Menyerah (4) : Melangkah

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 19:7
=======================
“Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.”

melangkah

Menonton orang bertanding catur terkadang memang asyik. Sebuah papan catur yang terletak di kampus selalu secara berebutan dipakai para pegawai di sana untuk mengisi waktu luang. Saya pun sering melihat mereka bertanding setiap kali hendak atau selesai mengajar. Masing-masing bidak punya gerakan tertentu yang berbeda satu sama lain. Pemain catur handal akan tahu dalam berapa langkah mereka mampu memenangkan pertandingan. Catur adalah permainan yang menguras otak, tetapi juga memerlukan langkah. Bayangkan seandainya bidak-bidak itu tidak ada yang menggerakkan, tidak akan ada pertandingan apalagi yang menang.

Hidup yang kita jalani pun memerlukan langkah. Tidak akan ada hasil apapun yang bisa kita capai jika kita hanya diam di satu tempat, atau bergerak statis di tempat. Kita perlu mulai melakukan sesuatu, dan itu memerlukan sebuah langkah awal untuk mencapai keberhasilan. Ketika kita mengalami kegagalan pun, kita perlu meyakinkan diri kita untuk berani melangkah kembali. Seandainya kita hanya berdiam diri dan membiarkan bayangan kegagalan itu terus menguasai pikiran kita, maka kita tidak akan pernah bisa lepas darinya. Seringkali hal inilah yang menjadi kendala utama kita. Ketakutan kita untuk gagal lagi buat ke sekian kalinya, kekhawatiran kita menatap hari depan, keraguan atas kemampuan diri kita sendiri, semua ini bisa menjadi kendala bagi kita untuk tidak mengambil langkah apapun. Kita membiarkan diri kita terus terkapar dikuasai bayang-bayang kegagalan dan berlarut-larut memanjakan tekanan yang menerpa jiwa kita. Elia, seorang nabi luar biasa pun pernah hampir terjebak dalam hal itu.

Seperti bahasan di beberapa renungan sebelumnya, Elia mengalami break down pada jiwanya justru setelah ia melakukan perkara besar bersama Tuhan. Kelelahan tidak saja ia alami secara fisik, tapi juga tampaknya secara mental dan spiritual. Ancaman Izebel hadir pada saat yang tepat, di saat ia mengalami kelelahan yang teramat sangat. Maka Elia pun terduduk lemas di bawah pohon rindang dan berdoa agar kiranya Tuhan mencabut saja nyawanya. Ia goyah, kehilangan percaya diri, keyakinan dan harapan. Di saat seperti itu Tuhan ternyata segera bertindak agar Elia tidak terjatuh lebih jauh lagi ke dalam kekeliruan.

Dua hal yg sudah kita bahas kemarin menjadi jawaban Tuhan kepada Elia yang diturunkan melalui sosok malaikat. “Bangunlah, makanlah!” (1 Raja Raja 19:5). Itu dua pesan awal yang diserukan Tuhan. Elia harus bangkit, karena jika ia tidak bangkit maka ia akan terus tenggelam dalam tekanan dan hancur berantakan. Lalu makan, mengisi tubuh, jiwa dan rohnya agar kembali memiliki cukup kekuatan untuk melanjutkan perjalanannya. Hari ini kita sampai kepada hal ketiga dari kisah ini. Segera setelah Elia kembali tumbang begitu selesai makan untuk pertama kali, Tuhan kembali mengirimkan malaikatnya untuk menjumpai Elia. “Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.” (ay 7). Setelah bangun dan makan, langkah selanjutnya yang harus kita perhatikan adalah keberanian untuk melangkah. “Arise and eat, for the journey is too great for you.” Bangunlah dan makanlah, sebab kalau tidak, engkau tidak akan sanggup melanjutkan perjalananmu.” Ini berbicara mengenai melangkah. Bangkit saja belum cukup, kita harus pula mengisi tenaga kita dengan makanan. Food for the body, food for the soul and food for the spirit. Tapi kedua hal itu pun belumlah cukup, karena jika kita hanya bangkit dan makan tanpa melangkah, kita tidak akan bisa sampai kemana-mana.

Selain lewat kisah Elia, Alkitab juga mencatat banyak kisah mengenai keinginan Tuhan bagi kita untuk berani melangkah. Ketika Yosua diminta Tuhan untuk melanjutkan kepemimpinan Musa dalam membawa bangsa Israel memasuki tanah Kanaan yang dijanjikan, Tuhan berkata seperti ini: “..sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.” (Yosua 1:2-3). Selain memerintahkan Yosua untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya (ay 6,7 dan 9), Tuhan pun berpesan kepada Yosua untuk melangkah. Tuhan menjanjikan setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakinya utnuk menjadi miliknya, dan jika Yosua tidak melangkah, maka ia tidak akan menginjak apapun, alias tidak akan mendapat apa-apa. Bangsa Israel sendiri harus melalui perjalanan panjang puluhan tahun dan menghadapi raksasa-raksasa besar untuk mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan, sebuah kemerdekaan di tanah yang melimpah susu dan madunya. Simon Petrus sang nelayan pun harus terlebih dahulu “bertolak ke tempat yang dalam”, kembali melaut di siang hari, untuk mendapatkan berkat yang berkelimpahan. Yesus berkata “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Lukas 5:4). Yesus bisa saja memberikan langsung pada saat itu juga, tapi Tuhan ingin kita untuk melangkah terlebih dahulu untuk menuai berkat-berkat dan janji-janjiNya. Pada awal kisah Abraham, bapa orang beriman yang sebelumnya dikenal dengan nama Abram ini harus meninggalkan zona kenyamanannya dan berangkat mematuhi Tuhan meski ia tidak tahu arah tujuannya. Nuh dan keluarga diputuskan untuk menjadi satu-satunya keluarga yang selamat dari banjir besar, itupun ia harus terlebih dahulu membangun sebuah kapal yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya. Ada banyak contoh lain, dan semua itu menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki kita untuk terlebih dahulu melangkah untuk mencapai keberhasilan dan menuai semua berkat dan janji Tuhan.

Selain bangkit dan makan, kita harus berani melangkah, karena tanpa itu kita tidak akan bisa mencapai apa-apa. Segala tekanan jiwa, stres, depresi, kelelahan yang dialami Elia pun suatu saat mungkin kita alami, atau mungkin ada yang tengah mengalaminya hari ini. Lewat kisah Elia ini kita bisa melihat bahwa Tuhan tidak pernah diam berpangku tangan membiarkan anak-anakNya didera tekanan seperti ini. Tiga langkah yang Dia lakukan kepada Elia ternyata mampu mengembalikan stamina dan memulihkan mental Elia. Dan Elia pun kemudian bisa melanjutkan perjalanan panjangnya selama 40 hari dan 40 malam untuk mencapai gunung Horeb, dimana Allah kemudian menyatakan diriNya secara langsung kepada Elia. Hal yang sama pun berlaku bagi kita. Ketika kita mengalami tekanan yang mengakibatkan stres, depresi dan sebagainya, ketika kita mulai melihat tanda-tanda menyerah dalam diri kita, ingatlah ketiga langkah ini. Sebagaimana Elia kemudian mampu melanjutkan petualangannya seperti yang dikehendaki Tuhan, kita pun bisa mengalami hal yang sama. Pesannya jelas. Bangunlah alias bangkitlah, makanlah, kemudian beranilah melangkah. Ketiga hal ini mampu memulihkan keadaan Elia, dan saya percaya hal yang sama pun berlaku bagi kita. Tanpa kemauan untuk bangkit kita tidak akan pernah bisa mulai, tanpa makanan kita tidak akan punya cukup tenaga, tanpa melangkah kita tidak akan mampu meraih perubahan apapun menuju kebaikan. Anda tengah mengalaminya hari ini? Lakukanlah ketiga hal di atas, dan raihlah berkat Tuhan yang menunggu di depan anda. Let’s continue our journey and be the winner!

Beranilah melangkah untuk menuai janji dan berkat Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: