Menyembuhkan Kanker di Kebun Mekon Indah, Kupang, NTT (1)

Kebun Mekon IndahKata Pengantar Redaksi Sesawi.Net dengan suka hati menerima sumbangan naskah perjalanan rohani HY Susmanto yang menemani istrinya berobat dari penyakit kanker payudara ganas sejak dua tahun terakhir ini. Perjalanan menuju kesembuhan ini dijalani dengan cara ‘tidak biasa’ yakni dengan meninggalkan ‘dunia yang ramai’ dan sedikit ‘menyepi’ serta mengonsumsi asupan makanan-minuman yang terkontrol sesuai anjuran terapist. Tuturan cerita kisah nyata ini sengaja dibagikan kepada pembaca Sesawi.Net dengan maksud berbagi kisah iman dan perjalanan menuju kesembuhan dengan metode sederhana dan murah. Semoga berguna. ——————– Selumbar Balok di Mataku Terangkat Sudah TULISAN  adalah catatan tentang perjalanan pertemuan kami (saya dan istri) dengan Bapak Antonius Porat dengan jajarannya di Kupang, Timor Barat, NTT. Meski saya berusaha seringkas mungkin, tetapi dimensinya terlalu luas, sehingga setelah saya membaca ulang, rasanya masih banyak sekali yang belum terungkap. Awal dari cerita ini bermula dari kisah panjang pergulatan kami menghadapi penderitaan istri, yang juga penderitaan kami berdua. Istri saya menerima karunia breast cancer (kanker payu dara ganas) hampir dua tahun berlalu. Hampir seluruh terapi medis yang kami ketahui, mulai dari operasi, radioterapi, kemoterapi, herbal, bahkan electroterapi sudah dilalui, tetapi tetap saja belum terbebas dari keluhan dan atau penderitaan. Pertemuan kami dengan Pak Anton,atau Opa Anton (panggilan akrabnya) berawal dari pertemuan kami dengan teman lingkungan yang sharing tentang dirinya sendiri yang menjadi terbebas dari penderitaan/sakitnya. Itu dilakoni bisa sembuh dengan hanya dengan cara berpantang makanan yang disebut Opa Anton sebagai “racun tubuh”. Daftar racun itu diperolehnya, ketika ia datang di pertemuan di sebuah kota, dan bersalaman dengan Opa, lalu beliau mengatakan: “Racun Anda adalah a,b,c, … dst” Kabar ini bersambung dengan seorang famili yang menceritakan pengalaman yang sama. Racun tubuh Nah, kami (saya dan istri) sama-sama tertarik dengan kabar ini, karena di samping kami toh sudah pelan-pelan menuruti nasihat dokter, pantang jenis makanan tertentu, seperti daging, sejak istri terapi medis di atas. Dalam hati kami ingin tahu apakah pantang kami sudah benar dan atau perlu ditambah/diubah berdasarkan nasihat Opa Anton. Pendek kata, kami memang ingin belajar pantang sesuatu di hari tua untuk sebuah ketenangan. Pertemuan itu terjadi pertama kali di Bandung di akhir bulan November 2014 di rumah seorang dokter ternama: dr Maximus, yang menurut penuturannya sendiri, juga perlu pertolongan Opa untuk keluar dari sakit yang dideritanya. Semua tamu baru yang datang di rumah dr. Maximus bersalaman dengan Opa dan satu per satu diberitahu racun untuk masing-masing yang berbeda-beda bagi setiap pribadi, sementara para asisten sibuk mencatat dan memberikan hasil catatan kepada pribadi tamu yang bersangkutan. Setiap pribadi unik Itu hal pertama yang saya tangkap dari pembicaraan dalam gathering lebih dari 70 an orang itu. Dalam hal ini, sebenarnya sudah banyak tulisan yang pernah kami baca, yang mengatakan tidak ada kornea mata yang sama, atau guratan (rajah) ibu jari yang sama di dunia ini yang berisi milyaran orang, tetapi kami tidak tahu maknanya dalam kesehatan tubuh. Keunikan termasuk masalah kesehatan. Inilah hal penting yang kami belajar tentang ke khas-an pribadi. Tentang hal ini kami juga pernah diberitahu oleh dr. Budiarto, mantan teman kelas di SMA dulu, sekarang beliau mendalami pengobatan radiestesi. Dr Budiarto waktu itu mengatakan bahwa ekstrak kulit manggis cocok untuk saya, tetapi tidak cocok untuk istri saya. Setiap pribadi unik. (Waktu itu, kami dibelikan oleh anak, satu botol ekstrak kulit manggis, dan saya konsultasikan ke dr. Budi sebelum kami menyentuh atau mengkonsumsinya). Kebun Mekon Indah Dalam pertemuan akhir November di Bandung itu, banyak sharing dan ekspresi syukur dari mereka yang telah berhasil keluar dari penderitaan mereka. Salah satu yang kami tangkap dengan jelas dari sharing mereka kira-kira begini: “Kalau Anda diminta Opa untuk ke Kupang”, sebaiknya segera lakukan. Mereka menuturkan, sengaja penundaan, banyak yang berakibat buruk, bahkan fatal. Dari begitu banyak tamu yang menunggu untuk konsultasi pribadi pasca terapi umum usai, kami beruntung dapat bertemu Opa, dan singkat kata, istri di minta ke Kupang. Menanggapi perintah tersebut, spontan apa yang terlintas dalam hati, langsung saya katakan ke istri. “ Ma, kita kan sudah lebih dari dua tahun tidak pernah ke luar kota, kita hanya ke RSCM, RS Carolus, RS Dharmais, RS Pertamina, dan BI Health Centre, mari kita nikmati saja jalan-jalan ke Kupang”. Begitulah respons kami kepada permintaan Opa Anton, dan kami mengatur waktu, serta berangkat 9 Desember 2014. Dengan seribu pertanyaan di kepala, kami menikmati perjalanan ke Kupang, transit di Surabaya dengan pesawat sore. Tiba di Bandara El Tari, Kupang, sudah hampir tengah malam waktu setempat. Salah satu pertanyaan terjawab, ketika kami bertemu penjemput yang ramah, dan diantar ke sebuah rumah di suatu kompleks dengan kamar ber AC. Makan malam pun masih tersedia, meski sudah larut malam. Ketika pagi hari bangun, kami menyadari bahwa kompleks itu masih baru, jalan-jalan nya masih dalam proses perbaikan dan masih ada bangunan lain yang dalam penyelesaian. Kami menyusuri jalan baru itu dan tiba di suatu kebun atau lebih tepat taman yang mencengangkan! Hati saya mengatakan, hampir sebuah “ketidakmungkinan”. Saya sudah beberapa kali ke Kupang sebelumnya, baik ketika saya masih aktif bekerja (karena tugas), atau setelah pensiun untuk suatu kegiatan sosial. Tidak ada keinginan untuk mengajak istri, karena apa yang saya lihat tidak ada yang terlalu menarik kecuali tanah tandus. Teman asal Kupang sendiri becanda “di sini bukan tanah berbatu,tetapi batu bertanah”. Kebun/taman itu terhampar hijau, dengan kolam-kolam ikan di kiri kanan jalan atau menempel di pagar-pagar keliling. Hampir seluruh tanaman adalah tanaman sayuran dan/atau buah-buahan, dan di sana-sini terdapat pohon pisang dan pepaya yang subur. Ketika matahari mulai meninggi, karyawan kebun mulai datang. Mereka sangat ramah, selalu menyapa, “tamu baru ya Pak/Bu”! Kami takjub, bukan hanya oleh keindahan taman sayuran yang hijau, tetapi juga dengan sapaan tulus dari setiap orang yang kami jumpai pagi itu. Sulit memercayai, bahwa ini Kupang. Agak masuk lebih jauh ke dalam kebun, kami bertemu karyawan lain yang sedang mempersiapkan makan untuk ternak sapi. Ia memperkenalkan diri dengan ramah, Eddy namanya. (Belakangan, melalui orang lain saya diberitahu bahwa ia sarjana peternakan). Kami menanyakan kepadanya nama tempat ini, dan dijawab Mekon! Ketika kami melanjutkan apakah ada artinya, atau apakah sebuah singkatan? Eddy tidak yakin bahwa nama itu sebuah singkatan atau ada artinya. Ada dua baris kandang sapi, yang masing-masing berkapasitas 10 ekor sapi. Tetapi baru terisi satu baris, sementara yang lain berisi pakan dan berbagai peralatan kebun. Lantai kandang sedikit miring, sehingga kalau sapi kencing, atau buang kotoran gampang disiram, dan langsung masuk ke dalam sebuah digester di dalam tanah, yang sudah disiapkan untuk membentuk/memproduksi biogas. Ketika kami datang, instalasi pralon menuju dapur sedang dalam penyelesaian, Dalam waktu dekat, dapur akan disupply biogas untuk memasak. Ketika kami berbincang dengan Eddy dan bertanya: “Mengapa kandang sapi baru terisi separuh?”, maka kami memperoleh penjelasan yang tak pernah kami fikirkan. Supply system pakan sapi dari kebunbaru mencukupi untuk 10 sapi. “Kami masih menunggu pembukaan lahan baru untuk tanaman rumput,” begitu penjelasan Eddy sambil menunjuk tanah sebelah pagar, yang memang sudah menjadi bagian dari Taman Mekon. Hamparan ‘batu bertanah’ di sebelah menunjukkan asli tanah yang belum diolah. Mata saya terbuka, bahwa dengan kerja keras dan iman yang kuat, batu dapat diubah menjadi kebun sayuran. Bahkan, untuk sekedar mengubah menjadi ladang rumput pakan sapi pun memerlukan upaya yang tidak ringan. Hidup mengalir terasa mudah Matahari semakin meninggi, dan kami terus berjalan menikmati rasa takjub. Jalan di kebun itu memutar, mengarah menuju dapur. Di dapur telah berkerumun beberapa orang sedang bercanda. Semua penghuni menunjukkan keramahan, berusaha saling membantu, termasuk memandu kekakuan kami sebagai orang/tamu baru. “ Mari Bapak-Ibu kita sarapan! Inilah sarapan a la Mekon, ” sambil membuka tutup makanan, menyodorkan pisang rebus. Standar sarapan di Mekon, untuk yang dewasa adalah pisang rebus. Bagi yang suka kopi dan “bukan racun bagi dirinya” biasanya dengan kopi pahit. Tersedia juga gula pasir. Ketika baru pertama datang, saya minum kopi dengan gula sesuai kebiasaan saya, sambil menikmati pisang rebus. Namun, selanjutnya saya menyesuaikan, kopi tanpa gula, dan kini menjadi kebiasaan baru yang lebih sehat. Kami makin hari makin belajar dari para penghuni, bahwa kalau minum kopi sebaiknya dipilih kopi murni, dan hindari yang telah dicampur (jagung, susu, creamer, dan/atau gula). Untuk pasien anak-anak, orangtua masing-masing harus memasakkan sendiri kebutuhan anak mereka, sesuai dengan kebiasaan makanan sehat mereka. Tentu, asal bukan “racun”. Ketika itu ada beberapa pasien anak autis dan beberapa orang dewasa yang sedang menjalani terapi berbagai penyakit. Satu hal, dari pergaulan dengan mereka, kami mulai menyadari bahwa kita semua saling belajar menerima orang lain apa pun keadaan mereka, dengan gembira. Sekitar pukul 10:30 Opa Anton datang. Dengan candanya yang khas, Opa menyapa kami, “Selamat datang di Mekon”. Perlu dicatat, dimana pun Opa Anton berada, selalu bercanda ria, kami semua dibuat gembira. Beliau menjelaskan konsep hidup sederhana yang mengalir mudah. Di Mekon tidak ada yang terbuang (zero waste). Kulit-kulit pisang ini langsung akan menjadi makanan sapi dan/atau babi, kotoran sapi akan masuk ke kantong biogas di dalam tanah; gas yang timbul untuk memasak di dapur. Kotoran sapi yang sudah tanpa gas siap menjadi pupuk organik murni untuk memupuk seluruh tanaman sayur-mayur yang dikonsumsi seluruh penghuni, tidak ada sayuran dari luar, seratus persen organik. Gulma (berbagai jenis rumput dan ilalang yang tumbuh tanpa di tanam), setiap hari disiangi, dan dikumpulkan, dan menjadi makanan kesukaan sapi setelah dicuci. Menjelang pukul 12:00 siang, makan siang sudah siap, disiapkan oleh tenaga- tenaga terampil yang juga dibantu oleh para tamu atau pasien yang memungkinkan. Standar makan siang juga sederhana, nasi merah, dua jenis sayur dari kebun, dan ikan goreng dari laut lepas, yang terkenal lezat dan murah di Kupang. Ikan-ikan dipilih yang kecil, digoreng kering, sehingga hampir tanpa ada sisa setelah makan usai. Sambil tertawa Opa mengatakan,”Mengapa dipilih ikan kecil, karena ikan-ikan ini tangkapan nelayan kecil, sementara ikan-ikan besar sudah menjadi santapan nelayan besar dengan segala kapal canggih mereka”. Opa sendiri kami lihat tidak makan siang, karena hanya makan sekali sehari, yaitu makan malam. Kami tercengang dengan semuanya ini. Bahkan setelah beberapa hari, ketika istri mulai akrab di dapur, mengetahui bahwa cara masak sayur setiap hari pun juga sangat sederhana, cukup bawang merah-putih dan garam Kupang yang terkenal murni bersih. Untuk makan malam, praktis sama dengan makan siang. Betapa sederhana arus kehidupan di Mekon, bersih, mudah, murah, dan tak bersampah.

Kebun Mekon Indah

Kata Pengantar

Redaksi Sesawi.Net dengan suka hati menerima sumbangan naskah perjalanan rohani HY Susmanto yang menemani istrinya berobat dari penyakit kanker payudara ganas sejak dua tahun terakhir ini. Perjalanan menuju kesembuhan ini dijalani dengan cara ‘tidak biasa’ yakni dengan meninggalkan ‘dunia yang ramai’ dan sedikit ‘menyepi’ serta mengonsumsi asupan makanan-minuman yang terkontrol sesuai anjuran terapist.

Tuturan cerita kisah nyata ini sengaja dibagikan kepada pembaca Sesawi.Net dengan maksud berbagi kisah iman dan perjalanan menuju kesembuhan dengan metode sederhana dan murah. Semoga berguna.

——————–

Selumbar Balok di Mataku Terangkat Sudah

TULISAN  adalah catatan tentang perjalanan pertemuan kami (saya dan istri) dengan Bapak Antonius Porat dengan jajarannya di Kupang, Timor Barat, NTT. Meski saya berusaha seringkas mungkin, tetapi dimensinya terlalu luas, sehingga setelah saya membaca ulang, rasanya masih banyak sekali yang belum terungkap.

Awal dari cerita ini bermula dari kisah panjang pergulatan kami menghadapi penderitaan istri, yang juga penderitaan kami berdua. Istri saya menerima karunia breast cancer (kanker payu dara ganas) hampir dua tahun berlalu. Hampir seluruh terapi medis yang kami ketahui, mulai dari operasi, radioterapi, kemoterapi, herbal, bahkan electroterapi sudah dilalui, tetapi tetap saja belum terbebas dari keluhan dan atau penderitaan.

Pertemuan kami dengan Pak Anton,atau Opa Anton (panggilan akrabnya) berawal dari pertemuan kami dengan teman lingkungan yang sharing tentang dirinya sendiri yang menjadi terbebas dari penderitaan/sakitnya. Itu dilakoni bisa sembuh dengan hanya dengan cara berpantang makanan yang disebut Opa Anton sebagai “racun tubuh”.

Daftar racun itu diperolehnya, ketika ia datang di pertemuan di sebuah kota, dan bersalaman dengan Opa, lalu beliau mengatakan: “Racun Anda adalah a,b,c, … dst” Kabar ini bersambung dengan seorang famili yang menceritakan pengalaman yang sama.

Racun tubuh
Nah, kami (saya dan istri) sama-sama tertarik dengan kabar ini, karena di samping kami toh sudah pelan-pelan menuruti nasihat dokter, pantang jenis makanan tertentu, seperti daging, sejak istri terapi medis di atas. Dalam hati kami ingin tahu apakah pantang kami sudah benar dan atau perlu ditambah/diubah berdasarkan nasihat Opa Anton. Pendek kata, kami memang ingin belajar pantang sesuatu di hari tua untuk sebuah ketenangan.

Pertemuan itu terjadi pertama kali di Bandung di akhir bulan November 2014 di rumah seorang dokter ternama: dr Maximus, yang menurut penuturannya sendiri, juga perlu pertolongan Opa untuk keluar dari sakit yang dideritanya. Semua tamu baru yang datang di rumah dr. Maximus bersalaman dengan Opa dan satu per satu diberitahu racun untuk masing-masing yang berbeda-beda bagi setiap pribadi, sementara para asisten sibuk mencatat dan memberikan hasil catatan kepada pribadi tamu yang bersangkutan.

Setiap pribadi unik
Itu hal pertama yang saya tangkap dari pembicaraan dalam gathering lebih dari 70 an orang itu. Dalam hal ini, sebenarnya sudah banyak tulisan yang pernah kami baca, yang mengatakan tidak ada kornea mata yang sama, atau guratan (rajah) ibu jari yang sama di dunia ini yang berisi milyaran orang, tetapi kami tidak tahu maknanya dalam kesehatan tubuh.

Keunikan termasuk masalah kesehatan. Inilah hal penting yang kami belajar tentang ke khas-an pribadi. Tentang hal ini kami juga pernah diberitahu oleh dr. Budiarto, mantan teman kelas di SMA dulu, sekarang beliau mendalami pengobatan radiestesi.

Dr Budiarto waktu itu mengatakan bahwa ekstrak kulit manggis cocok untuk saya, tetapi tidak cocok untuk istri saya. Setiap pribadi unik. (Waktu itu, kami dibelikan oleh anak, satu botol ekstrak kulit manggis, dan saya konsultasikan ke dr. Budi sebelum kami menyentuh atau mengkonsumsinya).

Kebun Mekon Indah
Dalam pertemuan akhir November di Bandung itu, banyak sharing dan ekspresi syukur dari mereka yang telah berhasil keluar dari penderitaan mereka. Salah satu yang kami tangkap dengan jelas dari sharing mereka kira-kira begini: “Kalau Anda diminta Opa untuk ke Kupang”, sebaiknya segera lakukan. Mereka menuturkan, sengaja penundaan, banyak yang berakibat buruk, bahkan fatal.

mekon7
Terapi sehat dengan menjalani kehidupan secara natural dan sederhana.

Dari begitu banyak tamu yang menunggu untuk konsultasi pribadi pasca terapi umum usai, kami beruntung dapat bertemu Opa, dan singkat kata, istri di minta ke Kupang. Menanggapi perintah tersebut, spontan apa yang terlintas dalam hati, langsung saya katakan ke istri. “ Ma, kita kan sudah lebih dari dua tahun tidak pernah ke luar kota, kita hanya ke RSCM, RS Carolus, RS Dharmais, RS Pertamina, dan BI Health Centre, mari kita nikmati saja jalan-jalan ke Kupang”.

Begitulah respons kami kepada permintaan Opa Anton, dan kami mengatur waktu, serta berangkat 9 Desember 2014.

Dengan seribu pertanyaan di kepala, kami menikmati perjalanan ke Kupang, transit di Surabaya dengan pesawat sore. Tiba di Bandara El Tari, Kupang, sudah hampir tengah malam waktu setempat. Salah satu pertanyaan terjawab, ketika kami bertemu penjemput yang ramah, dan diantar ke sebuah rumah di suatu kompleks dengan kamar ber AC. Makan malam pun masih tersedia, meski sudah larut malam.

Ketika pagi hari bangun, kami menyadari bahwa kompleks itu masih baru, jalan-jalan nya masih dalam proses perbaikan dan masih ada bangunan lain yang dalam penyelesaian. Kami menyusuri jalan baru itu dan tiba di suatu kebun atau lebih tepat taman yang mencengangkan!

Hati saya mengatakan, hampir sebuah “ketidakmungkinan”.

Saya sudah beberapa kali ke Kupang sebelumnya, baik ketika saya masih aktif bekerja (karena tugas), atau setelah pensiun untuk suatu kegiatan sosial. Tidak ada keinginan untuk mengajak istri, karena apa yang saya lihat tidak ada yang terlalu menarik kecuali tanah tandus. Teman asal Kupang sendiri becanda “di sini bukan tanah berbatu,tetapi batu bertanah”.

Kebun/taman itu terhampar hijau, dengan kolam-kolam ikan di kiri kanan jalan atau menempel di pagar-pagar keliling. Hampir seluruh tanaman adalah tanaman sayuran dan/atau buah-buahan, dan di sana-sini terdapat pohon pisang dan pepaya yang subur. Ketika matahari mulai meninggi, karyawan kebun mulai datang. Mereka sangat ramah, selalu menyapa, “tamu baru ya Pak/Bu”!

Kami takjub, bukan hanya oleh keindahan taman sayuran yang hijau, tetapi juga dengan sapaan tulus dari setiap orang yang kami jumpai pagi itu. Sulit memercayai,
bahwa ini Kupang.

Agak masuk lebih jauh ke dalam kebun, kami bertemu karyawan lain yang sedang mempersiapkan makan untuk ternak sapi. Ia memperkenalkan diri dengan ramah, Eddy namanya. (Belakangan, melalui orang lain saya diberitahu bahwa ia sarjana peternakan). Kami menanyakan kepadanya nama tempat ini, dan dijawab Mekon! Ketika kami melanjutkan apakah ada artinya, atau apakah sebuah singkatan? Eddy tidak yakin bahwa nama itu sebuah singkatan atau ada artinya.

Ada dua baris kandang sapi, yang masing-masing berkapasitas 10 ekor sapi. Tetapi baru terisi satu baris, sementara yang lain berisi pakan dan berbagai peralatan kebun. Lantai kandang sedikit miring, sehingga kalau sapi kencing, atau buang kotoran gampang disiram, dan langsung masuk ke dalam sebuah digester di dalam tanah, yang sudah disiapkan untuk membentuk/memproduksi biogas. Ketika kami datang, instalasi pralon menuju dapur sedang dalam penyelesaian, Dalam waktu dekat, dapur akan disupply biogas untuk memasak.

Ketika kami berbincang dengan Eddy dan bertanya: “Mengapa kandang sapi baru terisi separuh?”, maka kami memperoleh penjelasan yang tak pernah kami fikirkan. Supply system pakan sapi dari kebunbaru mencukupi untuk 10 sapi. “Kami masih menunggu pembukaan lahan baru untuk tanaman rumput,” begitu penjelasan Eddy sambil menunjuk tanah sebelah pagar, yang memang sudah menjadi bagian dari Taman Mekon.

Hamparan ‘batu bertanah’ di sebelah menunjukkan asli tanah yang belum diolah. Mata saya terbuka, bahwa dengan kerja keras dan iman yang kuat, batu dapat diubah menjadi kebun sayuran. Bahkan, untuk sekedar mengubah menjadi ladang rumput pakan sapi pun memerlukan upaya yang tidak ringan.

Hidup mengalir terasa mudah
Matahari semakin meninggi, dan kami terus berjalan menikmati rasa takjub. Jalan di kebun itu memutar, mengarah menuju dapur. Di dapur telah berkerumun beberapa orang sedang bercanda. Semua penghuni menunjukkan keramahan, berusaha saling membantu, termasuk memandu kekakuan kami sebagai orang/tamu baru. “ Mari Bapak-Ibu kita sarapan! Inilah sarapan a la Mekon, ” sambil membuka tutup makanan, menyodorkan pisang rebus.

Standar sarapan di Mekon, untuk yang dewasa adalah pisang rebus. Bagi yang suka kopi dan “bukan racun bagi dirinya” biasanya dengan kopi pahit. Tersedia juga gula pasir. Ketika baru pertama datang, saya minum kopi dengan gula sesuai kebiasaan saya, sambil menikmati pisang rebus. Namun, selanjutnya saya menyesuaikan, kopi tanpa gula, dan kini menjadi kebiasaan baru yang lebih sehat. Kami makin hari makin belajar dari para penghuni, bahwa kalau minum kopi sebaiknya dipilih kopi murni, dan hindari yang telah dicampur (jagung, susu, creamer, dan/atau gula).

Untuk pasien anak-anak, orangtua masing-masing harus memasakkan sendiri kebutuhan anak mereka, sesuai dengan kebiasaan makanan sehat mereka. Tentu, asal bukan “racun”. Ketika itu ada beberapa pasien anak autis dan beberapa orang dewasa yang sedang menjalani terapi berbagai penyakit. Satu hal, dari pergaulan dengan mereka, kami mulai menyadari bahwa kita semua saling belajar menerima orang lain apa pun keadaan mereka, dengan gembira.

Sekitar pukul 10:30 Opa Anton datang. Dengan candanya yang khas, Opa menyapa kami, “Selamat datang di Mekon”. Perlu dicatat, dimana pun Opa Anton berada, selalu bercanda ria, kami semua dibuat gembira.

Beliau menjelaskan konsep hidup sederhana yang mengalir mudah. Di Mekon tidak ada yang terbuang (zero waste). Kulit-kulit pisang ini langsung akan menjadi makanan sapi dan/atau babi, kotoran sapi akan masuk ke kantong biogas di dalam tanah; gas yang timbul untuk memasak di dapur.

Kotoran sapi yang sudah tanpa gas siap menjadi pupuk organik murni untuk memupuk seluruh tanaman sayur-mayur yang dikonsumsi seluruh penghuni, tidak ada sayuran dari luar, seratus persen organik. Gulma (berbagai jenis rumput dan ilalang yang tumbuh tanpa di tanam), setiap hari disiangi, dan dikumpulkan, dan menjadi makanan kesukaan sapi setelah dicuci.

Menjelang pukul 12:00 siang, makan siang sudah siap, disiapkan oleh tenaga- tenaga terampil yang juga dibantu oleh para tamu atau pasien yang memungkinkan. Standar makan siang juga sederhana, nasi merah, dua jenis sayur dari kebun, dan ikan goreng dari laut lepas, yang terkenal lezat dan murah di Kupang. Ikan-ikan dipilih yang kecil, digoreng kering, sehingga hampir tanpa ada sisa setelah makan usai.

Sambil tertawa Opa mengatakan,”Mengapa dipilih ikan kecil, karena ikan-ikan ini tangkapan nelayan kecil, sementara ikan-ikan besar sudah menjadi santapan nelayan besar dengan segala kapal canggih mereka”. Opa sendiri kami lihat tidak makan siang, karena hanya makan sekali sehari, yaitu makan malam.
Kami tercengang dengan semuanya ini. Bahkan setelah beberapa hari, ketika istri mulai akrab di dapur, mengetahui bahwa cara masak sayur setiap hari pun juga sangat sederhana, cukup bawang merah-putih dan garam Kupang yang terkenal murni bersih. Untuk makan malam, praktis sama dengan makan siang. Betapa sederhana arus kehidupan di Mekon, bersih, mudah, murah, dan tak bersampah.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply