gereja_20180513_222241 (1)

“Meskipun kami mengalami duka yang mendalam, namun Gereja Katolik dengan tulus mengampuni para pelaku teror dan mendoakan para pelaku yang menjadi korban,” tulis Kepala Paroki Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Pastor Alexius Kurdo Irianto Pr dalam pernyataan berjudul “Pernyataan Sikap Terhadap Peristiwa Pengeboman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Kota Surabaya.”

Pernyataan itu dikeluarkan di Surabaya, 13 Mei 2018, pukul 12.15 WIB, tepat lima jam setelah terjadi ledakan bom bunuh diri di depan gerejanya yang terletak di Jalan Ngagel Madya 1, Surabaya, yakni sekitar pukul 07.15, yang mengorbankan lima orang: tiga warga Gereja dan dua orang pelakunya serta mengakibatkan luka berat maupun ringan pada puluhan orang.

Atas peristiwa itu, tulis imam itu, Gereja Katolik di seluruh dunia, terutama umat Katolik Keuskupan Surabaya, dan secara khusus, umat Paroki Santa Maria Tak Bercela menyatakan, “Peristiwa ini merupakan duka yang mendalam bagi seluruh bangsa Indonesia. Gereja Katolik tidak takut terhadap teror yang selama ini selalu mengancam kehidupan bangsa Indonesia. Hentikan kekerasan! Kekerasan tidak ada membuahkan apa pun, kecuali korban jiwa.”

Duka yang mendalam disampaikan lewat surat itu bagi para korban dan keluarganya, “terutama untuk Saudara (Aloysius) Bayu, yang telah menghadang sepeda motor yang ternyata adalah pelaku bom bunuh diri tersebut. Jika tidak dihadang Saudara Bayu, akan lebih banyak membawa kurban jiwa.”

Dengan huruf kapital, Pastor Irianto juga menyatakan, “DENGAN TEGAS MENGECAM TEROR SEMACAM INI. INI HARUS SEGERA DIHENTIKAN! Kami menolak segala bentuk kekerasan karena tidak sesuai dengan martabat kehidupan manusia dan bertentangan dengan ajaran agama mana pun.”

Kepada umat Katolik seluruh Indonesia, dan khususnya umat Katolik Keuskupan Surabaya serta umat Paroki Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Pastor Irianto meminta agar tetap tenang dan tidak takut terhadap aksi teror. “Umat diharapkan tetap waspada dan tidak mudah terprovokasi terhadap ancaman atau terror di mana pun dan dalam bentuk apa pun,” tulisnya.

Selanjutnya umat diminta untuk tetap setia berbuat baik penuh kasih kepada siapa pun, sesuai nilai-nilai Kristiani yang diajarkan Tuhan Yesus. “Teruslah berbuat baik. Mari kita memberikan pengampunan yang tulus. Karena pengampunan adalah pintu yang terbuka untuk masa depan yang lebih bermanfaat bagi bangsa Indonesia.”

Kepala paroki itu juga berterima kasih kepada aparat keamanan yang telah sigap menangani peristiwa ini dan kepada siapa pun yang telah turut terlibat membantu serta memberikan simpati. “Kami mendukung segala upaya aparat keamanan untuk mencegah dan menghentikan ancaman dan aksi terror di mana pun,” tulis imam itu.

Menurut informasi yang diterima dari konferensi pers yang dilakukan pihak kepolisian, selain tiga pemboman yang menghantam Gereja Katolik Santa Maria Tak bercela, Gereja Kristen Indonesia dan Gereja Pantekosta, tanggal 13 Mei 2018 pagi, keesokan harinya terjadi ledakan bom di Blok B lantai 5, Rusun Wonocolo, Kecamatan Taman, Sidoarjo, pada dini hari pukul 12.15 WIB. Sesudah itu terjadi ledakan bom di pintu gerbang Polrestabes Surabaya tanggal 14 Mei 2018 pukul 08.50 WIB.

Dalam konferensi pers itu disebutkan bahwa jumlah korban meninggal akibat ledakan bom dalam dua hari itu sebanyak 25 orang, 13 di antaranya pelaku bom.(pcp)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.