Menyerah (1)

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 19:4
=========================
“Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

Edward Payson Weston membuat catatan spektakuler pada tahun 1909. Saat itu, di usianya yang ke 70, ia sukses menempuh jarak 4000 mil dari New York menuju San Fransisco bukan dengan kendaraan melainkan dengan berjalan kaki. Sebuah prestasi yang mungkin tidak sanggup disaingi oleh kita yang masih berusia lebih muda dari dirinya. Sebuah petualangan yang berat pastinya. Dan saya yakin Weston mengalami banyak masalah dalam proses perjalanannya. Dalam sebuah wawancara yang ia lakukan ada satu hal yang cukup menarik. Ia berkata seperti ini: “Ada saat-saat dimana kaki saya terasa sangat sakit. Saya hampir saja menyerah dan menghentikan perjalanan ini. Masalah yang terbesar yang hampir saja membuat saya menyerah bukan rasa lelah, bukan pula jarak yang sangat jauh hingga 4000 mil, atau bukan pula panas terik yang memanggang diri saya, tetapi justru butiran pasir yang masuk ke dalam sepatu, membuat saya sulit untuk terus melangkah.”

Perjalanan hidup kita pun sama seperti itu. Kita harus menempuh jarak yang terkadang terasa sangat melelahkan. Di dalam prosesnya, kita akan bertemu dengan banyak masalah, kendala, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Dalam masing-masing kendala itu terdapat kesulitannya sendiri-sendiri, dan pada suatu ketika kita akan sampai kepada suatu keadaan dimana kita mulai merasa kehilangan harapan dan berpikir untuk menyerah. Bukan hanya masalah berat yang mampu membuat kita menyerah tetapi masalah kecil pun bisa membuat kita kehilangan semangat juang dan lebih memilih untuk mengibarkan bendera putih. Seperti Weston yang hampir menyerah justru hanya gara-gara butiran pasir, seperti itu pula kita sering dikalahkan oleh perkara-perkara yang mungkin relatif kecil dibanding setumpuk perkara besar yang pernah kita hadapi dan menangkan sebelumnya. Alkitab mencatat banyak kisah mengenai perjuangan iman para nabi, bagaimana mereka berjuang mengatasinya dan akhirnya tampil sebagai pemenang. Salah satunya adalah Elia, seorang nabi besar baik di jamannya yang terus kita kenang hingga hari ini.

Elia adalah sosok yang luar biasa. Elia disebut sebagai “nabi api”, yaitu nabi yang pernah menurunkan api dari Surga dan dengan gemilang mengalahkan 450 nabi Baal pada saat itu seperti yang tertulis dalam 1 Raja Raja 18:20-40. Dia sukses membuktikan bahwa Allah Abraham, Ishak dan Israel adalah Allah yang sesungguhnya. Elia dengan iman teguh berdoa “Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.” (ay 36). Selain api, Elia pun dikenal sebagai nabi hujan. “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” (Yakobus 5:17). Jelas, Elia merupakan sosok luar biasa dengan iman yang luar biasa pula. Tapi seperti yang dikatakan oleh Yakobus, Elia tetaplah manusia biasa, yang punya kelemahan dan keterbatasan sama seperti kita juga. Setelah ia membuktikan kuasa Allah yang secara nyata turun melalui dirinya, ternyata jiwanya tertekan ketika mendapat ancaman dari Isebel. Kelelahan fisik, mental dan spiritual ternyata bisa melanda Elia yang baru saja menyaksikan sendiri hebatnya kuasa Tuhan. Ia mengalami depresi yang kemudian memuncak lewat doanya. Bukannya minta dikuatkan atau diteguhkan, tapi sebuah simbol ingin menyerah pun terlihat dari isi doanya. “Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” (1 Raja-Raja 19:4). Elia tidak ingin lagi melihat hari esok, yang pasti hadir penuh ancaman. Sebuah anti klimaks pun nyata terlihat disini.

Kita pun sering mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Elia. Ada kalanya berbagai tekanan bertubi-tubi menerpa kita, mulai dari tekanan ringan hingga berat yang silih berganti, beriringan atau bahkan serentak menghantam kita dan membuat kita mulai kelelahan untuk terus berjuang. Harapan menjadi redup, keberhasilan terlihat semakin jauh, dan kita mulai berpikir untuk menyerah kalah karena tidak lagi merasakan adanya harapan. Kehancuran keluarga, anak-anak yang terlibat pergaulan bebas atau obat-obatan, pasangan yang melupakan tanggungjawabnya dan beralih ke orang lain, masalah besar dalam pekerjaan, kondisi finansial yang hancur, terlibat hutang besar, menghadapi tuduhan atau fitnahan, sakit penyakit dan lain-lain, semua ini bisa membuat jiwa kita tertekan sedemikian rupa sehingga menyerah akan tampak sebagai solusi paling logis dari semua itu. Mati saja, menjadi salah satu solusi tercepat untuk lepas dari jaring-jaring masalah yang sudah terasa begitu mengikat erat diri kita. Ada pula orang yang akan kelelahan dan terus berusaha tidur, tidur dan tidur lagi untuk menghindar dari tekanan jiwa yang akan begitu terasa di saat tengah sadar. Kita sering, atau setidaknya pernah mengalami hal itu bukan? Lalu apakah kita harus menyerah dan mulai memanjatkan doa dengan pesimis tanpa harapan seperti halnya Elia?

Puji Tuhan, kita memiliki sosok Bapa yang luar biasa peduli. Dia tidak mau kita berakhir seperti itu. Tuhan tidak akan pernah berdiam diri dan berpangku tangan melihat kita didera kesulitan. Yesus, PuteraNya yang tunggal pun telah Dia berikan kepada kita, dan itu merupakan bukti nyata betapa Dia adalah Allah yang sangat peduli. Jika untuk keselamatan kita yang kekal saja Tuhan begitu peduli, mengapa terhadap masalah yang menerpa kehidupan kita harus ragu akan kepedulianNya? Dan Tuhan jelas menginginkan kita untuk senantiasa hidup dengan pengharapan. Penulis Ibrani pun mengingatkan kita mengenai hal ini, mengapa kita harus terus memastikan agar api pengharapan jangan sampai pernah redup dalam diri kita. “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.” (Ibrani 10:23). Ya, Allah, yang menjanjikan itu semua, bukanlah Allah yang ingkar janji. Dia, yang menjanjikannya, setia.

Kembali kepada kisah Elia dan tekanan berat yang menerpa jiwanya sehingga membuatnya ingin menyerah, Tuhan ternyata memberi jawaban secara langsung, sesuai dengan janji-janjiNya di atas. Setidaknya ada 3 hal yang bisa menjadi pelajaran bagi kita yang mungkin tengah mengalami kondisi remuk jiwa seperti Elia. Dan ketiga pelajaran ini akan saya bahas satu persatu dalam tiga bagian berikutnya. Satu hal yang pasti, Allah peduli, dan Allah sanggup melakukan hal-hal luar biasa untuk meneguhkan dan menyelamatkan kita, bahkan hal-hal yang tidak mampu dijelaskan secara logika kita yang terbatas sekalipun. Daud pun berseru hal yang sama ketika ia merasa tertekan. “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6, 42:12, 43:5). Ia merasa perlu untuk terus mengingatkan jiwanya agar tetap berada dalam ketenangan, terus berjalan dalam pengharapan bersama Allah. Adakah diantara teman-teman yang mulai didera kelelahan teramat sangat dan mulai berpikir untuk menyerah? Semoga apa yang menjadi tindakan dan jawaban Allah terhadap Elia yang akan saya bahas dalam tiga hari ke depan mampu meneguhkan kembali jiwa anda dan menyalakan api pengharapan yang mulai meredup.

Pastikan api pengharapan tetap menyala dalam kesulitan seperti apapun

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply