Mewaspadai Kecemaran

Ayat bacaan: 1 Korintus 7:1===========================”Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudus…

Ayat bacaan: 1 Korintus 7:1
===========================
“Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”

Produk makanan bisa terlihat baik dari luar tetapi sulit mengetahui kandungan yang ada didalamnya. Ada banyak penyebab kecemaran yang bisa tersembunyi di balik makanan yang tampaknya baik-baik saja dan mungkin lezat saat dimakan. Bisa saja makanan sudah mulai basi sehingga kuman sudah berkembang biak disana. Ada yang dengan sengaja menyuntikkan bahan-bahan kimia ke dalam hewan potong agar ukurannya besar. Pestisida yang disemprotkan ke sayur-sayuran, bahan pengawet dan sebagainya. Produk kadaluarsa yang masih dijual di pasaran pun tidak lagi aman dikonsumsi. Lantas ada juga orang-orang jahat yang tega membahayakan nyawa orang lain demi mengeruk keuntungan lebih. Misalnya susu yang mengandung melamin yang menewaskan banyak anak di RRC beberapa tahun lalu, produk susu lokal yang ketahuan mengandung bakteri berbahaya, atau gorengan yang digoreng dengan campuan plastik supaya tidak cepat melempem, semua itu tidak kasat mata tapi kecemarannya membahayakan nyawa, baik dalam waktu singkat maupun lama.

Kalau efek produk-produk berbahaya mengancam kesehatan dan nyawa, demikian pula dengan kehidupan rohani kita. Ketika kita “mengkonsumsi” berbagai kebiasaan buruk dan membiarkan itu masuk ke dalam diri kita, tontonan, bacaan yang tidak baik, berbagai bentuk pola pikir dunia yang bertentangan dengan kebenaran, sadar atau tidak kerohanian kita pun berpotensi untuk teracuni. Berbagai tontonan di televisi dipenuhi oleh dendam, perselingkuhan, pembunuhan, pornografi, perkosaan, mistik dan lainnya yang sangat berbahaya bagi kerohanian kita, apalagi bagi anak-anak yang masih belum membedakan mana yang baik dan buruk. Begitu banyak “produk-produk” berbahaya bagi rohani yang sekilas tidak terlihat membahayakan, tapi sebenarnya sangat beresiko bagi kerohanian kita. Dengan berbagai hal yang ditawarkan dunia ini, kita seringkali memberikan toleransi dan kompromi yang tidak pada tempatnya pada pencemar-pencemar rohani. Kita lupa bahwa kompromi pada dosa sekecil apapun dapat membuka pintu masuk bagi dosa-dosa lainnya yang akan menimbun diri kita.

Adalah sangat penting bagi kita untuk menjaga diri agar tidak tercemar. Paulus mengajak kita untuk menyucikan diri dari segala pencemaran, baik jasmani maupun rohani supaya kekudusan kita menjadi sempurna dan tidak harus kehilangan janji-janji Tuhan. “Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” (2 Korintus 7:1). Kita harus ingat bahwa “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (1 Tesalonika 4:7).

Berbagai bentuk kecemaran bisa mencemari kerohanian kita. Kecemaran-kecemaran itu bisa mendatangkan banyak hal yang merusak kesempatan kita untuk menuai janji Tuhan secara penuh. Dalam Efesus 4 Paulus menerangkan bahwa berbagai hal yang buruk seperti kebiasaan berbohong (ay 25), cepat marah (ay 26), membuka kesempaan kepada iblis (ay 27), mencuri (28), berkata kotor (ay 29), berbuat hal-hal yang mendukakan Roh Kudus (ay 30), membiarkan kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah (ay 31), semua ini akan mencemari kekudusan. Dari mana itu berasal? Paulus menyebutkan bahwa itu berasal dari cara hidup kita yang masih “sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” (ay 17-18). Semua ini membuat perasaan menjadi tumpul sehingga mudah menyerahkan diri kepada hawa nafsu, akibatnya hidup pun menjadi penuh dengan segala macam kecemaran (ay 19).

Dalam kitab 1 Korintus 6 Paulus kembali mengingatkan bahwa orang-orang yang sesat tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah alias luput dari penerimaan janji-janji Tuhan. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (ay 9-10). Semua ini bisa masuk merusak kita saat kita membiarkan kecemaran masuk dan menguasai hidup kita.

Paulus juga mengingatkan bahwa dengan menjaga kekudusanlah kita layak dipakai Allah untuk pekerjaan-pekerjaan yang mulia. “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:21).

Tanpa kekudusan kita tidak akan pernah bisa mengamalkan kasih persaudaraan. Petrus berkata: “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” (1 Petrus 1:22). Kita harus senantiasa menjaga diri kita dari semua pencemaran baik jasmani maupun rohani, sehingga kita bisa menyempurnakan kekudusan kita di hadapan Allah. Disanalah kita akan bisa berfungsi dengan baik sebagai terang dan garam, sebagai pelita yang menerangi kegelapan.

Taat pada kebenaran firman Tuhan akan membuat kita peka terhadap pencemaran

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply