap ragi Farisi ini? Tidakkah ironis jika anak-anak Tuhan yang seharusnya berperan dalam mengenalkan kebenaran justru membuat orang semakin jauh dari kebenaran?

Ragi orang Farisi akan dengan sangat mudah hinggap pada diri kita ketika kita merasa diri kita paling benar. Mengetahui firman Tuhan memang bagus, tapi jika tidak disertai perbuatan, maka iman kita itu hanyalah sebentuk iman yang mati, dan disitulah kita bisa terjebak pada berbagai dosa kesombongan dan kemunafikan. Kecenderungan seperti ini memang cenderung hadir dalam diri manusia. Oleh karenanya Paulus mengingatkan “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Roma 14:13). Betapa pesan ini baik untuk selalu kita ingat. Jika kita sudah dibebaskan dengan menerima Kristus sebagai Juru Selamat kita, langkah selanjutnya adalah komitmen kita untuk terus menjaga diri kita, agar kebebasan itu jangan sampai menjadi batu sandungan bagi yang lemah. (1 Korintus 8:9).Sebagai wakil-wakilNya di dunia, seharusnya kita selalu melakukan apa yang bisa mendatangkan damai sejahtera dan bisa membangun bahkan menyelamatkan orang lain. “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Roma 14:19), bukan sebaliknya mendatangkan kepahitan dan menghancurkan masa depan orang. Merusak pekerjaan Allah adalah fatal akibatnya. Setiap renungan yang saya tulis pun bagaikan pedang bermata dua yang bukan saja saya tujukan untuk membagi berkat kepada teman-teman, tapi juga berlaku sebagai peringatan bagi saya sendiri. Hukuman yang lebih berat akan hadir kepada orang-orang yang bersikap seperti orang Farisi dan ahli Taurat pada masa itu. Karenanya, mari perhatikan benar bagaimana cara kita hidup agar kita tidak termasuk orang-orang yang terkontaminasi oleh ragi Farisi ini.

Hindari ragi Farisi dalam kehidupan kita sebagai orang percaya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: