Meremehkan Orang Lain

Ayat bacaan: Matius 13:55
====================
“Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?”

Pernahkah anda melihat pramuniaga yang bersikap berbeda dalam melayani konsumen? Saya pernah beberapa kali melihatnya. Mereka akan terlihat sangat ramah dan menyapa kepada orang yang mereka anggap potensial untuk membeli, dan bersikap dingin bahkan terus mengintip dan mengikuti orang yang dianggap tidak sanggup membeli di dalam tokonya. Di jaman dahulu di kota kelahiran saya ketika mal dengan eskalator baru mulai muncul, pengunjungnya bahkan sempat tidak diperbolehkan masuk jika memakai sendal jepit. Cobalah masuk ke perumahan mewah, maka banyak satpam yang melakukan sikap yang sama. Saya bahkan sempat mendapati satpam yang menahan KTP tamu yang hendak berkunjung beberapa tahun yang lalu. Apakah Tuhan mengajarkan kita untuk mengukur seseorang lantas merasa berhak untuk meremehkan orang-orang tertentu? Tentu saja tidak. Tapi ironisnya perilaku ini pun tampaknya sudah ikut mencemari gereja-gereja tertentu. Saya terkejut ketika tetangga saya bercerita ketika ia masuk ke sebuah gereja di ibukota, ia disuruh pindah duduk ke belakang karena baris-baris di depan hanyalah untuk jemaat tertentu saja. Padahal saat itu bangku-bangku di depan sedang kosong. Sebuah penghormatan akan diberikan kepada tamu/konsumen yang terlihat kaya, bermobil mewah, berdasi atau glamor, sebaliknya pandangan curiga, sinis atau sikap tidak ramah bahkan merendahkan akan diberikan kepada mereka yang terlihat biasa-biasa saja. No, that’s not the way God wants us to be!

Dari masa ke masa kita akan berhadapan dengan orang-orang yang bersikap seperti itu, termasuk di antara orang percaya. Ketika Yesus hadir di dunia mengambil rupa orang biasa, Dia pun sempat menerima perlakuan yang sama. Diremehkan, disepelekan, dipandang rendah. Ironisnya itu terjadi di kotanya sendiri, di Nazaret, dimana Yesus dalam rupaNya sebagai manusia bertumbuh. Kita bisa melihatnya dalam Matius 13. Ketika Yesus mengajar di sana pada suatu kali, ada sekelompok orang yang dengan cibiran sinis meremehkan atau merendahkanNya. Lihatlah komentar orang-orang disana mengenai Yesus. “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?” (Matius 13:55). Mereka menilai dari apa yang terlihat dari luar, dan belum apa-apa sudah menghakimi seenaknya. Dan apa yang terjadi kemudian sangatlah disayangkan. “Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (ay 57b). Mereka menunjukkan sikap tidak percaya. Lalu Alkitab menyatakan apa yang terjadi selanjutnya. “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” (ay 58). Ironis bukan? Justru di ‘rumah’ sendiri Yesus mendapat penolakan, dan justru disana mukjizat tidak banyak terjadi. Mereka seharusnya bisa melihat berbagai kuasa dan mukjizat yang dilakukan Yesus, namun karena mereka sibuk memandang apa yang terlihat dari luar mereka pun meremehkan perbuatan-perbuatan luar biasa Yesus. Dan akibatnya mereka pun luput dari jamahan Tuhan.

Hingga hari ini manusia masih saja jatuh ke dalam hal yang sama. Lihatlah ada banyak orang yang hanya akan ke gereja jika pengkotbahnya dianggap pintar ngomong, lucu, terkenal atau hanya bicara berkat. Parahnya banyak pula gereja yang kemudian mencoba mengakomodasi hal ini dengan membawa bintang tamu, syukur-syukur artis terkenal dan mempromosikannya besar-besaran di surat kabar dan lain-lain. Gereja bagi mereka bukan lagi sebuah tempat dimana kita bisa bersekutu dengan Tuhan bersama-sama saudara seiman, bersama mengalami hadirat Tuhan, gereja bukan lagi tempat untuk mengundang Roh Kudus turun atas kita. Gereja bukan lagi dianggap sebagai Bait Allah, tetapi tidak lebih dari gedung hiburan atau tempat hiburan atau entertainment saja, dimana Tuhan sudah sama sekali disingkirkan. Segala esensi beribadah raya sudah melenceng dari seharusnya. Bayangkan apabila Tuhan Yesus ada di dunia saat ini, dan Dia melihat Rumah BapaNya sudah berubah menjadi tempat pertunjukan lalu menolak kehadiranNya. Tidakkah itu buruk?

Mari kita lihat sebuah kekeliruan yang terjadi ketika Samuel mencari anak-anak Isai untuk diurapi menjadi raja. “Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” (1 Samuel 16:6). Samuel berpikir demikian dengan memandang penampilan luar. Ganteng, tinggi, berwibawa, kurang apa lagi? Itu mungkin yang muncul dalam pikiran Samuel. Tapi nyatanya Tuhan tidak memandang dengan cara demikian. Tuhan pun kemudian menegurnya. “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (ay 7). Lalu selanjutnya, bukankah Tuhan telah berfirman: “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti” ? (1 Korintus 1:27-28). Dalam banyak lagi kesempatan Tuhan juga sudah berkali-kali mengingatkan kita agar berhenti memandang segala sesuatu hanya berdasarkan penampilan luar yang dapat dilihat mata.

Dari renungan hari ini kita bisa melihat bahwa kecenderungan untuk meremehkan atau merendahkan orang lain merupakan sebuah pelanggaran yang serius. Ini tidak saja bisa menimpa orang biasa tetapi bisa pula menghinggapi orang-orang yang seharusnya menjadi teladan, hamba-hamba Tuhan yang berada di barisan depan dalam melayani Tuhan. Kita sudah melihat bahwa nabi sekelas Samuel pun ternyata bisa melakukan kekeliruan seperti itu. Kita harus mewaspadai agar jangan sampai perilaku seperti ini ada dalam diri kita. Ingatlah bahwa apa yang tampak hebat dari luar belum tentu sebaik apa yang terlihat, dan belum tentu hebat pula dalam pandangan Tuhan. Sebaliknya, ingat pula bahwa orang yang terlihat tidak istimewa dalam pandangan manusia bisa dipakai Tuhan secara luar biasa. Seperti apapun mereka terlihat, mereka sama berharganya di mata Tuhan. Artinya, karena Tuhan mengasihi semua orang tanpa pandang bulu, ketika kita meremehkan seseorang itu sama saja dengan meremehkan Tuhan. So stop judging the book from its cover. Berhentilah menilai orang hanya dari kulit luarnya. Dengan tegas Yesus berkata: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Bersikaplah sama baik kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Kasih yang diberikan Kristus kepada kita bukanlah sebentuk kasih yang membeda-bedakan seperti itu. Sama seperti Dia mengasihi kita tanpa memandang status, fisik, penampilan, asal usul atau latar belakang kita, seperti itu pula kita harus memperlakukan sesama kita.

Tuhan tidak menilai penampilan luar, tetapi melihat hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah tentang jangan merendahkan orang lain
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: