Menyembuhkan Kanker di Kebun Mekon Indah, Kupang, NTT: Corpus Sanem in Mentem Sanam (3)

0
45

20150122_102921

Corpus Sanem in Mentem Sanam

TANPA pernah saya ketahui, ternyata karya pelayanan Opa Anton dan jajarannya sudah sangat jauh. Melalui buku yang sudah beredar umum dengan judul Manusia Sehat dalam Modus To Have and To Be, saya semakin menyadari, karya ini hampir tidak mungkin kalau bukan campur tangan, bahkan kehendak Tuhan.

Tanpa ingin membahas buku ini, secara ringkas, buku ini membuktikan denga nyata bahwa pepatah Latin yakni Mens sana in corpora sano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat) adalah konsep yang keliru. Buku di atas menggugat moto itu, dan sebaliknya memberikan moto baru yang tepat yakni Corpus sanum in mentem sanam (yang menentukan hidup dan sehat adalah jiwa manusia yang unik dengan segala relasinya).

Hasil uji praxis atas 200 pasangan yang dipersiapkan dengan paradigma baru ini oleh Lembaga Psikologi Terapan Kupang (LPTK), di mana Opa adalah pengendalinya, berhasil dengan sangat memuaskan. Pelayanan ini memenangkan penghargaan Millenium Development Goals tahun 2013 yang diberikan Presiden pada bulan Maret 2014. (Para pembaca yang berminat dapat membaca buku tersebut).

Di dalam sharing dengan teman-teman pada hari-hari saya berada di Mekon, bahkan semakin terlihat bahwa mens sana in corpora sano itu erat dengan pesan-pesan komersiil yang mengarah kepada kesehatan tubuh, makanan-makanan ‘super canggih’ yang harganya sulit diterima akal, bahkan yang sangat trendy saat ini jenis supplemen, atau makanan yang hanya dapat di akses melalui multi level marketing yang gila. (seperti saya sebut di atas, saya pernah mencoba namun tidak bertahan karena rumit dan mahal). Kita semua semakin terseret ke dalam arus konsumerisme yang kronis. (Baca juga: Menyembuhkan Kanker di Kebun Mekon Indah, Kupang, NTT (1)

20150122_103107
Tanaman dengan pupuk kandang.

Membentur dinding
Tulisan ini membentur dinding di bagian penutup. Saya tidak mampu mengakhiri dengan baik. Semua teman-teman saya bertanya, Pak Antonius Porat itu siapa? Apakah beliau pastor? Atau seorang paranormal?

Itu yang paling banyak pertanyaan praduga. Sejujurnya saya tidak bisa menjawab. Yang saya tahu dari biodata dalam buku yang diterbitkan LPTK di atas, Opa adalah seorang sarjana sastra, dosen, dan sekarang peneliti Ahli di LPTK. Biodata ini sulit menjelaskan proses kesembuhan yang kami saksikan. Ketika teman-teman yang dilayani Opa juga bertanya pertanyaan yang sama, jawabannya,“Saya ini dukun”, dengan candanya yang khas dan gembira.

Namun perkenankan disini saya melarikan diri, ke orang lain dari negara lain. Yang pertama adalah Dr. Art Ong Jumsai, guru SD di Thailand, penganut Buddhisme yang rendah hati. Yang kedua adalah Dr. Scott Hahn, penulis banyak buku yang sangat saya gemari. (Baca juga: Menyembuhkan Kanker di Kebun Mekon Indah, Kupang, NTT: Air Putih dan Makan Sehat (2)

Dr. Jumsai adalah fisikawan kesohor yang memilih jadi guru SD. Beliau penemu sistem pendaratan satelit Soyuz di planet Mars. Proses penemuan itu sangat menarik.
Ketika Uni Soviet runtuh, terbentuklah kerjasama antara badan antariksa USA dengan Rusia dalam suatu projek ambisius mendaratkan satelit di Mars. Dr Jumsai sendiri tidak tahu mengapa bisa berada diantara 100 fisikawan (50 dari USA dan 50 dari Rusia) dalam projek eksklusif tersebut, dan menjadi satu-satunya dari luar dua negara adidaya itu.

Singkat cerita, seratus satu fisikawan itu setelah bekerja keras siang dan malam, berminggu-minggu, gagal menemukan sistem pendaratan yang aman bagi satelit di permukaan Mars yang berbatu-batu raksasa itu. Dr Jumsai juga “menyerah” dan mengambil cuti, selama seminggu, naik ke salah satu pegunungan Rocky Montain, California. Kebanyakan waktu cutinya hanya digunakan untuk duduk bersila, mengosongkan diri. Pasca proses cuti itu, dalam pengakuannya, Dr Jumsai merasa berada di tempat terang benderang, dengan sistem pendaratan yang dicari tergambar jelas dalam sanubarinya, yang menjadi sistem yang digunakan satelit Soyuz I dan II secara berhasil.

Pemerintah USA bergerak cepat, menawarkan kewarganegaraan kelas satu plus semua yang menggiurkan untuk menetap di negara Paman Sam. Ketika Dr Jumsai memilih pulang kampung ke Thailand untuk menjadi guru SD, selama dua tahun agen-agen CIA membuntuti dan mengepung beliau, kawatir Dr Jumsai diculik Rusia atau China.
Saya dan istri beruntung masuk dalam tim guru Jakarta berkunjung ke SD tersebut Januari 2007, dan lebih beruntung dapat beberapa kali semeja makan. Beliau berkelakar, “Lha wong guru SD saja kok di kawal CIA”. Perlu dicatat, hasil didikan Dr, Jumsai, kini banyak menjadi penggerak ekonomi pertanian Thailand.

Dr. Scott Hahn awalnya adalah mahasiswa Seminari Presbytarian Calvinist yang brillian, yang sedang dalam pergulatan penyelesaian disertasi tentang makna perjanjian dalam ‘Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru’. Melalui pergulatan ini, ia dan keluarganya akhirnya menemukan rumah dan Gereja mereka. Proses penyelesaian disertsi Dr Hahn juga sangat memikat. Ia “menyerah”, di puncak keputusasaan. Beliau yang terkenal pelahap buku teologis, telah membaca berulang kali bahkan ribuan kali bagian kunci disertasi, tetapi tidak menemukan jawaban.

Pukul 02:30 pagi, di Steubenville, Ohio, USA, di tengah kebekuan kota, Scott Hahn dengan rambut kusut, sangat kurang tidur, tiarap menelungkup di kaki salib baja yang menjulang tinggi di kebun universitas, menangis, dan menyerahkan ketidakmampuan dirinya. Dalam pengakuan di bukunya, ia mengatakan, ketika bangkit dan berjalan pulang ke aparemennya, ia merasa dalam suasana terang benderang yang menakjubkan. Buku dalam bahasa Latin dan bahasa Inggris yang ia baca ribuan kali ternyata salah menginterpretasikan buku yang sama yang merupakan sumbernya dalam bahasa Yunani, yang dengan jelas menjawab pencarian Scott Hahn. Ia lulus doctoral dengan sempurna.

Kini saya ingin Kembali ke Kupang, Jumat 12 Desember 2014. Baru hari ketiga kami tinggal di Mekon, Kupang. Saya agak terkejut, ketika Opa mengundang saya (tanpa istri) minum kopi (dan makan malam) di kediaman pribadi keluarga Pak Anton, hanya bersama sedikit orang. Yang saya ingat, dalam pertemuan itu ada Pastor Paulus, rohaniwan senior setempat, Pastor Paul Rachmat dari Jakarta, Dr. Rufus Patty Wutun, pimpinan LPTK, dan dua yang lain.

Opa Anton tinggal di dalam kota Kupang, Jl. Tuak Daun Merah (TDM) 4, sekitar 20 menit dengan mobil dari Mekon.

Malam itu beliau menceritakan proses perutusannya. Saya tidak menangkap seluruhnya. Tetapi yang saya ingat, prosesnya sangat unik, berawal dari keprihatinan batin mendalam atas situasi sosial dan Gereja di Kupang dan NTT. Apa yang terjadi kemudian, mirip pengalaman Dr. Jumsai di Rocky Mountain, dan Dr. Hahn di bawah Salib di Steubenville.

Tiga peristiwa itu menuntun saya kepada suara hati berikut.
1. Bahwa sumber inspirasi (menurut istilah Dr Rufus ‘Yang Empunya Inspirasi’) tetap bekerja dari dulu sampai sekarang, bahkan saya percaya sampai kekal. Pencerahan bukan monopoli para Nabi zaman dahulu, atau para Santo-Santa, tetapi juga terjadi pada era saat ini pada banyak pribadi yang hidup bersama kita.
2. Ketiga tokoh ini (Dr Jumsai, Dr Hahn, dan Opa Anton) semuanya bukan pastor atau klerus, bukan kiai, dan juga bukan bhiksu. Beliau semua adalah figur ayah dari sebuah keluarga biasa. Terlebih juga bukan dari denominasi agama tertentu.
3. Beliau semua memperoleh pencerahan secara unik pada suatu keprihatinan yang diserukan bathin mereka masing-masing, untuk maslahat banyak orang.

Rangkuman
Dari ketakjuban kami atas Kebun Mekon Indah, kami dibawa ke sumbernya oleh Opa Anton, melalui pergaulan kami, atau lebih tepatnya melalui pelayanan Opa Anton dari hari-kehari selama kami tinggal di Kupang. Sumbernya adalah relasi segitiga antara Sumber Inspirasi (Yang Berkuasa atas Jiwa), dengan Jiwa pribadi kita yang unik, serta dengan persepsi atas lingkungan kita masing-masing.

Sungguh sayang, relasi tripartit ini banyak tereduksi menjadi bipartit yang terdominasi oleh gerak lingkungan yang cepat dan menggiurkan. Relasi lengkap ini diupayakan untuk dipulihkan atau tepatnya disembuhkan, melalui pelayanan Opa disertai irama gerak bersama semua orang di Mekon dan TDM, Kupang. Buahnya, nyata!

Perjumpaan kami dengan Dr Jumsai diwaktu yang lalu mempercepat kami memahami lebih dalam atas perutusan Opa. Rachmat pencerahan terus terjadi kepada siapa yang dengan sungguh-sungguh mencarinya, terlepas mereka dari denominasi apa pun. Ada hal yang indah lainnya, Dr Jumsai adalah pribadi menarik dengan kehalusan tutur kata, demikian juga Opa Anton adalah pribadi menarik melalui candanya yang tak pernah habis.

Bacaan kami dari buku-buku Dr Scott Hahn, mempercepat kami memahami makna tentang apa dan bagaimana perjanjian dengan Sang Pencipta. Salah satu ungkapan Dr Hahn yang membantu saya adalah “Kasih Allah itu gratis tetapi tidak murah”.

Camkanlah kata ‘tidak murah’, bacalah ‘sangat berharga’!. Bagaimana kita dapat memperolehnya? Harga yang harus Anda dan saya bayar untuk menikmati kasih Allah secara nyata, adalah upaya dengan segenap akal budi untuk patuh dan rendah hati, termasuk ketika melalui Opa Anton, kita dibukakan racun tubuh kita masing-masing.

Jangan lupa, Anda dan saya, sebagai ranting pokok anggur, juga diutus untuk berbuah.
Mekon, 22 Januari 2015

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here