Ilustrasi: Bunda Maria Pelindung. (Catholicism without compromise)

HARI Minggu sore (13/5/2018) saya menerima pesan lewat Whatsapp berupa sebuah video clip lagu.


Lagu tersebut berjudul Bunda Pembantu Abadi. Melihat atau lebih tepatnya, jika mendengar lagu ini maka sontak membawa saya pada kenangan masa-masa sekolah di SMA dahulu.


Saya merantau cukup jauh dari rumah orangtua di Kupang untuk bersekolah di Ende, Flores. Sekolah saya, SMAK Syuradikara, adalah sekolah dengan model menetap di asrama, sedikit mirip dengan konsep seminari. Bedanya, di sekolah kami ada juga siswi putrinya. Sekolah ini dibimbing oleh para pastor SVD.


Oke, kembali tentang lagu di atas. Lagu Bunda Pembantu Abadi ini sering saya nyanyikan bersama teman-teman seasrama setiap kali doa malam di depan Gua Maria yang terletak di kompleks sekolah. Liriknya yang sederhana dan aransemen musik yang pas, membuat lagu ini punya kesan tersendiri bagi saya.


Ketika saya melihat video kiriman itu, selintas perhatian saya terfokus pada dua penggalan terakhir dari teks atau lirik yang muncul di layar telepon genggam saya.


Lirik itu seperti ini:


Pandanglah dunia ini oh Bunda
Dunia yang penuh dengan kebencian
Doakan perdamaian yang sejati
Sadarkan hati manusia.


Arahkanlah pikiran tingkah laku kami.
Biarkan tampak cinta sesama.
Bantulah di saat ajalku tiba.
Oh Bunda Pembantu Abadi.


Sesaat, saya terdiam. Saya jadi ingat peristiwa hari Minggu pagi ini. Peristiwa pengeboman tiga gereja di Surabaya.


Perasaan sentimental terpengaruh lagi oleh lagu ini.Campur aduk antara memori zaman SMA dan peristiwa di Surabaya menimbulkan perasaan pedih dalam hati. Apalagi, menyadari bahwa para korban, saudara-saudari kita (bahkan ada yang masih anak-anak) mendapat musibah ini persis pada saat bulan Maria.


Sejauh ini tercatat sekitar belasan orang yang meninggal dunia dan puluhan lainnya menderita luka-luka terkenat bom. Tentu di antara para korban sebagian besar adalah umat Kristiani.


Saya tidak berani membayangkan. Bagaimana jika para korban adalah teman saya? Apalagi, bagaimana jika yang menjadi korban adalah keluarga saya?


Sehingga, saya tentu bisa merasakan betapa pedihnya juga perasaan para anggota keluarga yang ditinggal pergi ayahnya, ibunya, suaminya, isterinya, anaknya, saudaranya, maupun temannya.


Tragis dan trenyuh rasanya….


Saya dan Anda semua, selayaknya mendoakan saudara-saudari kita ini. Baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka. Juga bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.


Tidak lupa, mendoakan negara kita ini. Bahkan, sebagai murid Kristus, kita juga mendoakan para pelaku teror lainnya, semoga mereka bisa kembali ke jalan yang benar.


Mereka (para korban) pergi pagi itu dari rumahnya untuk menghadiri ibadah dan memuji Tuhan, ternyata ada dari mereka yang justru pergi selamanya ke rumah Tuhan di surga. Mereka pergi pada saat Bulan Maria,


Semoga Bunda Maria menjemput dan mengiringi mereka ke hadirat Yesus Puteranya.


Ya, Bunda Maria, Bunda Pembantu Abadi.


Bunda Pembantu Abadi


Pada wajahmu yang suci.
Matamu nampak bening sejuk lembut.
Kau pandang para abdimu berdoa.
Oh Bunda Pembantu Abadi


Engkau pangku anakmu Yesus Putera Allah.
Sumber suka dan duka hatiku.
Hanya engkau sendirilah yang tahu.
Pahit dan manisnya hidupku.


Bukalah kepadaku oh Bunda.
Pandangan penuh cinta-Nya tertuju.
Salib dan tombak bengis dilihat-Nya.
Oh Bunda Pembantu Abadi.


Tangan Bunda dipegang didekap-Nya erat.
Gambaran gelisah manusia.
Bagaikan terbayang sengsara maut.
Siksaan salah manusia.


Matamu ya Bunda Suci.
Memberitakan pesanmu terindah.
Wahai kamu orang-orang berdosa.
Lihatlah Juru Selamat-Mu


Terdengar pesan indah.
Namun kami lemah.
Terbawa gelombang masa kini.
Kami pinta doamu pada Bapa.
Oh Bunda Pembantu Abadi.


Pandanglah dunia ini oh Bunda.
Dunia yang penuh dengan kebencian.
Doakan perdamaian yang sejati.
Sadarkan hati manusia.


Arahkanlah pikiran tingkah laku kami.
Biarkan tampak cinta sesama.
Bantulah di saat ajalku tiba.
Oh Bunda Pembantu Abadi.


Video clip “Bunda Pembantu Abadi” (Youtube)


Cipt:Fr. Albert Thius SVD; Vocal:Helmy, Aty, Bartho.


Pringgolayan-Yogyakarta, Minggu, 13 Mei 2018

Umat katolik di Lingkungan St. Barnabas, Gereja St. Paulus Paroki Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.