Menyia-nyiakan Kesempatan

Ayat bacaan: 2 Samuel 7:15
======================
“Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu.”

menyia-nyiakan kesempatan

“Sekali berarti, sesudah itu mati.” Itu salah satu bait puisi karya pujangga besar Chairil Anwar. Ini adalah salah satu penggalan syairnya yang paling terkenal. Dalam hidup ini kesempatan emas biasanya tidak muncul sering-sering, atau malah bisa dikatakan sangat jarang. Jika kita tidak mengambilnya, tidak memanfaatkan atau menyia-nyiakannya, maka biasanya kita akan berakhir dengan penyesalan. Jika kesempatan-kesempatan dalam hidup saja sudah begitu merugikan jika kita buang, apalagi kesempatan yang berasal dari kehendak Allah. Kemarin kita sudah membahas bahwa segala sesuatu itu ada masanya. Umur manusia terbatas, masa kita terbatas. Oleh karena itulah kita harus segera melakukan yang terbaik ketika kesempatan masih ada. Bukan buang-buang waktu, bukan malas-malasan, bukan pula memakainya untuk melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan kehendak Tuhan. Jika Daud kemarin tercatat melakukan kehendak Allah pada zamannya, pada waktu dimana kesempatan itu diberikan kepadanya (Kisah Para Rasul 13:36), hari ini kita melihat kebalikannya lewat raja tepat sebelum Daud, yaitu Saul. Tidak seperti Daud, Saul menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Bukannya melakukan kehendak Allah, tapi ia terus melakukan pelanggaran.

Saul memulai segala sesuatu dengan indah. Elok rupanya, tinggai badannya (1 Samuel 9:2). Ia dikenal sebagai orang yang rendah hati (ay 20-21), dan dikatakan penuh dengan Roh Allah seperti nabi-nabi (10:10-13). Lihatlah bagaimana Tuhan memberkati Saul dengan lengkap. Dia adalah raja yang diurapi. Masa depannya cerah. Karirnya gemilang. Namun sayangnya Saul tidak memakai kesempatan yang terbentang luas di depannya untuk melakukan kehendak-kehendak Tuhan. Berulang kali Saul melakukan pelanggaran. Dalam Samuel pasal 13 kita mulai melihat tanda-tanda kejatuhannya. Betapa takutnya Saul kehilangan jabatan ketika ia mulai melihat rakyatnya kocar kacir ketakutan terhadap bangsa Filistin. Ia hanya diminta menunggu tujuh hari hingga Samuel hadir disana, tapi ia tidak sabar. Ketakutan menguasai dirinya, dan ia pun kehilangan kepercayaan terhadap janji Tuhan. Maka jatuhlah Saul ke dalam dosa menduakan Tuhan. Ia mempersembahkan korban bakaran untuk meminta petunjuk arwah. (ay 11-12). Ketika Samuel datang, Saul pun ditegur dengan sangat keras. “Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.” (ay 13-14). Awal gemilang berakhir tragis, karena Saul tidak mempergunakan kesempatan yang ada untuk melakukan kehendak Tuhan, untuk berjalan sesuai rencana Tuhan. Betapa menyedihkan, bahkan Tuhan sampai menyatakan menyesal telah memilihnya. “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” (15:11). Kita tahu hidup Saul berakhir tragis. “Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai.” (1 Tawarikh 10:13-14).

Daud kemudian menjadi penggantinya, dan kita bisa melihat bagaimana kedekatan yang terjadi antara Daud dan Tuhan. Memang Daud sempat tergelincir, dan akibatnya ia harus menanggung konsekuensi yang tidak ringan. Namun ia cepat bertobat dan kembali hidup taat kepada Tuhan. Tidaklah mengherankan jika Tuhan berkenan kepadanya. “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.” (2 Samuel 7:14). Tuhan tetap memberi hukuman keras atas kesalahannya, tapi semua itu bukan untuk membinasakan melainkan untuk mendidik, seperti hukuman seorang bapak kepada anaknya. Dan lihat kelanjutan perkataan Tuhan: “Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu.” (ay 15). Dengan jelas kita bisa melihat bagaimana keputusan Saul berakibat ditariknya seluruh janji, berkat dan penyertaan Tuhan daripadanya. Sedangkan kepada Daud yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkahnya, termasuk ketika ia menaklukkan Goliat, akan selalu diganjar kasih setia yang tidak berkesudahan. Saul dan Daud, dua-duanya pernah menjabat raja Israel, dua-duanya memiliki kesempatan, tapi pilihan yang berbeda diambil oleh keduanya. Daud memilih untuk melakukan kehendak Allah pada masanya, sebaliknya Daud memilih untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Dan hasil yang mereka peroleh pun berbeda.

Tuhan memberikan kepada setiap orang masanya masing-masing. ““Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkotbah 3:1) Masa atau waktu kita sesungguhnya terbatas. Jangan sampai masa yang ada itu kita lewatkan sia-sia, dibiarkan berlalu di depan mata, karena masa itu mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Oleh karena itu, ketika kesempatan ada, lakukanlah sebaik-baiknya dan jangan buang-buang waktu. Tuhan sudah membekali kita semua dengan talenta sendiri-sendiri, dan semua itu sudah seharusnya dipakai untuk memenuhi panggilan Tuhan. Adalah sebuah kehormatan tersendiri ketika kita dipilih Tuhan. Bersyukurlah untuk itu dengan mengikuti panggilanNya dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita melakukan hal yang sama seperti Saul. Mengawali segala sesuatu dengan gemilang, diperlengkapi Tuhan dengan segala kesempurnaan secara luar biasa, namun kita menyia-nyiakan itu semua, malah melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan. Daud tercatat dengan tinta emas karena melakukan kehendak Tuhan pada masanya, sebaliknya Saul berakhir tragis karena melakukan hal sebaliknya pada zamannya. Seperti apa kita mau tercatat?

Ketika kesempatan ada di tangan kita, apa yang akan kita lakukan?

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: