Merah Putih yang Ditukar

17an 3. ok jpg

AKU jenuh dengan hidupku.
Setiap hari berada di bawah panas matahari.
Menjajakan potongan kain dan kertas merah putih ini.

Kemarin hanya beberapa pembeli dan hari ini hanya satu.
Jangan tanya berapa rupiah yang kudapat.
Karena itulah aku selalu gagal menyisihkan lembaran kumal itu untuk kubawa pulang.
Jangankan membahagiakan keluargaku.
Membahagiakan diri sendiri pun aku tak mampu….
Tak punya uang, tak mampu membeli baju, rumah, mobil dan semua kemewahan hidup.

Tuhan, hidup sungguh tidak adil.
Mengapa orang lain bisa dengan mudah mendapat apa yang mereka mau?
Mengapa hidup mereka sungguh beruntung?
Aku ingin hidupku seperti mereka.

Airmata mengalir dari hati yang remuk redam.
Dan doanya didengar Tuhan…
(Penjaja bendera merah putih ini bertukar tempat dengan seorang yang kaya raya…).

Beberapa bulan kemudian…

Tuhan, betapa hampanya hidupku.
Tidakkah orang-orang itu tahu? Di balik hidupku yang bergelimang harta aku merasa sendirian.
Meski aku memeroleh semua kemewahan dan kesenangan.
Tetapi batinku sunyi …. pahit di tengah gemerlapku.
Apakah orang-orang yang memujaku tahu deritaku?
Apakah mereka juga merasakan kelelahanku? Kesakitanku? Ketakutanku?
Perpecahan dalam keluargaku?
Tahukah hampir setiap malam aku terjaga hanya karena didera rasa khawatir akan ancaman nyawaku?

Mereka tak mau tahu.
Kehidupan pribadiku mereka sudah jual. Mereka suka mencari celah. burukku…dan menjadikan hidupku sampah….seolah sebagai manusia aku tak berhak punya apa-apa.
Dan dimanakah teman-temanku?
Yang datang saat aku jaya dan kaya…
Tetapi menghilang bersamaan lenyapnya harta.

Ternyata uangku tak dapat membeli kebahagiaan.

Tuhan iznkan aku kembali seperti dahulu.
Hidup secukupnya, bekerja, makan, tidur…. cukup untuk menikmati berkatMu yang tak pernah habis.

Betapa nikmatnya sepiring nasi hangat hasil keringatku, nikmatnya tidur lelap sepanjang malam dan indahnya kebebasan sebagai manusia seutuhnya.

Bahagiaku karena hanya memiliki Engkau …
Sang Maha Kaya, Maha Murah lagi Maha Memberi.
Engkau Maha Mempunyai: angin, rumput, udara, hujan, panas, makanan, pepohonan, penghangat tubuhku …
Dan kebahagiaan tiada tara saat dalam kekurangan aku masih dapat memberi
dan berguna untuk bangsa dan negara ini…meski hanyalah sepotong kain merah putih….

Dirgahayu Indonesia ke-69……MERDEKA!

Merdeka itu saat aku bahagia menjadi diri sendiri…

Kredit foto: Karnaval di sebuah jalanan. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: