Friday, 19 December 2014

Mewariskan Iman Turun Temurun

Ayat bacaan: 2 Timotius 1:5
===========================
“Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”

teladan ibu, renungan harianAda banyak orang mencapai sukses berkat perjuangan orang tuanya. Dalam kotbah salah satu pendeta, saya pernah mendengar kisah seorang ibu yang diam-diam mengumpulkan beras sisa ayakan demi membayar sekolah anaknya. Ibu saya dulu mengorbankan karirnya, berhenti menjadi dokter agar fokus dalam membesarkan saya dan adik. Setelah kami berdua dewasa, barulah ibu kembali membuka praktek. Di sisi lain, ada banyak juga anak yang hancur hidupnya, karena tidak mendapatkan contoh yang baik di rumah. Keluarga yang retak, orang tua yang sering bertengkar, ayah atau ibu selingkuh, orang tua korupsi dan lain-lain membuat anak-anak mereka menjadi lepas kendali dan hidupnya berantakan.

Sadar atau tidak, anak akan mencontoh perilaku orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sebagian orang berpikir bahwa mereka bisa memerintahkan anak untuk rajin berdoa, rajin ke gereja, sementara mereka tidak memberi contoh yang sama, si anak pun berpotensi untuk menganggap itu semua hanyalah sebuah perintah dari orang tua semata. Ketika sebagian orang tua terlihat rajin beribadah, tapi kehidupannya tidak mencerminkan ajaran Tuhan, anak akan menganggap bahwa semua itu hanyalah seremonial rutin yang tidak membawa manfaat apapun. Tidak jarang hal demikian menimbulkan kepahitan dalam perkembangan si anak. Anak pelayan Tuhan sekalipun tidak menjamin mereka untuk tumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan, jika orang tuanya tidak memberi teladan yang benar dari kehidupan mereka untuk dicontoh.

Ayat hari ini memberi gambaran menarik akan hal itu. Timotius dikenal sebagai anak rohani Paulus, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 1:2. Di usia mudanya, Timotius menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Ketika saya mencari tahu latar belakang dari Timotius, ternyata awal perjumpaan Paulus dengan Timotius tertulis di Kisah Rasul 16:1. Ibu Timotius adalah seorang Yahudi yang telah menerima Yesus, sedang ayahnya orang Yunani. Ayat hari ini menjelaskan bahwa ternyata ibu dan nenek Timotius mempunyai peran sangat penting dalam mendidiknya. Nenek dan ibunya memberi teladan hidup yang baik bagi Timotius. Selanjutnya kita bisa baca di dalam 2 Timotius 3:15 bahwa sejak kecil, Timotius telah dikenalkan dengan alkitab, sehingga dirinya diberi hikmat dan dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Kristus. Semua ini berasal dari iman neneknya, Lois, kemudian turun pada ibunya, Eunike.

Peran seorang ayah adalah sangat penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak, peran ibu pun tidak kalah pentingnya, seperti yang ada pada Amsal 1:8 : “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu”. Bahkan dari uraian di atas, peran nenek pun punya andil dalam kehidupan kita. Keteladanan yang baik akan diwariskan secara turun temurun, demikian pula contoh buruk, akan diwariskan secara turun temurun. Berilah contoh yang baik kepada anak-anak, bukan hanya lewat teori dan perintah, namun yang lebih penting lewat cara kehidupan kita. Anak-anak selalu memperhatikan hidup kita tanpa kita sadari, dan contoh perilaku yang baik, hidup yang kudus, penuh kasih, akan membuat mereka menjadi anak-anak terang yang mengenal pribadi Tuhan sejak usia mudanya. Sudahkah anda memberi keteladanan yang baik pada mereka?

Anak terbentuk sesuai contoh yang mereka lihat dari orang tuanya. Jagalah hidup kita agar kita tidak mewariskan hal yang buruk bagi mereka

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Mewariskan Iman Turun Temurun"

Response on "Mewariskan Iman Turun Temurun"