Menyesal

Ayat bacaan: Amsal 3:21
=====================
“Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu,”

menyesal

Malam ini saya teringat ketika melamar pekerjaan sebagai pengajar. Setelah melewati rangkaian penyaringan, saya akhirnya sampai pada proses terakhir dan langsung berhadapan dengan pimpinan. Dia memberi berbagai pertanyaan secara lisan, dan sebuah pertanyaan terakhir darinya berbunyi: “Apa yang paling anda sesali dari masa lalu anda?” Dalam perjalanan hidup kita selama ini, mungkin ada banyak hal yang kita sesali. Mulai dari sesuatu yang sederhana sampai sesuatu yang bisa jadi cukup fatal hingga mempengaruhi diri kita hari ini. Kenyataannya ada banyak orang terus terperangkap di bawah bayang-bayang masa lalu mereka dan tidak kunjung bisa maju menatap hari depannya. Ada peribahasa yang menggambarkan hal ini yaitu nasi sudah menjadi bubur. Bubur tidak bisa diolah lagi menjadi nasi, menggambarkan sesuatu yang sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa diulang kembali lagi. Bagi saya sendiri pertanyaan itu sempat membuat saya merenung. Saya bukanlah orang yang sempurna, dalam artian tidak pernah berbuat salah. Saya justru melakukan begitu banyak kesalahan di masa lalu. Lewat anugerahNya akhirnya Tuhan memberikan saya kesempatan untuk bertobat dan berbalik dari jalan-jalan saya yang buruk. Saya tidak bisa mengulangi masa lalu saya, tetapi saya bisa memperbaikinya untuk ke depan. Saya bersyukur bahwa Tuhan membukakan pintu kesempatan dan tidak mengambil nyawa saya di saat saya masih bergelimang dosa di waktu lalu. Ada banyak kecerobohan dan kebodohan yang saya lakukan sebelum bertobat dan saya tahu apa akibatnya. Oleh karena itulah saya harus benar-benar memperhatikan setiap langkah yang saya ambil hari ini agar jangan sampai semua itu terulang kembali. Saya tidak mau menambah daftar penyesalan setelah Tuhan menjadikan saya sebagai ciptaan baru, the whole new person in Christ.

Ada pepatah mengatakan “penyesalan selalu datang terlambat”. Bukankah ini menjadi bagian hidup semua orang? Menyesal tidak belajar dengan baik sehingga gagal dalam ujian, menyesal mengucapkan kata-kata buruk sehingga menyakiti orang untuk waktu yang cukup lama, menyesal sudah meninggalkan pekerjaan, menyesal atas pengambilan keputusan-keputusan yang keliru dan bentuk-bentuk penyesalan lainnya. Bersyukurlah bila kita masih diberi kesempatan untuk bertobat hari ini sehingga kita tidak perlu menyesal karena terlanjur kehilangan anugerah keselamatan seperti yang dialami oleh orang kaya dalam kisah Lazarus. (Lukas 16:19-31). Tapi ingatlah bahwa penyesalan tinggal penyesalan. Kita tidak bisa mengulang masa lalu. Ada yang baik, ada yang buruk, dan untuk yang buruk inilah penyesalan itu hadir pada suatu ketika, dan seringkali kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menanggung konsekuensi sebagai akibat dari kesalahan itu. Konsekuensi mau tidak mau tetap harus kita hadapi meski Tuhan sudah mengampuni kita. Tanyakan Daud, maka ia pasti akan bercerita panjang lebar mengenai hal ini.

Jika demikian, ada yang harus kita lakukan agar kita berhenti melakukan hal-hal yang akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Ayat bacaan hari ini memberikan tips agar kita terhindar darinya, “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu” (Amsal 3:21). Betapa pentingnya ayat ini dalam mencegah kita terjatuh ke dalam keputusan-keputusan hidup yang bisa mengarah kepada penyesalan. Pertimbangan dan kebijaksanaan, keduanya harus senantiasa menjadi fokus bagi kita dalam mengambil keputusan baik yang sederhana apalagi yang penting. Jangan terburu-buru, jangan asal-asalan, tetapi pikirkanlah semua dengan matang dengan pertimbangan dan kebijaksanaan. Berdoalah dan mintalah hikmat dari Tuhan untuk memampukan kita mengambil jalan-jalan yang benar dalam pengambilan keputusan. Salomo menggambarkan bagaimana indahnya apabila kita melakukan ini dalam hidup kita. “maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang.” (ay 22-25). Dengan kata lain Salomo berkata, apabila kita mempergunakan pertimbangan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, maka hidup kita akan terpelihara indah dan menyenangkan, kita akan berjalan dengan aman tanpa harus tersandung, kita akan terbebas dari rasa cemas dan bisa tidur nyenyak dan kita tidak perlu takut akan bencana yang bisa menyerang tiba-tiba. Mempergunakan hikmat untuk pertimbangan dan kebijaksanaan artinya mengijinkan Tuhan sendiri untuk menjaga kita agar tidak terperosok dalam jebakan. “Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.” (ay 26).

Apabila ada kesalahan-kesalahan yang sempat terjadi di waktu lalu dimana konsekuensinya masih kita rasakan hingga hari ini, jangan biarkan hal tersebut membuat langkah kita tersendat untuk maju. Sesungguhnya Tuhan sudah memberikan sebuah hidup baru yang bisa kita isi dengan lebih baik dari sebelumnya. Jangan pernah biarkan diri kita terbelenggu oleh kesalahan masa lalu, tetapi tataplah ke depan, dimana sesuatu yang indah sudah menanti kita. Rasul Paulus misalnya. Dia bukanlah orang yang baik sebelum bertobat. Masa lalunya kelam. Tetapi setelah bertobat ia tahu bahwa harus melupakan masa lalunya dan memandang ke depan. Dia berkata: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Jika tidak bisa dilupakan, pakailah semua itu sebagai pembelajaran agar kita bisa lebih baik lagi kedepannya. Konsekuensi mungkin masih harus kita tanggung, tetapi jangan biarkan hal itu merintangi kita untuk meraih mahkota kehidupan dan keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan bagi kita. Hari ini marilah kita memperhatikan betul untuk mempergunakan pertimbangan dan kebijaksanaan dengan sebaik-baiknya sebelum memutuskan sesuatu sehingga kita tidak perlu terjatuh dalam penyesalan tak berujung di kemudian hari. Let’s all be wise!

Sesal kemudian tidak berguna, maka bersikaplah bijak dalam mengambil keputusan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: