Metamorfosa

Ayat bacaan: Roma 12:2
====================
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

metamorfosa, kupu-kupu, ciptaan baru

Tuhan memang luar biasa kreatifnya. Salah satu perubahan yang paling mengagumkan bagi saya adalah proses perubahan dari seekor ulat menjadi kupu-kupu. Proses yang dikenal dengan metamorfosa ini adalah sebuah proses alam yang sungguh menakjubkan. Awalnya dimulai dari telur yang menetas dan melahirkan larva (ulat) yang bagi banyak orang terutama wanita dianggap geli bahkan menjijikkan. Geliat ulat ini akan dengan mudah membuat banyak orang bergidik geli melihatnya. Lalu ulat akan berubah wujud menjadi kepompong, dan kemudian dari kepompong itu akan keluar kupu-kupu yang indah, gemulai menari menunggang angin, anggun, puitis baik dari segi keindahan fisiknya hingga gerakannya. Selain masalah bentuk, ada pula perbedaan-perbedaan kasat mata lainnya. Ulat merangkak, kupu-kupu terbang. Ulat lambat, kupu-kupu aktif dan atraktif geraknya. Benar-benar sebuah perubahan total.

Metamorfosa yang terjadi pada kupu-kupu bisa kita pakai sebagai analogi/model sederhana dari sebuah perubahan kita dari manusia lama menjadi manusia baru. Sesungguhnya perubahan yang terjadi kita pun tidak kalah menakjubkan. Ketika kita menerima Yesus, kita mengalami proses perdamaian dengan Tuhan. Kita yang tadinya berlumur dosa dan tidak layak untuk selamat, kini dilayakkan untuk memperoleh keselamatan yang besar itu semata-mata lewat kemurahan dan kasih karunia Allah, lewat karya penebusan agung Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, ketika kita bersatu dengan Kristus, kita pun mengalami metamorfosa, menjadi manusia baru sama sekali, the whole new creation. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Dan ini semua, sekali lagi, berasal dari Allah melalui Kristus. “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya..”(ay 18). Kita yang tadinya seperti ulat atau larva yang menjijikkan, kini mendapat kesempatan untuk diubahkan menjadi seindah kupu-kupu. Menerima Kristus dan menerima baptisan memungkinkan kita untuk itu. “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” (Roma 6:4-5). Ketika kita dibaptis sebagai tanda ketaatan dan kepercayaan kita pada Yesus, segala kebiasaan-kebiasaan buruk kita, segala perbuatan dosa kita di masa lalu, semua itu sesungguhnya sudah dimatikan. “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (ay 6). Kita dipulihkan, dan diubahkan. Karenanya seharusnya kita tidak lagi menghambakan diri kepada dosa, karena tabiat kita yang penuh dosa itu sudah hilang kuasanya. “Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” (ay 7).

Kepada jemaat Roma, Paulus berpesan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Paulus ingin jemaat Roma bisa benar-benar berubah, menyikapi sebuah metamorfosa yang dianugerahkan Allah dengan sungguh-sungguh, seperti apa yang dialami ulat hingga menjadi kupu-kupu. Gaya hidup, pola hidup, cara pandang dan pola pikir jemaat haruslah berubah. Jika dulunya tidak tahu apa yang berkenan kepada Allah, kini tahu mengenai itu, dan tahu apa yang sempurna di mata Tuhan. Perubahan tidak saja berhenti pada perubahan fisik semata, tapi juga mampu mengubah apa yang ada di dalam diri kita. Hidup kita haruslah bergerak, berproses dari ulat menuju kepompong hingga bisa sukses menjadi kupu-kupu. Paulus menambahkan adalah penting bagi kita untuk bisa sampai kepada tingkat dimana kita pantas mempersembahkan diri kita sendiri sebagai persembahan hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”(Roma 12:1). Sebagai manusia baru yang telah mengalami transformasi, atau dalam analogi di atas saya gambarkan sebagai metamorfosa, kita seharusnya mampu menghargai anugerah menakjubkan yang telah diberikan Tuhan itu kepada kita dengan menjalani hidup sebagai ciptaan baru. Semua telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Sekarang tinggal keputusan kita sendiri, apakah kita mau berproses hingga menjadi kupu-kupu atau berhenti hanya sebagai larva hingga kepompong saja. Bangsa Israel pernah menunjukkan kebebalannya dalam segala bentuk. Dalam Kisah Para Rasul pun sempat disinggung mengenai hal ini. “Tetapi nenek moyang kita tidak mau taat kepadanya, malahan mereka menolaknya. Dalam hati mereka ingin kembali ke tanah Mesir.” (Kisah Para Rasul 7:39). Musa dipakai Tuhan untuk menyatakan firmanNya, tapi bangsa Israel yang tegar tengkuk ini tidak juga mau taat kepadanya. Bahkan menolak dan ingin kembali ke tanah Mesir. Kembali ke tanah Mesir berbicara mengenai kembali kepada dosa-dosa masa lalu. Artinya, bangsa Israel menyia-nyiakan keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan. Mereka lebih memilih untuk kembali menjadi ulat dan menolak metamorfosa untuk menjadi sempurna.

“Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.” (2 Korintus 6:1). Ini peringatan penting yang juga berlaku bagi kita. Janganlah kita sampai menyia-nyiakan karunia Allah yang telah kita terima dengan kembali kepada perbuatan-perbuatan dosa kita seperti di masa lalu. Sebagai ciptaan baru, mulailah sebuah hidup baru yang penuh kemenangan. Menang dari godaan, lepas dari penghambaan akan dosa. Kita telah ditransformasi menjadi ciptaan baru. Kita bukan lagi manusia lama yang berkubang dalam kegelapan, tapi kini ada terang Kristus yang menyinari kita. Ada Roh Kudus yang membimbing setiap langkah hidup kita. Jangan sia-siakan itu, jangan kembali kepada kebiasaan buruk di masa lalu, tapi mulailah menatap ke depan sebagai “the whole new creation”. Pada saatnya nanti kita akan bisa seindah kupu-kupu, yang bisa membawa berkat bagi setiap orang yang melihatnya.

Alami metamorfosa dari ulat menuju kupu-kupu yang indah

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply